Putri Surgaku Khaula

Putri Surgaku Khaula
Penikmat senja


__ADS_3

Pagi ini kami kembali berunding dan memutuskan untuk tidak melanjutkan penyelidikan kami. Bagiku sudah cukup aku melihat dan mendengar fakta yang ada. Kami putuskan lusa kembali kerumah,putrakupun harus segera kembali ke kosan nya.


"Ikut Mamah yu Nak." Aku mengajaknya ke suatu tempat.


"Kemana Mah?" Tanya Ammar.


"Ayo, ikut saja. Nanti kamu juga tau. Bersiaplah!" Perintahku padanya.


Aku berencana mengajaknya ke tempat yang Rindu tunjukkan kemarin, aku hanya ingin menikmati masa kebersamaan ku dengan putraku sebelum kami kembali melanjutkan rutinitas biasa di kota kami.


Disinilah kami berada sekarang, ditempat indah yang begitu alami. Angin, suara ombak, birunya lautan menyegarkan pandangan kami. Hembusan angin mampu memberi ketenangan pada jiwa kami. Kulihat senyum putraku mulai melebar, wajahnya terlihat sedikit menyegar tak semurung hari kemarin.


"Mah, tempat ini bagus sekali! Alami mah, udaranya, pemandangannya, suasananya, aku suka mah." Ucapnya senang.


"Mamah senang melihatmu sebahagia ini Nak, sudah lama kan kita tidak pergi jalan jalan berdua?" Tanyaku pada putraku.


"Berjanjilah Mah, apapun yang terjadi tetaplah mamah disampingku. Aku tak memiliki siapa siapa lagi disini. Aku hanya memiliki Mamah!" Ucapnya sambil memelukku dan mencurahkan segala kesal yang terpendam sejak kemarin.


"Iya, sudah jangan sedih. Katanya kamu bahagia, tapi masih saja menangis. Sana, Mamah tunggu kamu ditempat makan sebelah sana. Kamu mau berkeliling dulu? ayo, sebelum keburu sore. Ada yang bilang matahari terbenam jika dilihat dari sini begitu indah. Kita disini sampai selesai melihat matahari terbenam, setelah terbenam kita pulang ke hotel.


Putraku berlari dengan bahagianya. Dia sentuh pasir pantai, kakinya menyentuh ombak, dia berteriak melepas beban, mataku tak lepas darinya. Selalu kupandangi kemanapun dia melangkah.


Di sini, di pantai ini, aku ikhlaskan segalanya. Jika suamiku lebih nyaman berada di kota ini bersama istri barunya, maka akan ku lepaskan dia atas kesadaranku, atas keikhlasan hatiku. Apalagi yang bisa ku pertahankan? ketika pemilik hati sudah tak lagi menginginkan ku, maka aku tak ingin memaksakan. Aku tak ingin menjadi pengemis cinta, aku masih memiliki harga diri, aku masih memiliki putra yang harus ku jaga, ibu yang harus aku kunjungi, maka aku harus kuat!


Aku memesan es kelapa muda dan beberapa makanan khas kota ini, aku terpikir untuk membuka rumah makan lesehan yang dengan menu makanan makanan khas daerah. Harus kucoba satu demi satu agar aku tau rasanya.


Aku menanyakan nama satu persatu makanan yang ku cicipi. Disebelahku ada seorang wanita yang memesan buah alpukat, aku sedikit teringat padanya yang kini kucoba lupakan.


Kubawa nampan berisi banyak makanan untuk kembali ketempat ku tadi, akan kumakan berdua dengan Ammar. Beberapa pasang mata tertuju padaku. Ya, aku yang tak pernah lagi menggunakan daster batik panjang dan menguncir rambut seperti dulu. Aku selalu berpenampilan modis dimanapun aku berada kini.


Namun langkah kakiku terhenti ketika mendengar suara yang tak asing di kuping ku. Ku lirik ke sebelah kiri ku, ternyata kuping ku tak salah mengenali suara. Ya, itulah suara laki laki yang kini masih sah sebagai suamiku. Kulihat dia sedang asyik berbincang dengan wanita itu. Wanita yang mungkin tadi berada di sebelah ku karna masih ada buah alpukat ditangannya.

__ADS_1


Tak dapat ku elakkan hati ini memang sakit melihatnya, tapi aku tak ingin berlarut larut dalam kesedihan. Aku harus bangkit, bukankah aku sedang belajar untuk merelakan nya?


Dengan sengaja aku lewat dihadapan suamiku, sambil berpura pura sedang menelpon seseorang agar dia menoleh dan melihat ke arahku. Entah selama ini cintanya palsu atau tidak, namun satu hal yang pasti,dia pasti mengenali suara wanita yang telah bertahun tahun setia mendampinginya.


Aku tau pasti dia melihatku, karna aku mendengarnya tersedak dan seketika hening, tak seramai obrolan mereka berdua sebelum aku lewat. Aku tak peduli apapun yang dia pikirkan tentangku. Yang terpenting adalah dia tau aku ada disana!


Ada rasa perih yang menancap namun rasa semangatku melanjutkan hidup tak kalah besar. Tidak! aku tak ingin menjadi peratap nasib. Putri sulungku hidup dengan penuh semangat, tanpa mengeluh walau didera penyakit berat yang akhirnya merenggut hidupnya. Aku harus belajar dari Khaulaku.Belajar sekuat dan setegar dia,belajar untuk selalu bersikap baik,banyak berbagi dan ikhlas.


Aku lambaikan tangan untuk memanggil putraku mendekat lalu kusantap satu persatu makanan yang ada dinampan.


"Sini, coba makan ini. Enak loh." Ucapku.


"Mana mana, coba kucicipi Mah." Ucap Ammar.


"Enak kan? yang kamu makan tadi namanya Tiwul, yang ini jadah bakar." Aku menjelaskan nama nama makanan yang aku bawa.


"iya Mah, enak!" Ucapnya.


"Mamah pesan banyak makanan? tumben mah. Mamah ga takut gendut?" Dia bertanya padaku.


"Cuma sehari kok. Mamah ada rencana mau buat rumah makan dengan menu khas makanan daerah. Mamah ada sedikit tabungan. Ya, cukuplah untuk membangun sebuah rumah makan sederhana. Mamah harus mulai mandiri kan?" Aku menjelaskan niatku.


Mulutnya terus mengunyah, namun matanya mulai mengembun, mata indah remajaku yang sedang berusaha kuat menahan agar tak terlihat sedih di hadapanku.


"Bagaimana kegiatanmu di kampus? ada hambatan?" Tanyaku.


"Lancar Mah, hambatan pasti sudah kuterjang jika ada." Jawabnya sambil tertawa.


"Adakah yang menarik perhatianmu?" Tanyaku lagi.


"Apa Mah?" seolah dia pura-pura tak mengerti maksud pertanyaan ku.

__ADS_1


"Adakah calon dokter cantik yang kau sukai disana?" Aku perjelas arah pertanyaan ku.


"Ah Mamah." Jawabnya malu.


Wajahnya memerah dan menunduk. Bungsuku selalu begitu ketika malu. Tak pernah aku mendengar dia mendekati wanita yang ada, beberapa teman wanitanya selalu main kerumah semasa di SMA yang aku tau maksud teman wanitanya mengerjakan tugas dirumah adalah karna dia menyukai Ammarku. Aku hanya tersenyum dari kejauhan melihat tingkah anak itu. Masa masa remaja yang berjalan begitu natural sesuai naluri keremajaannya.


"Besok kita pulang, kamu mau temani Mamah ke satu tempat lagi?" Tanyaku pada Ammar.


"Ayo Mah!" Jawabnya semangat.


Kami habiskan seluruh makanan yang kami pesan. Kami beristirahat disini karna kekenyangan. Ini sudah menjelang sore,matahari akan mulai tenggelam. Kusiapkan kamera untuk mengabadikan momen ini. Aku memotret indahnya alam saat ini, kuambil gambar sekitar dan tak lupa aku berfoto berdua bersama putraku.


Kami begitu menikmati hari ini, segala keindahan alam dan kejadian yang terjadi hari ini. Kamipun pulang ke hotel dan segera beristirahat. Rencanaku, besok akan kubawa putraku menemui Rindu. Entah mengapa aku begitu tertarik padanya. Kehidupan sederhananya, wajah tulusnya, hatinya yang penuh keikhlasan walau dia dalam kesusahan. Seakan aku melihat sulungku Khaula dalam dirinya.


Akupun mengambil banyak pelajaran dari kisah hidupnya, aku belajar mengikhlaskan sesuatu dan mencoba untuk terus berjuang melanjutkan hidup dan memberikan yang terbaik untuk orang orang yang aku cintai.


Tiba tiba aku merindukan ibu. Kuambil ponsel untuk menghubungi nomor ibu.Tapi tunggu, apa ini? ada panggilan tak terjawab dari nomor yang tak ku kenal tak tertera nama di layar ponselku. Sudahlah, jika memang penting dia akan kembali menghubungi ku.


"Halo Bu, Ibu apa kabar?" Tanyaku pada ibu.


"Humaira? alhamdulillah baik, Ibu sehat. Bagaimana denganmu? dimana cucu tampan Ibu?" Ibu menanyakan Ammar.


"Ada Bu, mungkin sekarang dia sudah tidur. Ibu belum tidur? ini sudah hampir larut malam kan?" Tanyaku cemas.


"Kamu belum tidur karma merindukan Ibu kan? ibu juga sama, sejak kemarin Ibu begitu merindukanmu." Ibuku menangis disana, kudengar suaranya yang sedikit gemetar menahan rindu yang belum tersampaikan.


"Jangan menangis Bu, aku akan mengusahakan secepatnya menemui Ibu." Ucapku.


"Setidaknya Ibu sudah mendengar suara dan kabarmu. Jaga dirimu baik baik disana Nak. Salam untuk menantu dan cucu Ibu." Ucap Ibu.


"Iya Bu, Ibu juga jaga kesehatan jangan terlalu capek. Ibu langsung istirahat ya." Ucapku.

__ADS_1


Aku tutup telpon lalu merebahkan tubuh dan beristirahat. Hari ini begitu indah, senja itu takkan pernah kulupa.


__ADS_2