Putri Surgaku Khaula

Putri Surgaku Khaula
Perpisahan sementara


__ADS_3

Pukul 07.15 suamiku sudah bersiap untuk berangkat.


"Papah tidak libur hari ini?" Tanya Khaula.


"Tidak Sayang, Papah ada janji hari ini." Jawab suamiku.


"Tidak bisakah Papah membatalkan dan bermain bersamaku hari ini?" Bujuk putri kami.


Apa ini? tidak biasanya putriku seperti ini. Dia selalu menepati janji, bagaimana mungkin sekarang dia memintaku membatalkan janji? ah mungkin karna dia masih merindukan kebersamaan setelah berhari hari dirumah sakit.


"Baiklah, demi Putri kesayangan Papah akan Papah batalkan janji hari ini." Ucap suamiku.


"Terimakasih Pah, maafkan aku." Ucap Khaula.


"Tidak masalah. Khaula ingin pergi ke suatu tempat?" Tanya sang Papah.

__ADS_1


"Tidak Pah dirumah saja. Bersama Papah, Mamah, Adik. Nenek dan Kakek sudah Mamah telpon, mereka sedang dalam perjalanan Pah." Ucap putriku.


Rupanya putriku merindukan kebersamaan. Baiklah nak apapun yang kau inginkan lakukanlah. Melihatmu sehat pun aku sudah teramat bahagia.


Kami semua sudah berkumpul diruang keluarga, Khaulaku mengajak kami bermain ular tangga. Tiada diantara kami yang sanggup menolaknya, kami semua berkumpul di sini pun memang untuknya.


Wajahnya terlihat begitu ceria, tertawa lepas bersama adik, papah, kakek dan neneknya. Ingin sekali aku ikut tertawa selepas tertawa mereka, tapi entah mengapa aku tak mampu. Ada rasa tak nyaman yang tak mampu aku artikan.


Hari ini begitu melelahkan. Kami semua tidur lebih awal. Harapanku, semoga hari esok dan seterusnya bisa seceria hari ini. Kami tidur berempat dikamar, walau sempit tapi aku bahagia bisa tidur bersama orang orang yang aku cintai.


Ketika aku membuka mata, aku melihat sulungku sedang memeluk adik kesayangannya. Aku masih tenggelam dalam haru.Ku bangun kan dia untuk shalat subuh, namun betapa terkejutnya aku melihat darah yang keluar dari hidung dan kuping putriku. Kulihat wajahnya pucat pasi dan ketika ku pegang pipinya begitu dingin.


Teriakanku membangunkan semua orang, mereka lari masuk kedalam kamar tanpa mengetuk. Aku angkat tubuh mungil putriku, aku taruh di pangkuanku. Aku menangis kencang, dengan segera suamiku mengecek denyut nadi putri kami.


Suamiku menatapku dengan tatapan yang sangat tak kuharapkan. Tatapan dengan wajah sendu seakan mengabarkan ada duka baru yang akan kami terima.

__ADS_1


"Khaula sudah meninggal mah." Ucap suamiku mengejutkan kami semua.


Sontak kami semua memeluk tubuh Khaula, menangisi kepergiannya. Hanya adik kesayangannyalah yang masih tengok kanan kiri menandakan bahwa dia tak memahami apa yang sebenarnya terjadi, mengapa orang orang menangis dan mengapa kakak kesayangannya tak kunjung bangun ketika suasana rumah seberisik ini.


"Kakak, bangun! Pindah yu ke kamar Kakak, disini berisik sekali, aku tak bisa tidur kak. Temani aku tidur kak aku masih mengantuk." Ucapnya dengan polos sambil menguap.


Semua orang terisak mendengar kalimat yang bungsuku katakan. Bagaimana aku akan menjelaskannya? harus ku mulai darimana? aku dirunjung duka dan juga kebingungan.


Kini kami paham,maksud dari sikapnya dua hari terakhir ini. Ternyata dia ingin menghabiskan sisa waktunya dengan orang orang yang dia cintai terutama adiknya. Adik yang membuat semangat hidupnya kembali ketika koma, adik yang selalu ia jaga dengan baik,adik yang dia peluk ketika ajal menjemputnya.


Selamat tinggal shalihahku, aku yakin disana kau akan jauh lebih merasa nyaman dan akan melihat kami dari kejauhan. Seperti yang kau katakan hari itu dirumah nenek, kau akan melihat kami dari kejauhan. Gambar itu masih terpajang di dinding ruang keluarga kita,akan kusempatkan melukis dirimu dan kupajang disamping gambar hasil karya terindahmu.


Aku lega, karna sebelum kau pergi telah kutepati janjiku padamu. Janji akan membanjirimu dengan kasih sayang mamah dan papah. Terimakasih, karnamu lah mamah berusaha merebut hati papah hingga kami hidup bahagia dengan cinta.


Selamat jalan Khaulaku, putri kesayanganku. Kuharap suatu saat nanti aku bisa kembali memelukmu, walau bukan lagi di alam dunia.Kami semua menyayangimu, pergilah dengan tenang. Kami akan berusaha mengikhlaskan kepergianmu.

__ADS_1


__ADS_2