
"Cala, aku masih mencintai kamu..." racau Agam, yang membuat Cala berbangga diri karena itu tandanya apa yang dikatakan oleh Tari memang benar, ia bisa menguasai Agam, dan setelah ia menikah dengan Agam maka dia bisa duduk dengan santai dan semua yang dia butuhkan akan dipenuhi oleh Agam.
Bayangan Cala pun sudah terbang dengan kehidupannya yang mewah dengan menikah dengan Agam. Apalagi laki-laki yang ada di hadapannya saat ini dan sudah setengah tidak sadar juga sebagai pemilik perusahaan cukup besar.
"Iya Agam aku tahu, dan jujur aku juga masih mencintai kamu. Jadi ayo kita pulang jangan di sini lagi," balas Cala dengan mengusap wajah Agam, dan menatapnya dengan penuh sayang.
Dari mata Agam sudah bisa terlihat kalau laki-laki itu sangat bahagia mendengar ucapan Cala, yang mengatakan bahwa dirinya juga masih mencintai Agam.
"Cala, aku baru saja cerai dengan Livy, dia menikah dengan aku hanya ingin harta-hartaku saja," racau Agam kembali, yang membuat Livy semakin bahagia, karena tandanya Agam akan sangat bahagia dengan ucapannya.
"Kita pulang yah, membahas Livy nanti lagi sekarang kamu butuh istirahat, agar proses perceraian kalian berjalan dengan lancar."
Benar saja Agam yang sudah setengah mabuk pun dengan mudahnya nurut dengan ucapan Cala, dan sesuai yang Tari rencanakan. Cala bukanya membawa ke rumah Agam justru membawa ke apartemennya. Yah, malam ini akan digunakan oleh Cala untuk menjebak Agam agar dia tidak bisa lepas dari dirinya, dan membuat Agam menikahi dirinya dan Cala akan mendapatkan harta yang banyak.
Tanpa Cala dan Agam ketahui Tari pun mengabadikan setiap momen antara Agam dan Cala, bahkan Agam masuk ke apartemen Cala pun tidak lepas dari bidikan kamera Tari.
*****
__ADS_1
Di tempat lain.
Mentari pagi menyinari dengan ceria, bersama semilir angin yang menyejukkan, di balik jendela Livy berdiam diri menatap langit yang berwarna biru, bersama dengan pahitnya kenangan. Dahulu Livy sangat menyayangi Agam dengan segenap perhatiannya yang dia berikan berharap agar Agam membalasnya dan menjadikan dia wanita paling beruntung dengan dipersunting Agam Luxe Syamuel, tetapi nyatanya sekarang relung kalbunya hanya ada rasa sakit.
Setelah cukup lama wanita beranak satu itu berdiri di samping jendela, dengan menatap sang mentari yang sangat cantik. Kini pandangan Livy dialihkan pada sang putri. Yang tidak tahu apa-apa. Senyum terkembang Livy ketika melihat sang buah hati bangun dan menatap Livy dengan tatapan yang bingung.
"Nda... " Suara anak kecil yang usianya baru satu tahun. Yah Livy paham betul putrinya bingung kenapa bukan di kamar biasa dia tidur. Livy pun mengayunkan kakinya untuk menghampiri sang putri.
"Kita sekarang tinggal di sini yah, tidak di rumah Papah lagi dan Oliv sekarang bobo dan mainnya sama Bunda, tidak sama Papah lagi," ucap Livy dengan merangkul sang putri, meskipun usia Oliv baru satu tahun, tetapi Livy sangat yakin kalau Oliv bisa mengerti dengan apa yang Livy katakan. Yah sekarang mungkin Oliv akan bingung karena tidak tinggal di rumah yang selama ini ia tempati, lagi pula kalau soal Agam, sudah sejak papah mertuanya meninggal dunia, Oliv semakin jarang bertemu dengan sang papah sehingga Oliv sepertinya akan biasa tanpa hadirnya sang papah. Bocah kecil itu sudah terbiasa main, dan melakukan aktifitas apapun hanya bersama dengan sang ibu.
"Oliv sekarang mandi yah, nanti ikut Bunda kerja, apa Oliv mau?" tanya Livy dengan suara lembutnya. Oliv pun yang belum begitu paham akan arti bekerja nampak senang.
Yah, semalam Livy sudah membahas perihal ini semua. Livy sudah meminta keringanan pada Om Jax kalau dirinya akan tetap membawa Oliv bekerja. Livy pastikan kalau sang putri tidak akan rewel. Mengingat kalau ditinggal Oliv tidak akan mau dengan orang lain.
Yah, itu semua karena Oliv sejak bayi selalu Livy yang mengasuhnya sehingga kini Livy pun yakin kalau dia bisa menjaga sekaligus bekerja di kantor cabang perusahaan papih mertuanya yang dipegang sepenuhnya oleh Om Jax. Meskipun Oliv baru berusia empat belas bulan, tetapi bayi itu seolah tahu dan mengerti kalau dia harus belajar hidup keras sehingga anak kecil itu sudah lancar berjalan, dan juga untuk bicara sudah banyak kosa kata yang bisa dia mengerti.
Itulah yang jadi pertimbangan Om Jaxtion untuk membiarkan Livy bekerja dengan membawa anak, toh ruangan Livy nantinya juga akan bergabung dengan ruangan Om Jaxtion sehingga tidak akan mengganggu karyawan lain kalau Oliv menangis.
__ADS_1
"Pagi Oliv cantik, udah mau ikut Bunda kerja yah?" tanya Maria, istri dari Jaxtion.
"Iya Oma, Oliv mau kerja dulu ikut Bunda," balas Livy yang menirukan suara anak bayi.
"Padahal kalau kamu izinkan Oliv bisa sama Tante, Vy. Kasihan kalau harus dibawa kerja mengingat kamu nanti cape dan tidak konsentrasi," balas Mario melihat tidak tega membiarkan Oliv ikut bekerja dengan sang bundanya.
"Inginnya Livy juga kaya gitu Tante, tapi mau bagaimana Oliv pasti tidak mau, belum juga dia masih ASI, sehingga pasti akan lebih rewel kalau Livy titipkan pada Tante," balas Livy dengan yakin.
"Oh iya Oliv masih Asi yah. Kalau gitu pesan Tante kamu harus extra sabar, karena bisa saja Oliv bosen nanti malah rewel." Nasihat Maria, dan Livy pun hanya membalas dengan anggukan yang kuat. Setelah sarapan dan pamitan kini Livy dan Oliv pun sudah berada di dalam mobil Om Jax, mereka berangkat kerja bersama-sama.
Mata Livy langsung berkaca-kaca ketika di sela-sela perjalananya ke kantor untuk memulai bekerja secara formal untuk yang pertama kalinya. Emosi Livy langsung naik, ketika ia membuka ponselnya disuguhkan foto-foto mantan suaminya dengan Cala dengan mesra, apalagi Cala dan Agam masuk ke kamar apartemen yang sama. Fikiran Livy pun sudah semakin buruk. Ngapain lagi laki-laki dan perempuan masuk ke dalam kamar yang sama, nggak mungkin main congklak, paling main lato-lato.
Sekuat apapun Livy bersabar nyatanya dalam hatinya emosi sudah menguasainya. Belum dua puluh empat jam ia pergi dari rumahnya Agam juga langsung membuat dia marah dan kesal.
Bersambung....
...****************...
__ADS_1