Rahasia Kebaikan Ibu Mertua

Rahasia Kebaikan Ibu Mertua
Penyesalan Yang Terus Menggerogoti Hati


__ADS_3

"Katakan Livy, aku harus bagaimana, agar aku bisa dimaafkan oleh kamu? Katakan aku harus berbuat apa agar bisa membahagiakan kamu?" tanya Agam dengan tatapan yang serius.


Sedangkan Livy sendiri masih terlihat cukup tenang dengan apa yang Agam katakan, wanita itu sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan Agam.


"Mas cukup jadi diri sendiri, jalani apa yang seharusnya menjadi kewajiban Mas, dan soal maaf, Livy sudah maafkan Mas, dan Livy juga tidak akan menghalangi Mas kalau mau bertemu dengan Oliv, tetapi untuk kembali mengarungi baterah rumah tangga untuk saat ini Livy belum siap, Livy masih ingin fokus untuk bahagia Livy sendiri dan Oliv. Masalah jodoh serahkan pada Tuhan, kalau memang kita masih ada jodoh pasti kita akan di mudahkan jalannya untuk memperbaiki semuanya di kemudian hari, tapi untuk saat ini Livy hanya ingin istirahat dan ingin bekerja dan membahagiakan Oliv." Livy berbicara dengan sangat tenang.


Mungkin bagi Agam, yang tidak berada di posisi Livy akan merasa kalau dia tidak begitu bersalah, tetapi tidak Livy selama dua tahun itu sangat tersisa, dengan perbuatan Tari, bekerja siang dan malam kalau Agam dan almarhum papi mertuanya belum pulang dia terus mengerjakan ini dan itu, tidak perduli punya anak sedang hamil atau tidak. Tari akan terus meminta Livy mengerjakan pekerjaan rumah yang seharusnya dikerjakan oleh asisten rumah tangga, dan ketika mengadu ke suami malah dia yang di salahkan rasanya hatinya seperti mati rasa sejak saat itu dan saat ini juga Livy belum tergerak hatinya untuk mencintai Agam lagi. hubungannya dengan agam adalah hanya sebatas ayah dari anaknya.


"Kalau gitu izinkan aku membelikan rumah yang layak untuk kalian," ucap Agam, laki-laki itu mencoba mengikuti apa yang Livy inginkan dan akan mengikuti apa nasihat Om Jax. Dia sudah kehilangan Livy jangan sampai sifat keras kepalanya justru menghilangkan dia dari simpati Oliv, saat ini dia harus fokus untuk menjadi ayah yah baik untuk Oliv.


Kembali Livy menghirup nafas dalam dan mencoba tetap tenang. "Mohon maaf banget Mas, rumah ini sangat layak untuk aku dan juga Oliv. Jujur bukan hanya kamu yang mencoba untuk memberikan rumah yang lebih besar dari ini, Om Jax dan istrinya juga sebelumnya menyarankan agar kami tinggal di rumah yang setidaknya lebih luas dari kontrakan kita saat ini, tapi saya akan jelaskan dengan pemikiran versi saya. Saya bukan tanpa alasan memilih tempat tinggal yang kecil seperti ini, alasannya agar tetap bisa mengontrol Oliv yang sedang senangĀ  bermain, kalau rumah luas saya akan sangat kerepotan untuk mengawasinya. Saya harus menghemat tenaga agar jangan sampai sakit, dan mudah-mudahan Mas mengerti apa yang saya maksud, dan jangan memaksakan cara berpikir Mas dengan saya karena sudah pasti tidak akan menemukan titik temu," ucap Livy lagi-lagi ia menjelaskan seperti apa yang dia jelaskan pada Om Jax.


"Kalau gitu apa kamu mengizinkan aku untuk bertemu dengan Oliv?" tanya Agam lagi, padahal entah berapa kali Livy mengatakan kalau dirinya tidak akan menghalangi Agam apabila ingin bertemu dengan Oliv.


"Mas adalah papahnya Oliv, sampai kapan pun akan tetap menjadi papahnya, dan dari awal Livy bilang kalau saya tidak akan membatasi pertemuan kalian, kapan pun Mas mau bertemu Oliv silahkan dan selagi tidak mengganggu Oliv saya tidak akan melarang," balas Livy lagi, dan berharap di penjelasan kali ini Agam akan paham kalau Livy tidak akan egois.

__ADS_1


"Nda... mam..." rengek Oliv dengan menunjuk telor yang ada meja makan, memang sejak tadi Oliv bermain kesana kemari dengan membawa mainan masak-masakan.


"Oliv lapar?" tanya Livy lagi, wanita itu pun mengajarkan banyak kosa kata pada Oliv yang sedang belajar berbicara, sehingga tidak heran ketika usianya masih satu tahun setengah tetapi Oliv sudah cukup bawel.


"Apel...apel..." Oliv mengikuti ucapan Livy dengan memegang perutnya seolah menggambarkan lapar.


"Kalau gitu Oliv duduk manis, biar Bunda ambilkan nasi dan telor, Oliv mau makan pakai telor apa ikan?" tanya Livy sembari mengambil sayur bayam yang baru dia masak tadi.


"Lol.. Lol ... itan..." anak kecil itu nampak sangat senang ketika Livy membawa piring makanya dan mangkok sayur semuanya serba warna pink.


Namun, melihat Livy yang selalu sabar untuk mengurus anak mereka. Agam lagi-lagi sesak, dia harus benar-benar belajar jadi laki-laki yang baik baru dia pantas untuk meminta balik dengan Livy.


"Papah nggak di ajak makan?" tanya Livy pada Oliv yang duduk dengan tidak sabar ketika Livy membuat bulatan-bulatan bola dari nasi dan telor yang diaduk. Seolah Oliv sedang makan bola. anak itu memang sangat suka dengan bola sehingga makan nasi pun di bentuk bola-bola kecil seperti kelereng.


Oliv akan sangat pintar makan sendiri kalau nasinya dibikin lucu-lucu oleh Livy.

__ADS_1



"Papah mam..."Livy mengajarkan Oliv untuk menawari makan. Agar nanti ketika besar memiliki sopan santun.


"Pah... mam...." Oliv pun mengikuti ucapan sang bunda, meskipun pastinya Livy tidak akan membiarkan Agam makan di rumahnya hanya sopan santun saja.


"Iya Sayang, Oliv saja yang makan... Makanya yang pintar yah, Nak." Agam pun sangat senang ketika meliht Oliv lahap makan sendiri dengan mengambil butiran nasi dengan telor yang sudah di bentuk bola-bola kecil sesekali Livy menyuapi sayur dengan sendok dan Oliv yang makan nasi.


Hati Agam sangat damai ketika melihat pemandangan seperti ini. Kenapa dia baru sadar bahwa sebahagia ini melihat anak dan istri, ketika mereka berdua sudah sepakat untuk berpisah.


"Ya Tuhan apakan aku tidak pantas untuk memperbaiki ini semua?"


Bersambung....


...****************...

__ADS_1


__ADS_2