Rahasia Kebaikan Ibu Mertua

Rahasia Kebaikan Ibu Mertua
Akhir Kebahagiaan


__ADS_3

"Kejutan...."


Livy dan Oliv terharu, setelah satu bulan tinggal di kontrakan Livy, tetapi atas bujukan Agam akhirnya Livy pun memutuskan untuk pindah ke rumah baru Agam yang tentu jauh lebih luas dari rumah kontrakan Livy. Agam memang sengaja tidak  mau tinggal di rumah peninggalan papahnya karena Livy yang tetap tidak mau untuk tinggal di sana.


"Mas kenapa sampai kaya gini?" tanya Livy dengan  mata yang berbinar bahagia dengan kejutan yang diberikan Agam. Selama satu bulan ini Agam benar-benar menunjukan perubahanya. Ia benar-benar menjadi suami yang baik dan romatis. Ia juga tidak segan-segan ikut menjaga Oliv, meskipun baru pulang kerja. Tidak hanya itu Agam juga sering memberikan bunga sebagai tanda cintanya. Pokoknya Agam yang sekarang sangat jauh berbeda dengan Agam yang dulu bahkan laki-laki itu benar-benar tidak membiarkan Kimi cape mengurus Oliv dan rumah seorang diri.


"Tidak apa-apa ini semua untuk kamu dan Oliv." Agam memeluk Livy yang sudah mulai berkaca-kaca saking bahagianya, Ia juga terus memperhatikan Oliv yang nampak sangat bahagia dengan banyaknya balon-balon warna warni dan banyak permainan yang tentunya mahal dan bagus-bagus.


"Oliv, apa Oliv senang Sayang?" tanya Agam yang melihat Oliv seperti tidak takut lagi.


Oliv menatap Agam dan Livy yang sedang berpelukan. "Oliv suka Papah, lumahnya bagus. Telima kasih Papah. Bunda."


Oliv langsung memeluk Agam dan Livy bergantian.


"Terima kasih Papah, Bunda sangat senang dengan kadonya." Livy pun tidak mau kalah dengan sang anak. Ia memeluk dengan erat suaminya.


"Sama-sama sayangnya Papah." Agam memeluk Livy dan Oliv secara bersamaan.


"Kalau gitu naik yuk ke kamar Oliv dan kamar kita pasti Oliv akan suka." Agam menggendong tubuh Oliv, dan tanganya menggenggam erat tangan Livy seolah ia takut kalau Livy akan hilang.

__ADS_1


"Waw... ini bagus sekali." Oliv tidak ada henti-hentinya kagum dengan apa yang ada di hadapanya. Kamar dengan warna merah muda dan ada gambar tokoh kartun kesukaanya. Tidak hanya di ruangan keluarga yang banyak balon dan mainan serta boneka. Di kamar Oliv pun banyak balon warna warni dan juga banyak boneka dan kamar yang luas dengan banyak mainan baru.


"Papah telima kasih ...." Oliv pun kembali memeluk paapahnya dan kali ini terisak saking bahagianya. Selama ia kecil baru kali ini ia benar-benar merasa kalau papahnya sangat menyayanginya.


"Oliv suka?" tanya Agam sekali lagi tanganya mengatup di wajah anak kecil itu.


"Suka Pah." Air matanya jatuh saking bahagianya.


"Kalau gitu nanti malam Oliv mau bobo di sini atau dengan Bunda dan Papah?" tanya Agam sekarang usia Oliv sudah dua tahun yang artinya ia seharusnya sudah bisa tidur sendiri.


Cukup lama Oliv berpikir dengan menatap Agam dan bergantin dengan Livy.


"Kok sama Bunda, kan Bunda bobonya sama Papah dong Nak."


"Papah kan sudah besal. Bobonya sendili dong. Oliv kan masih kecil jadi di temanin Bunda." Oliv memang pandai dia bisa memberikan jawaban yang membuat Agam tidak bisa berkutik. Sedangkan Livy di balik punggung Agam hanya bisa mengulas senyum dengan jawaban sang putri.


"Yah, jadi Papah bobo sendirian? Katanya Oliv pengin dede bayi, kalau nanti Papah bobohnya sendirian dede bayinya nggak jadi-jadi dong."


Mendengar jawaban Agam, Oliv pun nampak berpikir kembali.

__ADS_1


"E... Ya udah Papah boleh bobo sama Bunda, tapi nanti kasih adiknya dua yah," ucap anak itu dengan polosnya. Agam dan Livy yang mendengar ucapan Oliv pun langsung saling pandang.


"Sayang, kenapa mau adeknya dua, satu aja gimana?" tawar Livy.


"Tidak mau maunya dua bial nanti Oliv banyak temanya."


"Ok, kalau gitu nanti Papah bikin dua."


"Mas ...." Livy langsung melebarkan kedua bola matanya dengan memberikan tatapan membunuh pada Agam.


"Tidak apa-apa Sayang, Mas sanggup kok bikin dua lagi bahkan lebih."


"Iya Mas sanggup tapi Livy yang cape. Pokoknya dua anak lebih baik, kita ikuti program pemerintah dua anak cukup," balas Livy dengan yakin, dia bukan tidak ingin memiliki anak banyak, tetapi Livy ingin benar-benar mengurus anaknya dengan tangan sendiri, kalau banyak anak ia takut tidak bisa sepenuhnya memberikan kasih sayang yang adil.


"Ya udah kalau gitu, kita dua anak saja, itu juga sudah terima kasih sekali karena kamu telah memberikan kesempatan pada Mas untuk memperbaiki rumah tangga kita." Agam memeluk Livy dan Oliv dengan mesra.


"Sama-sama Livy juga terima kasih karena Mas sudah berubah untuk Oliv dan Livy." Livy mencium pipi suaminya dengan malu-malu.


TAMAT

__ADS_1


__ADS_2