
Di tempat yang berbeda dengan Agam dan juga keluarga kecilnya.
"Pak lepaskan saya, kami tidak bersalah." Wanita paruh baya yang penampilanya sudah acak-acakan pun terus meronta ingin di bebaskan dengan dalil ia tidak bersalah.
"Semua penjahat memang selalu bicara seperti itu, tidak pernah mengakui kesalahanya. Tetap tahan dia Pak, mereka sudah hampir membunuh cucu saya." Jaxtion yang baru datang pun sangat kesal melihat wajah Tari.
Tari yang melihat kalau mantan orang kepercayaan almarhum suaminya dulu ikut campur dalam masalahnya pun memberikan tatapan penuh dengan kebencian.
"Tutup mulutmu Jax, kamu tidak tahu apa yang terjadi antara aku dan Livy sehingga aku terpaksa melakukan ini." Tari langsung menggunakan jurus pembelaan.
"Yah seorang pembunuh pun selalu membela kalau dirinya adalah korban, bahkan seorang korup'tor juga selalu mengatakan kalau dia mengamankan uang negara."
"Kamu memang jahat, bahkan aku tidak mendapatkan harta bosmu sedikit pun."
"Bukan kamu tidak dapat. Tetapi kamu yang terlalu rakus, kamu terlalu rakus untuk menginginkan uang yang lebih sehingga kamu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan lebih dari yang Tuan saya berikan. Andai kamu sabar menunggu pembagian warisan, pasti sekarang kamu bisa hidup tenang dari uang warisan yang diberikan oleh almarhum suami Anda, tetapi memang orang rakus itu tempatnya di dalam penjara. Pak beri hukuman yang seberat-beratnya untuk wanita ini dan juga ke dua anaknya. Saya khawatir kalau mereka bebas akan melakukan upaya pembunuhan lagi pada anak dan cucu saya."
"Baik Tuan, Anda tidak usah khawatir, semuanya akan kami lakukan sesuai dengan hukum yang berlaku."
"Jangan macam-macam kamu Jax, kamu tidak ada kuasa apa pun untuk mem-penjarakan aku. Kamu hanya orang luar yang tengah berusaha mengambil harta-harta almarhum suami ku," racau Tari dengan tatapan yang tajam menatap Jaxtion.
"Kalau saya mau, sudah saya lakukan sejak suami Anda masih hidup, tetapi saya tidak melakukanya karena bukan harta yang saya inginkan, saya sudah cukup hidup dengan gajih dari suami Anda."
"Bohong!! Yang kamu lakukan karena terlalu halus saja, nyatanya kamu dan aku adalah orang yang sama-sama rakus."
Jaxtion yang mendengar ucapan Tari pun hanya mengembangkan senyum sinisnya. "Tidak semua orang gila harta Tari, saya sudah bahagia dengan harta yang saya miliki jadi kenapa harus mengambil yang bukan milik saya."
Tanpa menunggu lama Jaxtion pun meninggalkan kantor polisi setelah menyelesaikan laporan untuk Tari dan kedua anaknya. Kini Tari tinggal menunggu keputusan pengadilan sampai berapa tahun ia akan menanggung akibat dari yang mereka perbuat.
__ADS_1
Di tempat lain, tepatnya masih satu rumah sakit dengan Livy dan Oliv dirawat.
"Dok, ampun dok sakit Dok..." Seorang laki-lakiĀ dengan luka tembak tengah dilakukan petolongan tanpa obat anastesi.
Jahat? Yah, itu yang diminta Agam pada tim medis agar adik tirinya kapok dan bertaubat karena hampir saja menghilangkan anak kandungnya, bahkan sekarang Oliv mengalami trauma yang sangat hebat, apa yang Agam lakukan tidak sebading dengan yang Oliv rasakan.
"Apa itu sakit Gav?" tanya Agam dari samping ranjang Gava yang tengah meronta kesakitan.
"Bang tolong Bang, ini sakit sekali." Gava menunjukan wajah memelasnya.
"Itu tidak seberapa dari yang Oliv rasakan, lagian aku tegaskan sama kamu sekali lagi, aku bukan abang kamu. Kamu hanya orang luar yang kebetulan dikasih kesempatan hidup enak oleh papahku, jadi jangan besar kepala." Tanpa mendengar balasan dari Gava, Agam langsung meninggalkan ruangan itu, hatinya masih marah apabila melihat tiga orang yang sangat buas itu.
*****
"Papah..." Suara maja Oliv langsung membuat hati Agam berdesir hebat, bahagia dan sedih campur dari satu.
"Udah, Papah dali mana?" tanya Oliv dengan suara seraknya.
"Papah habis beli makan, Oliv mau?" tanya Agam dengan mengangkat bungkusan makanan yang jumlahnya banyak ada buah juga, dan aneka makanan ringan yang mungkin Oliv mau.
"Oliv mau..." Tunjuk Oliv.
"Oliv makanya bubur yah Sayang takut sakit perut karena dua hari nggak makan," bujuk Livy, tetapi Oliv malah merengek dan menggelengkan kepalanya yang tandanya ia tidak mau makan bubur.
"Kalau gitu nanti Mas tanya dokter dulu, boleh nggak makan nasi sama seperti kamu."
Agam pun langsung meninggalkan anak dan istrinya untuk bertanya pada dokter boleh apa tidak Oliv makan dengan nasi bukan bubur.
__ADS_1
Tidak lama Agam pun kembali dengan mengulas senyum bahagia.
"Gimana?" tanya Livy.
"Boleh kok."
"Yeh...." Pliv tampak sangat bahagia. Karena boleh makan yang papahnya beli.
"Kalau gitu biar Papah yang suapi Oliv yah." Agam mengambil nasi yang barusan ia beli dengan ayam dan bebek bakar.
"Bunda juga disuapi Papah?" tanya Oliv dengan gemas.
Agam dan Livy pun saling tatap.
"Bunda nanti..."
"Iya dong, Bunda juga Papah yang suapi." Agam memotong ucapan Livy.
"Mas..."
"Izinkan aku perbaiki semua yang pernah aku lakukan..." Lagi-lagi Agam memotong ucapan Livy. Mau tidak mau Livy pun makan dengan disuapi oleh Agam.
Oliv pun tampak bahagia melihat Papah dan Bundanya akur.
Bersambung....
...****************...
__ADS_1