
"Bu-Nda... Nda- Bu-Nda..." Suara lemah terdengar dari Oliv. Livy yang memang di rawat satu kamar dan satu tempat tidur pun langsung mengusap rambut Oliv. Begitupun dengan Agam, langsung berdiri di samping ranjang dengan mengusap punggung tangan lemah putrinya.
"Sayang, Oliv ini Bunda, Sayang..." Tangan Livy terus mengusap wajah Oliv dengan membisikan namanya.
"Bangun Nak..." Agam pun terus mencoba berbisik agar Oliv bangun.
Perlahan kelopak mata Oliv pun bergerak-gerak.
"Oliv... ini Bunda, Oliv bangun yah...."
"Nda...." Oliv seperti mendengar suara Livy tetapi kedua bola matanya seperti sulit dibuka.
"Iya Nak... ini Bunda. Bunda ada di samping Oliv..."
Suara tangis pun langsung terdengar ketika kedua bola mata Oliv terbuka.
"Hush... jangan nangis Sayang, Bunda ada di sini." Livy memeluk putrinya yang terlihat seperti ketakutan. Livy memangku putrinya dan memeluk dengan lembut sedangkan Agam memegang tangan Oliv agar tidak berdarah dari selang infusnya.
"Bunda ada di sini. Oliv nggak perlu takut lagi yah." Suara parau terdengar dari Livy. Agam pun mengusap pucuk kepala sang istri, agar tidak menangis, sejujurnya Agam sendiri juga berat ketika menyaksikan seperti ini, marah, kesal dan ia berjanji tidak akan membiarkan Tari dan kedua anaknya bebas dengan tenang. Kalau perlu selamanya membusuk di dalam penjara.
"Takut Bun..." Suara serak terdengar dari Oliv yang masih dalam pelukan Livy.
"Oliv tidak boleh takut. Oliv udah sama Bunda dan Papah. Tidak ada yang akan tinggalin Oliv..." Tangan Livy terus mengusap rambut Oliv, memberikan ketenangan agar Oliv tidak ketakutan lagi.
Yah, itu adalah saran dokter agar Oliv jangan ditinggalkan sendirian karena pasti anak usia belum genap dua tahun itu melewati kejadian yang menakutkan sendirian. Jangankan anak sekecil Oliv dikurung sendirian di dalam kamar. Orang dewasa pun akan merasakan trauma. Apalagi sekecil Oliv, pasti sangat ketakutan dan trauma.
__ADS_1
"Takut..." Hanya kata-kata takut yang sejak tadi ke luar dari bibir mungkil Oliv dengan tangan yang memeluk Livy dengan kuat.
"Apa kita harus panggil dokter?" tanya Agam yang bingung karena Oliv tidak mau turun dari pelukan Livy.
"Jangan Mas, Oliv sepertinya tengah ketakutan, biarkan dia merasa tenang dulu dengan aku. Biarkan Oliv tenang dan merasa aman dulu."
"Tapi, apa kamu nggak cape kalau harus memangku Oliv terus? Kamu juga lagi sakit," balas Agam dengan mengusap punggung sang istri.
"Tidak Mas, lebih sakit dengar tangisan Oliv dari pada memangkunya. Lagian Livy sudah biasa setiap Oliv sakit memang seperti ini, bahkan pernah semalaman tidak mau turun penginnya di gendong dan di pangku kaya gini." Tangan Livy mengusap punggung Oliv dengan lembut.
"Maafkan aku, aku tidak tahu selama ini kamu pasti sangat berat menjalani ini seorang diri. Aku memang suami dan papah yang gagal, bahkan untuk merawat saat anak sakit aku tidak tahu dan tidak ada. Hanya kamu seorang diri..."
"Mas... jangan bahas lagi. Tolong, Livy ikhlas dan memang ini yang Livy inginkan juga. Dari dulu Livy sangat ingin terlibat sepenuhnya untuk menjaga Oliv. Karena sepanjang hidup Livy tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ibu, dan ayah. Livy pernah berjanji pada diri sendiri kalau punya anak sepenuhnya akan Livy jaga dengan tangan sendiri, jangan sampai apa yang pernah Livy rasakan dirasakan juga oleh anak Livy. Livy tidak ingin Oliv kekurangan kasih sayang meskipun itu hanya dari ibunya."
Tes... air mata Agam menetes dengan deras, ketika mendengar ucapan sang istri.
"Mas kok nangis, kan kata Livy tidak apa-apa. Livy ikhlas." Tangan Livy yang sebelah mengusap tangan Agam.
"Setiap orang pernah berbuat salah, Livy tidak sepenuhnya menyalahkan Mas Agam. Livy tahu tanpa hasutan dari Tari, Mas Agam tidak akan berbuat begini. Livy sudah melupakan masa-masa sulit itu. Livy sudah bahagia sekarang."
"Terima kasih, aku nggak tahu harus berterima kasih dengan cara apa, tetapi aku akan memperbaiki semua kekurangan dan kesalahanku."
Dalam hatinya Agam ingin sekali meminta mereka rujuk, ingin memperbaiki rumah tangga yang pernah memberikan luka dalam pada Livy tetapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa, ia benar-benar masih takut, kalau sikap dan perbuatanya akan kembali menyakitu hati Livy, dan buah hatinya.
"Livy percaya, karena Livy dari dulu tahu Mas adalah orang baik."
__ADS_1
Mendengar ucapan Livy, Agam mengembangkan senyum masam, di saat Livy yakin bahwa ia adalah orang baik, justru Agam sendiri ragu dengan dirinya sendiri.
"Oliv tidur lagi Mas..."
"Mungkin masih lemas, dan mungkin juga sekarang Oliv sudah tahu bahwa sekarang dia sedang berada di tempat ternyamannya."
Dengan hati-hati Agam meletakan infus di tempatnya lagi.
"Kamu mau makan apa? Mas mau ke kantin beli kopi. Dari kemarin kamu belum makan loh, jangan sampai nanti kamu tambah sakit, kasihan Oliv kalau kamu sakit."
"Terserah Mas saja, asal jangan seafood."
Agam mengernyitkan dahi. "Kamu nggak suka makanan laut, atau ada alergi?" tanya Agam. Selama ia nikah memang Agam sangat cuek dengan istrinya bahkan makanan kesukaan dan makanan yang tidak suka oleh Livy, Agam tidak tahu.
Livy hanya memberikan senyuman sebagai tanda kalau dia memang tidak bisa makan seafood. "Terutama udang, badan suka bentol-bentol. Kalau ikan masih bisa makan, tapi tidak bisa banyak."
"Maaf, aku baru tahu." Entah berapa kali Agam hari ini minta maaf dengan sang istri.
"Iya dimaafin, udah sana. Nanti malah keburu pingsan lagi, karena kelaparan."
Livy memberikan senyum terbaiknya, dan kali ini lebih terbuka dengan sang suami. Di mana biasanya cuek dan jarang terlibat obrolan, kecuali kalau sedang bermain dengan Oliv dan Agam. Livy memilih menghidar apabila ada kontak dengan suaminya, tetapi sekarang malah wanita itu terlihat sangat hangat.
Agam pun tidak menunggu lama langsung memilih untuk ke kantin, dari pada nanti istrinya pingsan.
Bersambung....
__ADS_1
...****************...