Rahasia Kebaikan Ibu Mertua

Rahasia Kebaikan Ibu Mertua
Hati yang Mulai Tidak Tenang


__ADS_3

"Jaga mulut kamu Agam, bukanya kamu semalam yang merengek agar aku melayani kamu. Kalau aku tidak cinta sama kamu aku pun malas melayani kamu, tetapi aku cinta sehingga aku pun mau melayani kamu dan mau menjadi ibu dari anak-anak kamu," balas Cala dengan suara yang meninggi.


"Mintalah obat penunda kehamilan pada dokter, aku tidak mau punya anak dari hubungan di luar nikah!"


Sontak saja Cala yang mendengar ucapan


Agam, langsung melebarkan ke dua bola matanya. Ada rasa kesal yang teramat ketika dia mendengar ucapan Agam. "Maksud kamu apa Agam, kenapa kamu bisa-bisanya berkata seperti itu sedangkan kamu yang meminta aku untuk melayani kamu," ucap Cala dengan suara yang meninggi.


"Aku nggak mau kamu hamil," balas Agam dengan santai.


"Kenapa? Bukanya kamu juga sudah berpisah dengan istri kamu, terus kenapa kamu tidak mau punya anak dari aku?" tanya Cala dengan suara yang semakin berat pasalnya dia tidak menyangka kalau Agam justru akan berbicara seperti itu. Menyakiti hati.


"Pokoknya aku nggak mau kamu hamil." Agam pun langsung menyebabkan selimutnya dan menuju kamar mandi. Laki-laki itu tidak berpikir kalau dirinya akan seperti ini. Dia pergi ke club malam dengan tujuan agar pikirannya sedikit tenang dan masalahnya dengan Livy bisa teratasi, tetapi nyatanya bukannya dia tenang justru masalah baru datang. Yah, kini Agam terlilit dalam masalah baru.


"Arkhhh... Sial, kenapa aku bisa tidak sadar sih semalam," pekik Agam dengan mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Kini di dalam kepalanya semakin banyak masalah yang harus di selesaikan, dan ditambah dengan masalah Cala, dia sekarang jadi seperti hilang perasaan dengan Cala, karena mau diajak hia-hia tanpa ikatan pernikahan.

__ADS_1


"Agam, kamu mau ke mana?" tanya Cala, ketika Agam ke luar dari kamar mandi dengan handuk terlilit di pinggangnya dan memakai pakaiannya, setelah itu laki-laki dengan satu putri langsung bersiap pergi.


"Agam yang kamu katakan tidak serius kan? Kamu tahu kan kalau aku sangat mencintai kamu. Bahkan aku rela melakukan ini dengan kamu, itu semua karena aku sangat cinta kamu Agam," pekik Cala dengan air mata yang langsung luluh. Kali ini ia sangat kesal dengan ide Tari, yang membuat Agam menatapnya dengan hina.


"Ucapakan aku sudah sangat jelas Cala, aku tidak mau memiliki anak dengan hubungan ini. Apakah kamu tidak malu kalau mempunya anak tanpa hubungan pernikahan?" tanya balik Agam, meskipun dalam hatinya sudah gondok pake banget, tetapi Agam masih mau meladeni Cala.


"Kalau gitu kita nikah," balas Cala dengan suara yang sangat yakin.


"Tidak! Kamu tidak tahu masalah aku dan Livy seperti apa. Lagian aku dan Livy belum cerai secara hukum yang itu artinya aku masih bisa rujuk," balas Agam, kini dia baru tahu kalau sebaik-baiknya wanita hanyalah Livy. Selama dua tahun menjalin hubungan pernikahan nyatanya Livy tidak pernah berbicara keras seperti yang dilakukan oleh Cala. Sedangkan Cala belum menjadi istrinya sudah berkata keras dan menantang.


"Lakukan, lakukanlah. Livy bukan orang yang seperti itu. Dia wanita yang baik." Entah dari mana datangnya kenapa Agam justru memuji Livy terus sedangkan biasanya Agam sangat benci dengan Livy.


Setelah pertengkaran dengan Cala, Agam pun langsung kembali ke kantor, tanpa ingin kembali ke rumah. Hal itu karena rumah bagi Agam adalah tempat yang banyak kenangan dengan Livy dan juga buah hatinya.


"Kira-kira Livy sekarang di mana yah, dan Oliv bagaimana keadaanya," batin Agam, sepanjang perjalanan ia ke kantor jadi terpikirkan dengan Oliv serta Livy. Apalagi wanita itu juga tidak membawa barang berharga dan uang untuk kehidupannya.

__ADS_1


Lagi, pikiran Agam jadi teringat dengan ucapan Livy yang mengatakan kalau Tari lah yang ingin mengambil harta-hartanya.


Chittt... Agam mengerem mobilnya yang tengah melaju kencang hingga terdengar decitan dari gesekan aspal dan ban mobil.


"Apa jangan-jangan kalau yang dikatakan Livy itu benar. Tari baik denganku karena hanya ingin harta-hartaku saja?" batin Agam, ia benar-benar kepikiran dengan ucapan Livy.


"Aku harus selidiki Mamih Tari. Sepertinya memang dia ada hubungannya dari setiap kejadian, jangan-jangan Cala tahu kalau aku ada di dalam club malam pun dari Mamih Tari."


Kini justru Agam seolah curiga dengan wanita yang menyandang sebagai ibu tiri. "Yah, aku harus cari tahu tentang Tari dan Cala, rasanya sangat mustahil setiap aku ada masalah selalu ada Cala juga. Oh ya Tuhan kenapa aku dari kemarin-kemarin tidak curiga dengan ini semua. Bagaimana kalau tenyata ucapan Livy yang benar."


Kini setelah Livy pergi justru kecurigaan Agam datang sendiri. Kemarin-kemarin dia benar-benar tidak diberikan kesempatan untuk tahu semuanya.


#Bersambung....


...****************...

__ADS_1


__ADS_2