
Tiga hari telah berlalu, dan kini baik Oliv maupun Livy sudah boleh pulang ke rumah.
"Sayang sekarang sudah boleh pulang apa Oliv siap?" tanya Agan dengan sangat hati-hati. Sebab anak kecil itu masih sangat trauma dengan kejadian penculikan itu. Bahkan untuk dijenguk oleh Om Jaxtion tidak mau dan takut.
"Pulangnya ke kosan Livy saja yah Mas, di sana hanya ada Livy jadi lebih aman," usul Livy, lagi pula bukan hanya Oliv dirinya juga lebih betah di rumah kostnya. Meskipun kecil dan sempit, tetapi di sana Livy merasa benar-benar bisa menjaga Oliv dengan baik.
"Tapi apa tidak terlalu sempit Sayang?" tanya Agam memastikan lagi.
"Tidak itu sudah paling nyaman untuk Livy dan juga Oliv," jawab Livy dengan yakin.
Agam menghirup nafas dalam.
"Baiklah kalau memang kata kamu seperti itu. Kita akan pulang ke kontrakan kamu. Apa Oliv mau pulangnya ke kontrakan Bunda, Nak?" tanya Agam kali ini memastikan pada anaknya kalau dia memang ingin pulang ke rumah kontrakan sang bunda.
"Mau ...." Oliv kali ini menjawab dengan sangat pelan.
"Ok, kalau gitu nanti kita pulang ke kontrakan bunda yah Sayang."
Oliv mengangguk di dalam pelukan Livy.
"Kalau gitu, Papah akan urus adminitrasi kepulangan Oliv yah Sayang."
Livy membalas dengan anggukan, kedua tanganya memeluk tubuh kecil putrinya. Agam pun tidak menunggu lama langsung meninggal Oliv dan juga Livy.
"Oliv suka mau pulang?" tanya Livy yang melihat kalau Oliv malah murung.
Cukup lama Livy memberikan waktu agar Oliv menjawabnya, tetapi ternyata Oliv tidak juga memberikan jawaban.
"Sayang, Oliv tidak boleh takut yah. Oliv akan terus sama-sama dengan Bunda, dan ada Papah juga yang jaga Oliv. Jadi Oliv tidak perlu takut Bunda tidak akan tinggalin Oliv lagi, Bunda akan terus jaga Oliv sampai Oliv benar-benar sembuh," ucap Livy dengan sangat yakin. Tangannya memeluk tubuh Oliv yang seperti ketakutan.
Wanita cantik itu tidak menyangka kalau Oliv yang periang dan untuk bermain maupun berbaur dengan orang lain sangat pandai dan tidak takut, tetapi sekarang melihat suster maupun dokter saja sudah ketakutan dan selalu ingin di peluk oleh bundanya. Trauma yang dialami Oliv sangat dalam, sehingga dia menjadi gadis yang takut dengan orang lain dan murung.
__ADS_1
"Oliv mau pulang ke kontrakan Bunda ....." Lagi dan Lagi Oliv berbicara dengan sangat pelan.
"Siap Sayang, kita pulang ke kontrakan Bunda yah, dan nanti kita main masak-masakan mau?" tanya Livy terus mengajak berkomunikasi dengan Oliv agar putrinya tidak merasa ketakutan terus.
Kali ini Oliv memberikan anggukan kepala untuk pertanyaan Livy.
Tidak lama Agam ke luar kini sudah kembali lagi dengan seorang perawat yang akan membuka selang infus di tangan Oliv.
Livy yang tahu kalau Oliv ketakutan melihat perawat yang datang pun langsung sigap memeluk Oliv dengan pelukan yang kencang.
"Jangan takut Sayang, susternya hanya mau buka selang infus Oliv saja kok," ucap Agam sembari tanganya mengelus rambut anak kecil itu. Setelah merasa akan karena ada bunda dan papahnya, Oliv pun tidak jadi menangis.
"Alhamdulillah sekarang tangan Oliv sudah sama kaya tangan Bunda tidak ada selang infusnya lagi." Agam menunjuk tangan Oliv yang sama dengan tangan Livy tidak ada lagi selang yang mengganggunya.
Oliv pun tampak senang dan menggerakan tanganya beberapa kali.
"Kenapa Sayang sakit?" tanya Agam dengan suara lembutnya.
"Oliv mau langsung bobo atau mau mainan Sayang?" tanya Livy dengan suara lembutnya.
"Main Bun," Oliv menunjuk mainanya yang sudah lama tidak ia mainkan lagi.
"Mas mau tidur sini atau pulang?" tanya Livy yang melihat suaminya ikut masuk dan membawa barang-barang Oliv dan Livy.
"Tidur di sini dong Sayang, apa kamu keberatan?" tanya Agam dengan menatap Livy yang langsung mendampingi putrinya bermain.
"Bukan keberatan Mas, hanya takut saja Mas nggak mau tinggal di rumah yang sepit," balas Livy sembari mengembangkan senyumnya.
Mendengar ucapan Livy, Agam pun langsung duduk di samping Livy, dan menggenggam tangan istrinya.
"Bukanya kita sudah berkomitmen bahwa Kita akan melanjutkan hubungan rumah tangga ini, jadi apapun keputusan kamu, Mas akan ikuti, apapun itu. Termasuk tinggal di rumah ini. Mas rasa tidak teralu buruk dan kalau kamu mau pindah ke rumah kita yang lebih luas kamu hanya tinggal bilang, nanti kita akan pindah bersama-sama." Agam menggenggam tangan Livy dengan sangat kuat.
__ADS_1
"Terima kasih mau mengerti Livy, terima kasih tidak memaksakan kami untuk mengikuti apa yang jadi kebiasaan Mas. Livy dan Oliv untuk sementara waktu betah di rumah ini."
"Mas juga akan betah di sini." Livy dan Agam pun bertatapan dengan penuh cinta.
"Livy suka dengan Mas yang sekarang," puji Livy dengan mengulum senyum malu-malu.
"Terima kasih, ini semua berkat kamu yang sangat baik. Mas bersyukur karena di pertemukan dengan kamu wanita yang sangat baik." Agam menggeser duduknya dan menarik tubuh Livy ke dalam pelukanya, sedangkan Oliv sedang asik dengan permainanya.
"I love u." Agam mencium pucuk kepala Livy dengan mesra.
"Livy juga ...." balas Livy dengan wajah memerahnya.
"Apakah Mas harus mengatakan terima kasih pada Tari, karena pernah memilihkan kamu menjadi istri Mas? Mungkin tanpa campur tangan Tari Mas tidak akan bertemu dengan kamu. Kamu adalah orang paling bisa mengerti Mas, dari pada Mas sendiri." Agam tak henti-hentinya menghujami Livy dengan ciuman.
"Tari bagaimana kabarnya Mas?" tanya Livy kepo dengan nasib orang serakah itu.
"Tuntutan penjara di atas sepuluh tahu, tetapi untuk putusan berapanya tunggu pengadilan. Mas harap dia dan kedua anaknya tobat. dan jangan berbuat nekad lagi apalagi hanya demi harta."
"Amin, Livy juga ingin mereka tobat dan menyesali perbutanya."
Sebenarnya mereka ingin ketemu Mas dan juga kamu untuk meminta maaf, tapi Mas belum menemuinya, masih cukup marah di dalam dada ini. Mungkin nanti kalau sidang terakhir, kita akan datang bagaimana?" tanya Agam pafa sang istri.
"Livy rasa tidak apa-apa, dan kita bisa maafkan mereka dan mendoakan mereka agar jangan mengulang kesalahan yang sama lagi."
Agam kembali menatap Livy dengan kabum.
"Mas sangat kagum dengan kamu, sudah di sakiti oleh Tari dan kedua anaknya,.tapi kamu masih mencoba memaafkan. Aku bangga punya istri seperti kamu." Agam kembali memeluk Livy dengan erat, dan. mencium pucuk kepala Livy dengan lembut.
Bersambung.....
...****************...
__ADS_1