
Setelah Agam rasa pembahasannya dengan Cala selesai, dan pada intinya laki-laki itu dengan tegas menolak untuk memberikan uang yang diminta oleh wanita itu dalam jumlah banyak untuk Cala. Laki-laki itu langsung memutus sambungan telepon Cala, dan meletakkan ponselnya ke atas tempat tidur.
"Gila kenapa aku baru sadar semuanya hanya memanfaatkan aku? Setelah Livy dan Oliv pergi." Agam yang niatnya pulang ke rumah ingin istirahat karena hampir dua minggu dia kurang tidur dan istirahat di kantor itu meskipun ada kamar sendiri, tetapi tetap saja sulit untuk ia istirahat dengan nyaman seperti di rumah.
Namun, malam ini Agam bukanya bisa istirahat dengan tenang malah terus terpikirkan pada anak dan istrinya. Sedangkan laki-laki itu sudah mencoba untuk tidur dan ia pun berusaha keras tidak mengingat-ingat lagi apa yang terjadi di antara dirinya dengan kisah masa lalunya.
"Oh, ya Tuhan kenapa aku tidak bisa tidur juga," gumam Agam yang mana dirinya juga sudah lelah untuk mencoba tidur, tetapi semakin dia berusaha matanya terpejam. Ia kembali lagi dengan bayangan Livy dan Oliv. Laki-laki itu mencoba mengambil ponselnya yang mana tadi dirinya secara diam-diam mencoba mengambil gambar Oliv dan Livy sehingga dia bisa mengobati rasa kangennya.
Mungkin apabila dirinya tadi tidak mengambil foto anak dan istrinya, laki-laki itu tidak akan memiliki kenangan yang bisa dilihat di dalam ponselnya. Sebegitu parahnya dia sampai-sampai untuk sebuah foto anak dan istrinya pun di ponselnya tidak ada.
Laki-laki itu selalu menyalahkan Livy padahal sekarang ia tahu menjaga anak itu luar biasa sulit.
__ADS_1
"Oliv, sekarang kamu lagi apa Sayang," racau Agam dengan mengusap layar ponselnya. Kembali ia justru mengingat perlakuan buruknya selama ini, di mana apabila ia pulang malam dan Oliv nangis atau rewel, selalu menyalahkan Livy, tanpa ia mau membantu untuk menjaga sang putri sedangkan dulu saat pertama kali Oliv lahir hatinya sangat senang dan sayang.
Namun, lagi-lagi berkat Tari yang selalu berkata tidak-tidak mengenai Oliv dan sang istri Agam berubah jadi membenci anak dan istrinya, bahkan Oliv, anak kecil yang tidak tahu apa-apa pun dia benci. Agam pun beranjak ke kamar mandi untuk mandi. Meskipun saat ini sudah malam, tapi ia benar-benar tidak bisa tenang dia terus terpikirkan dengan anak istrinya. Semakin ia ingin bersikap biasa saja. Rasa bersalah itu semakin menjadi-jadi.
"Ya Tuhan, seperti ini kah hati yang di selimuti dengan perasaan bersalah," batin Agam. Benar-benar malam ini dia tidak bisa tidur, karena pikirannya yang terus terjebak oleh perasaan bersalahnya.
Hari pun terus berganti tanpa terasa Livy sudah satu bulan pindah dari rumah sang suami. Perceraian pun sudah mulai menjalani sidang. Meskipun Agam masih sangat berharap kalau Livy bakal membatalkan perceraian karena laki-laki itu sebenarnya tidak ingin berpisah. Namun, demi kebahagiaan Livy dan anaknya dia mengikuti alur kehidupannya.
Oliv pun yang awalnya takut dan tidak terlalu akrab dengan Agam, berkat dirinya yang sekarang sangat perhatian, dan selalu menyempatkan diri untuk menemani Oliv main. Anak kecil itu sudah tahu kalau Agam adalah papahnya.
*****
__ADS_1
Di tempat lain, setelah Gava dan Gavi bekerja keras mencari tahu keberadaan Livy akhirnya dua anak kembar itu pun mengetahui di mana Livy tinggal dan di mana Livy kerja.
"Kabar apa yang kalian bawa?" tanya Tari di mana kedua anaknya apabila datang ke rumahnya sudah jelas dan pasti ada kabar yang mereka bawa, pastinya kabar bahagia. Yah, bahagia versi Tari pasti musibah versi orang lain.
Gava pun memberikan amplop berwarna coklat yang cukup tebal. Itu adalah hasil penyelidikannya selama satu bulan. Tari yang sudah sangat penasaran dengan kabar yang kedua putranya bawa pun langsung mengambil amplop coklat itu dan membukanya.
Senyum terkembang sempurna di bibir wanita paruh baya itu. "Kalian memang sangat bisa diandalkan."
Tangan Tari terus membuka informasi yang kedua anaknya berikan.
"Sangat pas info ini, kebetulan uang-uang Mami sudah menipis. Kita bisa manfaatkan kesempatan ini untuk memeras Agam. Sepertinya dia yang sekarang sangat sayang pada dua wanita bodoh itu. Kita bisa peras dengan memanfaatkan kelemahan Agam."
__ADS_1
Bersambung....