
"Sial... ada yang ngikuti kita." ucap Gava yang melihat dari kaca spion melihat satu unit mobil yang mengejarnya secara terus menerus.
"Kita gimana Gava, Gavi," ucap Tari yang terlihat semakin panik. Ketika bukan hanya satu mobil yang mengejarnya, tetapi ada tiga mobil dan juga kendaraan roda dua yang mengejarnya.
"Ini semua gara-gara Mami kenapa bisa ceroboh berkirim pesan terus dengan Agam. Sudah jelas Agam lapor polisi," umpat Gavi kesal dengan kelakuan ibu kandungnya. Apalagi dana yang mereka impikan bukannya dapat malah yang ada mereka bisa masuk penjara.
"Gava, Gavi, polisi juga kejar mobil kita." Tari semakin panik.
"Gava masuk tol ambil luar kota. Kita bisa kejebak macet kalau ttp dalam kota." Gava pun langsung putar arah mencari pintu tol.
Begitu pun dengan Agam dan juga polisi langsung berputar arah mengikuti kendaraan yang dinaiki Tari dan kedua anaknya.
"Gam, untuk mengejar Tari dan ke dua anaknya sebaiknya kita serahkan ke polisi. Perkiraan Om, Oliv masih ada di apartemen itu, bagaimana kalau kita fokuskan pada pencarian Oliv. Om yakin kalau Tari bisa diamankan oleh polisi. Entahlah pikiran Om sangat tidak tenang memikirkan Oliv," ujar Om Jaxtion dengan nada pelan.
"Benar Mas, Livy juga yakin Oliv masih ada di apartemen itu. Kita balik ke tempat itu dan fokuskan mencari Oliv ini sudah hampir pagi. lagi kasihan kalau sampai Oliv kenapa-napa." Livy pun ikut angkat bicara.
"Baiklah kita akan kembali ke tempat itu dan serahkan Tari pada polisi." Agam pun langsung memutarkan kendaraanya dan kembali ke apartemen, mencari Oliv lebih penting. Jarak Agam dan apartemen kini semakin jauh itu semua karena laki-laki itu mengejar kendaraan mantan ibu tiri dan saudara tirinya, butuh waktu dua jam untuk kembali ke apartemen yang digunakan Tari untuk menyekap putrinya, ini adalah harapan terakhir Agam dan Livy kalau Oliv bisa ditemukan.
Tiga orang langsung berlari ke rombongan polisi yang bertugas mencari keberadaan Oliv.
__ADS_1
"Bagaimana Pak, apa sudah ketemu anak saya di tempat ini?" tanya Oliv dengan suara yang gemetaran.
"Belum Bu, tapi tim kita sedang mengecek kamera CCTV untuk mengecek unit mana yang kira-kira dijadikan tempat untuk menyembunyikan putri Anda."
"Tapi benar kan Pak, kalau Oliv kemungkinan besar tidak dibawa sama mereka juga?" Agam masih kepikiran bagaimana kalau tenyata Oliv sempat di pindahkan dari tempat ini.
"Sementara dugaan kami mereka tidak membawa putri Anda karena mereka pasti lebih menyelamatkan diri sendiri. Membawa putri Anda bisa saja memancing orang di sekitar."
Kembali Agam, Livy dan Om Jax menunggu CCTV karena petugas pun tidak ada yang tahu Tari dan kedua adiknya ad di kamar berapa, mereka menggunakan identitas palsu untuk menyewa unit yang mereka tempati.
Sedangkan Oliv yang ketakutan dan tidak tahu berbuat apa hanya menangis di dalam kamar yang gelap dan penat, usianya yang masih sangat kecil membuat Oliv tidak bisa berbuat apa-apa dan akalnya juga tidak tahu harus bagaimana. Gadis kecil itu hanya menangis dan menangis berharap agar sang bunda datang untuk memberikan bantuan.
"Coba Pak, putar lagi yang wanita berpakaian kebersihan setelah dua orang tadi, itu sepertinya Nenek sihir itu," ucap Livy dia adalah orang yang paling bisa mengenali ciri-ciri Tari dengan sangat baik. Rasa benci, marah dan juga kesal membuat Livy masih sangat hafal dengan ciri-ciri jalan dan fisik mantan ibu mertua tirinya.
Benar saja security memutar kembaliĀ CCTV yang menunjukkan seorang wanita dengan kamera pengawas yang saling berhubung, akhirnya bisa tahu di mana Tari dan dua anaknya memilih satu unit kamar yang berada di ujung, lantai lima. Tanpa menunggu lama polisi Agam, Livy dan yang lainya mengecek ke kamar tersebut dengan berharap penuh kalau memang Oliv tidak mereka bawa.
"Oliv, Sayang, ini bunda, apa Oliv ada di sini..." Suara Livy langsung memanggil sang putri dengan harapan kalau ada sahutan suara dari ruangan yang cukup luas itu.
"Kita cari ke dalam." Agam lagi-lagi menuntun tubuh Livy yang sudah sangat lemas, entah harus mencari ke mana lagi mereka kalau dalam apartemen ini Oliv tidak ada juga. Sedangkan polisi juga belum memberi kabar kalau Tari dan kedua anaknya belum menyerah. Entah berapa lama mereka bermain kejar-kejaran. Mungkin kehabisan bahan bakar yang akan membuat mereka menyerah.
__ADS_1
"Astaga Oliv," jerit Livy ketika seorang petugas menemukan Oliv terjebak di sela-sela pintu, mungkin akan kabur tetapi tidak bisa.
"Kami akan segera bawa ke rumah sakit, kondisi putri Anda sangat lemah, mohon ikut kami di belakang." Dengan langkah seribu para petugas kepolisian langsung memberikan pertolongan darurat untuk Oliv.
"Livy tenangkan diri kamu, Oliv butuh ibunya, kamu harus tetap sehat untuk Oliv." Om Jax yang melihat Livy sangat kacau pun kembali menasihati dengan berhati-hati.
"Betul Vy, Oliv pasti sangat sedih kalau sampai kamu jatuh sakit juga, Oliv butuh kamu, sekarang kita susul ke rumah sakit. Oliv anak yang kuat pasti dia akan baik-baik saja." Kali ini Agam yang memberikan dukungan untuk Livy. Wajar sebenarnya kalau sampai Livy merasa lemas dan kehilangan tenaga ini adalah hari ke dua dia tidak makan dan tidak istirahat, dan ketika melihat tubuh putrinya dalam keadaan baik-baik saja pasti dunia serasa hancur.
Sedangkan di tempat lain polisi terpaksa melumpuhkan dua laki-laki muda yang hendak kabur ketika mobil mereka akhirnya bisa diberhentikan paksa setela hampir empat jam bermain kucing-kucingan dengan polisi. Entah berapa kendaraan yang jadi korban dari mobil yang melaju secara ugal-ugalan itu. Siapa yang akan menyangka niatnya ingin mendapatkan uang yang banyak agar bisa menyambung hidup enak tanpa bekerja justru mereka akan berakhir di balik jeruji besi.
"Sial ini semua gara-gara wanita yatim piatu itu."
Bersambung....
...****************...
Sembari nunggu kisah selanjutnya yuk mampir ke novel bestie othor di jamin bikin baper.
__ADS_1