
Di saat Agam mulai merasakan tidak beres di antara Tari dan Cala. Di tempat lain, Livy di hari pertama bekerja pun bisa dikatakan tidak ada masalah yang begitu berarti, yah wanita itu meskipun dengan segala kerepotanya mengasuh Oliv yang usianya masih satu tahun empat bulan, yang bisa dikatakan tidak selalu anak kecil itu betah. Ada kalanya Oliv merasa bosan dan itu tandanya Livy yang sudah sangat mengenal Oliv karena dari lahir hingga sebesar ini semuanya diurus oleh diri sendiri, dan itu ada manfaatnya Livy jadi leboh tahu sifat Oliv.
Seperti siang ini Oliv merengek karena dia yang bosan. "Oliv, Sayang kenapa nangis. Kan Bunda sedang kerja. Oliv nggak boleh rewel yah," ucap Livy dengan menepuk-nepuk bokoong bocah kecil itu dan menggendong dengan meletakanya di dada.
"Ocen...ocen..." celoteh bocah kecil itu. Karena Oliv yang belum lancar berbicara sehingga ucapannya pun masih pakai bahasa bayi.
"Oliv bosan?" tanya Livy, yah memang wanita itu mengajarkan pada Oliv agar dia bisa mengutaran apa yang dia rasakan, memang sebagian pendapat mengatakan kecerdasan anak itu tergantung ibunya, tetapi itu hanya berlaku empat puluh hingga enam puluh persen. Selebihnya simulasi dari pendampingnya. Sehingga Livy tidak ingin kalau Oliv menjadi korban perpisahan dirinya dan juga Agam. Ia akan tetap memberikan hal positif untuk perkembangan Oliv.
Bohong kalau Livy tidak cape, dan selalu sabar terus, Livy juga manusia biasa, yang sama merasakan marah juga pada anak hanya karena ulah sang suami, tetapi seiring berjalanya waktu Livy bisa berdamai dengan perasaan itu. Apalagi ketika Livy marah dan melampiaskannya pada si kecil. Meskipun Oliv masih kecil, tetapi ikatan batinya kuat sehingga bocah itu juga akan rewel ketika sang ibu memiliki pemikiran yang sumpek. Oleh sebab itu mulai saat ini Livy selalu membawa santai masalah-masalah yang dia hadapi, bukan dia terlalu nerimo dengan nasibnya, tetapi karena dia ingat kesehatan mental dirinya dan juga anaknya sehingga ia lebih santai dan bodoamat.
Bocah kecil itu mengagguk dengan kuat, memberitahukan pada sang ibu kalau dia sangat bosan di dalam ruangan terus dan hanya bermain dan makan.
"Ok, kalau gitu kita jalan-jalan sebentar yah, tapi habis itu kita balik lagi ke ruangan yah. Soalnya Bunda harus bekerja, nanti kalau Bunda tidak kerja, Oliv tidak bisa beli mainan." Yah, meskipun bisa dikatakan Oliv yang masih kecil belum paham dengan apa yang Livy katakan, tetapi bocah kecil itu mengangguk lagi.
__ADS_1
Livy pun mematikan komputernya dan merapihkan meja kerja, lalu mengajak Oliv jalan-jalan ke luar untuk mencari hiburan sesaat dan setelah itu akan kembali lagi ke ruanganya. Yah, Livy juga tidak mau menerapkan kalau kerja itu bosan, wanita itu ingin Oliv tahu dan merasa nyaman kalau di tempat kerja bundanya itu seru, banyak teman, banyak makanan, dan juga bisa main ini itu dan Oliv akan nyaman di kantor.
"Oliv, cantik mau ke mana?" tanya karyawan yang sudah kenal sama bayi cantik itu, yah memang Oliv cantik sehingga banyak yang menyapanya dengan panggilan cantik. Yah- iyalah cantik kan cewek!
"Mau jalan-jalan ke luar Tante, Oliv bosan di dalam ruangan Bunda terus," jawab Livy dengan menirukan suara anak kecil.
"Kalau gitu boleh nggak Mbak Livy, Oliv saya yang asuh, kebetulan saya lagi jam istirahat biar nanti saya ajak makan ke luar biar nggak bosan," ucap Sisil, yah meskipun Livy adalah anak baru tetapi berkat Om Jax dan juga tentunya berkat Oliv yang menggemaskan dia sudah banyak mengenal teman kerjanya.
"Apa nanti nggak ngerepotin." Livy memastikan lagi, tentu sangat beruntung kalau ada yang mau ngasuh Oliv meskipun hanya satu jam, itu bisa membuat aku bisa mengerjakan yang lain.
"Tidak Mbak, lagian Oliv mah anak baik, dari tadi juga udah bolak-bailik main sama Mara, dan Tio." Sisil menatap teman kerjanya yang memang kebetulan meja mereka depan pintu banget dengan ruangan Livy sehingga Oliv beberapa kali bolak-balik ke luar dan bermain dengan Mara dan Tio.
"Ya udah kalau gitu nitip yah Sisil, dan ini uang buat pegangan takut Oliv minta jajan," ucap Livy dengan memberikan uang dua puluh rebu. Kebetulan Oliv tidak takut dengan orang sehingga begitu Sisil mengajak untuk melihat badut dia langsung mau.
__ADS_1
"Tidak usah Mbak, lagian Oliv jajan paling juga telur gulung lima rebu juga udah banyak," ucap Sisil dengan mendorong uang yang Livy berikan.
"Tapi lima rebu juga uang Sisil, kamu kerja cape," balas Livy lagi, dengan harapan agar Sisil menerima uang yang dia berikan. Namun Sisil kekeh kalau dia bisa mentraktir Oliv untuk jajan.
"Kalau gitu saya makasih banyak Sisil, mudah-mudahan rezekinya makin banyak yah." Akhirnya Livy pun tidak memaksa lagi agar Sisil menerima uang untuk jajan Oliv.
Setelah memastikan kalau Oliv aman dengan Sisil, Livy pun merasa lega dan itu tandanya dia bisa bekerja lagi, mengingat dia masih baru sehingga harus getol untuk belajar.
"Mbak Livy nanti jadi pulang bareng untuk cari kontrakan?" tanya Tini, yang mana sebelumnya Livy sudah tanya-tanya perihal kontrakan yang dekat dengan kantor, kebetulan satu kontrakan dengan Tini yang mana letaknya di belakang kantor dan kalau jalan paling butuh waktu dua puluh menit ada yang kosong, sehingga Livy langsung ingin melihatnya.
Yah, Livy tetap memilih kontrakan meskipun oleh Om Jax sudah ditawarkan rumah yang layak tetapi Livy menolak itu karena dia ada anak kecil, sehingga tidak ada waktu untuk beres-beres. Livy butuh tempat yang kecil saja sehingga tidak terlalu cape kalau harus beres-beres rumah juga, mengingat apa-apa dia harus dilakukan seorang diri dengan mengasuh anak lagi. Untuk makan bisa beli dan untuk nyuci bisa laundry sehingga kosan adalah pilihan paling nyaman.
"Jadi dong Tini nanti kalau kamu mau pulang kamu bilang aku aja yah," ucap Livy dengan senyum tenduh dan suara lembutnya.
__ADS_1
"Ok" Tini memberikan simbol ok dengan jari telunjuk dan jari jempol disatukan. Dan Livy pun hanya membalas dengan seulas senyum, dan wanita itu kembali masuk ke dalam ruangannya dan melanjutkan pekerjaan.
Bersambung....