Rahasia Kebaikan Ibu Mertua

Rahasia Kebaikan Ibu Mertua
Bak Jatuh, Tertimpa Tangga Pula


__ADS_3

Arkkkhh... Agam meluapkan kemarahannya sejadi-jadinya, ketika tahu kalau Tari juga pergi membawa surat tanah dan bangunan milik almarhum sang papih.


"Om, kenapa bisa surat sepenting itu di berikan ke wanita licik itu. Apa sekarang Om tidak tahu kalau apa yang Om lakukan sudah membuat aku rugi sangat banyak. Tari kabur dengan membawa  uang-uang, tabungan, dan juga barang berharga. Belum surat rumah ini di bawa wanita licik itu, tandanya sebentar lagi Tari pasti bisa jual rumah ini." Agam pun meluapkan kemarahanya pada pengacara kepercayaan sang papih yang sangat ceroboh menurutnya. Padahal surat sepenting itu seharusnya tetap di pegang kecuali memang ada amanah dari papihnya.


"Tapi Tari yang bilang kalau rumah itu sudah jadi miliknya atas wasiat papih kamu Agam. Kalau memang ada wasiat seperti itu Om tidak bisa ikut campur," bela sang pengacara yang sejak tadi di marahi oleh Agam gara-gara memberikan surat tanah dan bangunan pada Tari.


"Kurang ajar, Tari memang kurang ajar. Dia benar-benar monster. Om tolong bantu cari keberadaan Tari dia membawa harta-harta  Papih dan juga surat rumah yang mana itu adalah rumah Agam, bukan untuk Tari," balas Agam dengan nada bicara setengah memohon pada sang pengacara keluarga.


"Baiklah, nanti akan Om bantu untuk mencari di mana Tari."


Setelah cukup lama berkonsultasi dengan pengacara kepercayaan papinya yang sangat ceroboh itu. Kini Agam pun kembali teringat akan masalah di perusahaanya. Laki-laki itu pun kembali meninggalkan rumah mewah milik papahnya, dan menuju kantor untuk mengurus ke kacauan yang terjadi.

__ADS_1


"Kini aku sudah hancur bakan sangat hancur dan semuanya gara-gara wanita ular itu. Sampai ke mana pun aku tidak akan biarkan kamu  tenang Tari," batin Agam dengan dada tang masih saling bergemuruh, ada bongkahan kemarahan yang ingin dia luapkan.


Bukan hanya bongkahan kemarahan yang ingin Agam luapkan tetapi juga penyesalan karena sudah tidak mempercayai sang istri, justru malah menuduh Livy mengusik ketenangan hatinya. Kini bahkan Agam tidak tahu di mana sang istri dan anaknya berada.


"Kenapa aku bisa ceroboh sekali, tidak mempercayai apa yang Livy katakan barang sedikit pun. Kenapa aku tidak selidiki Tari agar aku tahu kalau dia itu baik atau tidak."


Sepanjang perjalanan ke kantor Agam terus-terusan dalam batinya diselimuti dengan perasaan yang terus bersalah, dan kemarahan yang membuat sesak di dadanya.


"Tuan, akhirnya Anda datang juga. Saya sangat pusing melayani rekan bisnis yang ingin bertemu dengan Anda, mereka ingin uang-uang mereka di kembalikan," ucap Puji, membuat kepala Agam kembali berdenyut mendengarnya.


Punya pun membalas dengan gelengan kepala.

__ADS_1


"Buat jadwal agar kita bisa bertemu dengan orang-orang bodoh itu."


Di saat Agam sedang pusing memikirkan teman bisnisnya yang seolah ingin membuat dirinya rugi. Di tempat lain Livy dan Oliv justru sedang merasakan hal yang sebaliknya. Livy sedang merasakan bahagia dengan dirinya dan sang putri yang tinggal di tempat barunya. Yang mana Oliv juga sepertinya sangat menikmati tinggal di kosan yang tidak terlalu luas itu.


"Oliv, jangan lari-lari terus dong nanti jatoh loh," ucap Livy yang melihat sang buah hati sedang lari sana dan lari sini bermain dengan bola yang tadi di belikan oleh om Jax, bukan hanya bola yang berwarna pink, tetapi juga ada mainan lain seperti boneka dan juga masak-masakan. Terlihat di wajah Oliv sangat senang dengan mainannya yang banyak, Berbeda dengan ketika mereka tinggal di rumah mewah Agam, Oliv tidak dibiarkan bebas bermain ini dan itu karena takut memecahkan perabot mahal milik Tari, bahkan apabila kamar pribadinya berantakan langsung kena tegur, sehingga Oliv tidak diizinkan main terlalu bebas seperti sekarang ini, di mana di kosan mereka, Oliv bisa bermain dengan sangat bebas. Mau berantakan atau mau jungkir balik Livy membiarkannya. Ibu satu anak itu cukup mengawasi saja agar tidak bermain yang berbahaya.


"Bo..la ... bun... bo... la..." ucap Oliv yang mana anak itu baru belajar berbicara sehingga celotehnya sangat menggemaskan.


"Iya boleh main bola, tapi jangan lari lari terus nanti Oliv cape. Sekarang bolanya bawa sini. Oliv gantian main masak-masakan yah." Livy memeragakan masak seperti dirinya.


Oliv pun langsung berjalan menghampiri sang bunda. Dan ibu serta putrinya pun bermain masak-masakan hingga Livy yang kecapean tertidur.

__ADS_1


Livy terseyum dengan lebar, meskipun hatinya hancur karena ia merasa seperti di buang suaminya, tetapi ada Oliv yang selalu menghibur dirinya. Terlebih ketika Oliv tidur di antara tumpukan mainan yang berserakan rasanya hatinya damai, akhirnya Livy bisa merasakan Oliv sangat bahagia. Meskipun rumah berantakan dengan mainan bagi Livy tidak masalah, karena ini adalah masanya, tidak akan lama, nanti kalau Oliv sudah bisa diajarkan rapih juga rumahnya akan kembali rapi, untuk saat ini Livy tidak akan ambil stres dengan rumah yang berantakan karena mainan Oliv.


Yang terpenting saat ini adalah kebahagiaan putri satu-satunya.


__ADS_2