
"Om, apa tidak ada cara agar Agam bisa kembali dengan Livy, apapun akan Agam lakukan agar bisa bersama terus dengan Livy. Agam sudah sangat menyesal," ucap Agam pada orang kepercayaan almarhum sang papihnya begitu ia masuk ke dalam mobil.
"Kamu juga harus bisa mengerti perasaan Livy Agam, saat ini Livy ingin istirahat, dia tidak ingin memikirkan percintaan jadi hargai keputusan dia jangan kamu paksa Livy dengan perasaan yang nantinya malam membuat dia tidak nyaman. Kamu harus tahu dan sadar kalau cinta itu tidak bisa dipaksa, kalau cinta itu tidak bisa memilih, biarkan Livy menentukan hidupnya sendiri nanti kalau kalian masih berjodoh juga akan bertemu lagi," ucap Om Jax, menasihati Agam dengan sangat sabar dan baik bahkan laki-laki itu sudah menganggap Agam seperti anaknya sendiri, sama yang ia lakukan pada Livy.
Agam pun langsung terdiam dan mencoba mengerti apa yang laki-laki paruh baya yang saat ini duduk di sampingnya. Apa yang Om Jax katakan memang sama dengan yang Livy katakan barusan.
"Yah, Agam harusnya jangan memaksa Livy untuk terus kembali pada Agam, dengan Livy yang masih terus mencoba memberikan akses Agam bisa bertemu dengan Oliv seharusnya Agam masih berterima kasih, karena kalau dilihat dari apa yang pernah Agam lakukan pada Oliv dan Livy rasanya, saya tidak pantas diberikan kesempatan untuk menjadi orang tua yang baik," balas Agam dengan pasrah.
"Nah, itu kamu tahu di luaran sana banyak mantan istri yang sudah disakiti oleh mantan laki-lakinya mereka justru menutup akses dengan anaknya, jadi kamu saat ini bersyukur saja karena ketika kamu kangen dengan Oliv, Livy tidak melarangnya kamu untuk bertemu. Kamu, juga harus buktikan kalau kamu memang pantas menjadi ayah sekaligus suami yang baik untuk Livy, nanti juga kalau Livy tahu kalau kamu baik juga dia pasti bisa mempertimbangkan lagi, dia mau kembali dengan kamu atau tidak," balas Om Jax dengan serius.
Setelah menempuh perjalanan yang tidak terlalu lama, dan dua orang laki-laki berbeda generasi itu saling bercerita, kini Agam pun sudah sampai di rumah mewahnya yang sudah hampir dua minggu tidak ia tempati, Agam lebih memilih tinggal di kantor dari pada di rumah dia yang mewah itu.
"Terima kasih Om sudah dibantu untuk Agam bertemu dengan Oliv, Agam titip Livy dan Oliv dan kalau ada sesuatu langsung kabari Agam saja, dengan senang hati maka Agam akan segera membantunya," ucap Agam sebelum laki-laki itu turun dari mobil Om Jax.
__ADS_1
"Kamu tenang saja Agam, Livy dan Oliv sudah Om anggap anak dan cucu sendiri, sehingga Om dengan senang hati untuk menjaganya. Meskipun dia tinggal jauh dari Om, tetapi banyak karyawan yang tinggal dengan mereka ikut membantu Livy, dan Om akan terus menjaga Livy," balas Om Jax dengan senang hati, setelah mendengar jawaban dari orang kepercayaan almarhum sang papi, Agam pun langsung masuk ke dalam rumah dan berniat untuk istirahat.
Sudah dua minggu istirahat dia kurang karena terlalu memikirkan masalah kantor dan juga dia terlalu fokus dengan masalah sang ibu tiri, dan kali ini masalah dengan sang istri. Agam benar-benar butuh istirahat yang cukup.
"Tuan..." Seorang asisten rumah tangga berhasil menghentikan langkahnya.
Agam membalikan badanya dan menatap asisten rumah tangga yang memanggilnya. "Ada apa Bi?" tanya Agam, dengan suara yang lembut.
"Sudah dua hari ada seorang wanita yang mencari Tuan Agam, kalau tidak salah namanya Cala, dan meminta Tuan untuk menghubunginya.
"Apa Cala ada bilang sesuatu lagi?" tanya Agam yang sedikit heran kenapa Cala malah datang ke rumahnya, bukanya datang ke kantor tempatnya bekerja. Bukanya Cala tahu di mana kantor Agam berada.
"Tidak Tuan, Nona Cala hanya meminta agar Anda menghubunginya, katanya ada yang penting," balas asisten rumah tangganya dengan sopan. Setelah tidak ada lagi yang diucapkan lagi Agam pun langsung kembali mengayunkan kakinya ke dalam kamar.
__ADS_1
Begitu sampai di dalam kamar Agam pun langsung meletakan tubuh dengan kasar ke atas kasur empuknya. Dengan malas laki-laki itu pun langsung mengambil ponselnya, dan membuka blokir untuk nomer Cala. Yah, laki-laki itu memang untuk sementara waktu memblokir nomor mantan kekasihnya, karena ingin fokus dengan urusan kantor.
Pesan dari Cala pun langsung masuk begitu Agam membuka blokir untuk Cala, setelah membaca pesan yang menceritakan kalau Cala juga dijebak oleh Tari, Agam pun memutuskan untuk menghubungi mantan kekasihnya. Bukan karena dia rindu dan ingin bertemu. Agam hanya ingin kalau dia dan Cala urusannya cepat selesai. Sesuai apa yang Agam duga pasti ada Hari di balik peran sang mantan istrinya.
"Hallo Agam, kamu kenapa sih sulit banget aku hubungi?" tanya Cala begitu sambungan telepon Agam diangkat.
"Tadi asisten rumah tanggaku bilang kalau kamu cari aku, karena ada yang ingin di bahas, ada apa'" tanya Agam dengan nada bicara yang sedikit ketus, dan tanpa basa basi. Laki-laki itu tidak merasa nyaman ketika ia berhubungan dengan Cala. Ada rasa berdoa ketika ia kembali menghubungi mantan kekasihnya itu, di sa'at dia sedang ingin menunjukkan perbuatan baiknya untuk Livy dan buah hatinya.
"Aku ada yang ingin dibicarakan dengan kamu, terutama soal malam kemarin yang kita sempat tidur bersama...."
"Apa yang kamu ingin bicarakan, kamu ingin aku mempertanggung jawabkan perbuatan aku. Kamu ingin aku menikahi kamu, dan kamu bisa kaya raya. Itu kan yang sedang kamu rencanakan dengan Tari." Agam langsung menyelamatkan ucapan Tia. Laki-laki itu seolah tahu apa yang Cala rencanakan.
Bersambung....
__ADS_1
...****************...