
"Livy..." Agam memekik kaget ketika wanita yang belum resmi berpisah itu jatuh pingsan.
Dengan tubuh yang lemah Agam membopong tubuh sang istri. Mungkin selama menikah hingga hampir tiga tahun bersama ini adalah kali pertama laki-laki itu membopong tubuh Livy.
"Ya Tuhan, apa kamu jarang makan Vy, sampai tubuh kamu ringan begini," gumam Agam dengan pandangan mata tetap menatap Livy dengan wajah pucat.
Di kursi penumpang bagian belakang Agam duduk dengan memangku sang istri, yang belum sadar sedangkan kursi depan Om Jaxtion yang menggantikan ambil kemudi.
"Terima kasih Om, masih terus menemani Agam dan Livy sampai Oliv ketemu," ucap Agam dengan suara parau. Ia juga sangat lelah dengan semua ini.
"Kamu dan Livy sudah Om anggap anak sendiri, jadi apapun yang terjadi dengan kalian Om wajib ikut tanggung jawab sampai selesai. Sekarang kamu fokus urus istri dan anak kamu, mudah-mudahan momen ini bisa kamu gunakan untuk menunjukan pada Livy kalau kamu adalah suami dan ayah yang baik untuk Livy dan Oliv. Soal Tari dan kedua anaknya biar Om yang urus. Begitupun soal kerjaan kamu tidak usah khawatir, Om akan ambil alih tugas kalian. Om sebenarnya juga kurang setuju kalau sampai kalian pisah. Livy wanita yang baik, kamu harus buat dia bahagia. Apalagi Livy adalah anak yang dibesarkan di panti asuhan ia sudah banyak melewati hidup yang keras. Kini saatnya dia bahagia, dan itu tugas kamu untuk membahagiakannya."
Mendengar ucapan orang kepercayaan almarhum papinya, Agam sangat terharu, ia dulu pernah berpikiran buruk dengan orang itu tetapi kenyataanya ia adalah orang yang baik, dan menjadi garda terdepan saat ia diterpa banyak cobaan. Bahkan dengan tulus melindungi apa yang akan diambil oleh ibu tirinya.
"Baik Om, Agam akan terus berusaha menjadi suami dan ayah yang baik untuk anak dan istri Agam. Sudah cukup Agam membuat mereka sedih."
__ADS_1
Agam langsung mengangkat tubuh Livy yang masih terkulai lemah di atas pangkuanya. "Dok, Sus tolong istri saya dia pingsan." Agam membawa Livy ke IGD. Om Jaxtion pun mengekor dibelakangnya. Di ruangan yang sama dengan Livy, Oliv pun tengah mendapatkan penanganan. Agam langsung menghampiri putrinya yang terlihat lemah sekali, wajahnya pucat. Entah apa yang terjadi dengan putrinya, selama bersama dengan Tari, tetapi Agam berjanji ia tidak akan pernah memaafkan ibu dan adik tirinya.
"Dok apa anak saya baik-baik saja?" tanya Agam, hatinya sangat sakit melihat anak istrinya seperti ini dan itu semua ulah karena orang yang pernah sangat ia percayai.
"Anak Anda kekurangan cairan, mungkin sejak putri Anda disekap tidak diberi minum dan juga makan, sehingga tubuhnya lemah, dan putri Anda juga sepertinya terlalu sering di berikan obat tidur wajah putri Anda membengkak yang ada tanda-tanda kelebihan dosis obat tidur."
Mendengar penjelasan dokter, Agam kembali mengeratkan gigi-giginya, rasa ia ingin sekali membunuh orang-orang berhati keji itu dengan tangannya sendiri. Anak usia belum genap dua tahun diberikan obat tidur hanya orang-orang hatinya terbuat dari batu yang tega melakukan itu dan apa yang mereka lakukan tidak lain untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah.
"Tapi Oliv akan kembali sembuh, dan seperti dulu kan Dok?" tanya Agam ulang.
"Untuk fisik tidak terlalu berat, hanya kami takut di mental putri Anda, pasti Ananda akan mendapatkan guncangan mental yang sangat hebat, sehingga Anda dan istri Anda harus bersiap kalau putri Anda mengalami trauma yang sangat hebat. Anda juga harus menyiapkan psikiater untuk mendampingi putri Anda, itu saran saya Tuan."
"Baik Tuan, kami akan selesaikan apa pun yang Anda inginkan."
"Oliv... Oliv..." Livy meracau memanggil nama sang putri.
__ADS_1
Mendengar Livy sudah sadar kini Agam bergantian menghampiri sang istri. "Oliv baik-baik saja, dia ada di sana." Agam berbicara dengan suara yang lembut. Livy yang mendengar suara Agam pun langsung membuka kedua bola matanya dan segera beranjak bangun, tetapi Agam dengan cekatan menahan Livy yang akan menghampiri Oliv.
"Lepas Mas, aku mau lihat Oliv." Tangis Livy pecah ketika melihat anaknya untuk pertama kali tidak berdaya harus terbaring di ranjang pasien.
"Aku bantu, kamu juga harus tetap jaga kesehatan. Oliv akan sangat sedih kalau bundanya juga jatuh sakit." Agam langsung cekatan membantu mengambil botol infus dan membantu Livy untuk turun.
"Oliv..." Livy berjalan dengan ditutun oleh Agam, tubuhnya masih sangat lemah.
Tangis Livy kembali pecah setelah melihat sang putri masih tertidur dengan wajah yang membengkak dan juga wajah yang sangat pucat.
"Mas, apa yang terjadi dengan Oliv, apa yang mereka lakukan hingga Oliv seperti ini?" tanya Livy dengan suara yang parau.
"Dokter bilang ini semua masih tergolong aman, hanya Oliv sepertinya tidak dikasih makan dan minum selama mereka ambil Oliv secara paksa dari kita, udah gitu mereka juga memberikan obat tidur dengan dosis yang berlebih, dan efek sampingnya terlihat di wajah Oliv yang sedikit bengkak."
"Jahat! Kenapa mereka jahat sekali dengan akan sekecil ini. Apa salah Oliv sampai mereka buat seperti ini."
__ADS_1
Bersambung....
...****************...