
"Bunda juga disuapi Papah?" tanya Oliv dengan gemas.
Agam dan Livy pun saling tatap.
"Bunda nanti..."
"Iya dong, Bunda juga Papah yang suapi." Agam memotong ucapan Livy.
"Mas..."
"Izinkan aku perbaiki semua yang pernah aku lakukan..." Lagi-lagi Agam memotong ucapan Livy. Mau tidak mau Livy pun makan dengan disuapi oleh Agam.
Oliv pun tampak bahagia melihat Papah dan Bundanya akur.
A.... Agam menyuapkan nasi dan lauknya pada Oliv, dan bocak kecil itu nampak sangat bahagia sekali.
"Bunda..." Oliv menunjuk tanganya agar Agam memberi suapan juga pada bundanya.
"Ok..."
Kini Agam gantian memberi suapan pada Livy, Livy pun membuka mulutnya setelah Agam memberikan tatapan memohon.
"Bunda enak kan?" tanya Oliv dengan senyum riangnya.
Livy hanya mengulas senyum dan pandangan matanya bertemu dengan pandangan mata Agam. Lalu menunduk untuk mengurangi geroginya.
"Enak Sayang," balas Livy dengan mengulas senyum samar.
__ADS_1
"Pah, A lagi." Kini Oliv yang duluan membuka mulutnya dengan lebar. Agam pun ikut apa yang Oliv minta memberikan suapan penuh cinta, bergantian dengan anak dan istrinya.
"Papah, A juga dong." Oliv memang anak yang pandai sehingga seolah mengerti apa yang terjadi di antara ayah dan ibunya. Dan dia mencoba membuat suasana hangat
"Baiklah..." Lagi-lagi Agam ikut apa kata putrinya ia membuka mulutnya dan ikut makan bersama, berganti-gantian dengan putri dan istrinya.
"Udah Pah, Oliv kenyang." Oliv menutup mulutnya dengan telapak tanganya, dan hanya tinggal Livy dan dirinya yang belum kenyang.
"Biar Livy nanti makan sendiri saja Mas," tolak Livy saat Agam akan memberikan suapan kesekian kalinya.
"Vy, izinkan aku meberikan yang belum pernah aku berikan, izinkan aku memperbaiki apa yang dulu pernah aku rusak." Tatapan Agam dan Livy pun kembali bertemu. Agam perlahan mengulurkan tanganya ke hadapan Livy dan wanita cantik itu pun setelah melihat wajah Oliv yang nampak bingung ia kembali membuka mulutnya dan mereka makan berdua dengan kebisuan.
"Udah Mas, kenyang." Kali ini Livy yang menyerah. Dan Agam pun menghentikanya dan hatinya cukup bahagia karena ia sudah mulai dekat dengan anak dan istrinya.
"Oliv mau makan buah?" kali ini Agam menawarkan buah dan mengajak ngobrol dengan putrinya.
"Mau dipijit sama Papah?" tanya Agam lagi.
Kali ini Oliv mengangguk. sembari menunjuk kalau tangan dan kakinya sakit.
"Baiklah Tuan Putri, Papah akan pijit Oliv." Oliv sendiri melihat Papahnya memijit dengan baik pun tampak tertawa dengan rinyah. Agam merasa sangat senang karena Oliv bisa kembali tertawa, meskipun ia akan merasa ketakutan kalau ada orang lain, Oliv hanya mau dengan Livy dan Agam, bahkan untuk dokter yang mau periksa harus benar-benar Oliv mau kalau tidak akan menangis dengan keras, dan seperti ketakutan.
'Udah Papah, gantian sama Bunda..." Kembali Oliv menunjuk Bundanya yang masih terbaring dengan selang infus di tanganya."
"Bunda mau?" tanya Agam, tetapi Livy langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Bunda tidak sakit tangannya, Sayang" ucap Livy. Agam benar-benar merawat Livy dan Oliv dengan baik. Dari makan pakaian membersihkan tubuh Oliv dan membantu Livy ke kamar mandi, Agam membuktikan kalau ia benar-bena menebus kesalahanya.
__ADS_1
"Mas, mumpung oliv tidur, Mas juga tidur, pasti cape banget dari tadi ngurus Oliv dan Livy," ucap Livy yang bisa dilihat dari wajah Agam kalau laki-laki itu juga butuh istirahat.
"Nanti kamu kalau mau ke kamar mandi gimana? Atau kalau Oliv bangun dan butuh sesuatu?" tanya Agam dengan hati-hati.
"Livy bisa sendiri kok. Mas juga butuh istirahat, bukan hanya Livy dan Oliv, jangan sampai kalau nanti Mas ikut sakit, nanti yang jaga Oliv dan Livy gimana."
"Baiklah kalau gitu Mas istirahat dulu yah. Tapi kalau kamu butuh sesuatu bangunkan Mas." Agam hendak beranjak pindah ke sofa.
"Mas mau ke mana?" tanya Livy dengan suara setengah tercekat.
"Mas tidur di sofa saja," jawab Agam dengan menunjuk sofa yang cukup untuk dirinya istirahat.
"Kenapa tidak di sini saja. Di sofa pasti tidak enak. Di sini masih muat untuk bertiga." Livy menepuk sisi ranjangnya yang memang masih luas. Mendengar ucapan Livy, Agam pun menatap sang istri dengan dalam. Sorot mata mereka pun saling bertemu.
"Apa itu tandanya kamu memberikan kesempatan untuk aku memperbaiki kesalahan aku?" tanya Agam dengan tatapan serius.
"Setiap orang pernah melakukan kesalahan, tidak terkecuali Livy juga pernah melakukan kesalahan. Kita perbaiki bersama-sama." Agam langsung berjalan dan duduk di samping Livy yang tengah bersandar di ranjang tempat ridur.
"Terima kasih, memberikan kesempatan ini pada Mas, Mas janji akan perbaiki semua kesalahan Mas dulu." Agam memegang tangan Livy dan mengecupnya berkali-kali.
"Iyah, Livy juga minta maaf. Kita perbaiki bersama." Agam dan Livy pun saling berpelukan dengan hangat.
"Udah Mas, buruan Mas istirahat nanti kalau Oliv keburu bangun malah nggak bisa istirahat lagi." Livy menepuk samping ranjangnya yang kosong. Tanpa menunggu lama Agam pun memposisikan tubuhnya tidur dengan memeluk tubuh sang isttri dengan mesra, hal yang tidak pernah dilakukan selama menikah.
Ia memang melakukan hubungan suami istri tapi tidak pernah menggunakan rasa, dan hanya sekedar kebutuhan dan tanpa adanya cinta dan pemanasan atau yang lainnya. Menjalani rumah tangga terpaksa membuat Livy dan Agam lebih banyak menghabiskan rumah tangga sendiri-sendiri dan tanpa banyak komunikasi Ini adalah kesempatan terbaik untuk Agam membuktikan bahwa ia bisa berubah.
Bersambung....
__ADS_1
...****************...