
"Apa Agam tidak pantas untuk memperbaiki diri ini Om? Apa tidak ada kesempatan untuk Agam memperbaiki semuanya?" Agam bertanya dengan suara yang sudah bergetar hebat, karena menahan tangisnya. Tepatnya tangis penyesalan.
"Bukan tidak pantas Agam. Kalau kamu mau memperbaiki diri itu jauh lebih baik, dan pasti Oliv akan sangat senang karena mempunyai Papah yang perhatian dan perduli seperti kamu, tetapi soal Livy. Bukankah setiap orang berhak menentukan pilihan? Termasuk Livy dia lebih nyaman ketika membesarkan Oliv dengan seorang diri, bukan berarti kamu tidak diperbolehkan menjenguk dan ikut adil dalam membesarkan Oliv. Livy tetap memberikan kamu kesempatan untuk ikut adil kalau kamu mau membesarkan Oliv bersama, Livy tidak membatasi itu, tetapi untuk memperbaiki hubungan jangan memaksa karena setiap orang berhak memilih bahagianya masing masing tanpa harus bersama.Cinta tidak harus tentang memiliki, dan juga tidak harus tentang menyayangi. Cinta bisa saja tentang sadar diri dan keikhlasan. Membiarkannya bahagia dengan pilihannya." jelas Om Jax dengan suara yang sangat bijaksana.
Kedua bola mata Agam langsung berbinar bahagia setelah mendengar ucapan laki-laki kepercayaan almarhum sang Papih.
"Apa itu tandanya Agam boleh bertemu dengan Oliv? Agam ingin memperbaiki sebagai Ayah, mungkin Agam gagal sebagai suami, tapi saya tidak mau gagal sebagai seorang Papah," ucap Agam dengan semangat yang sangat tinggi, bahkan laki-laki itu sangat tidak membayangkan bakal sehancur ini karena kehilangan Livy dan buah hatinya. Wanita yang selama pernikahannya hampir tidak pernah menjadi prioritas dalam hidup laki-laki itu. Bahkan Agam masih sangat mengingat setiap perlakuan baik Livy yang dia balas dengan tatapan dan ucapan seadanya, mungkin tanpa Agam sadari itu cukup membuat Livy sakit hati, perlakukan kecil Agam yang secara sengaja untuk membuat Livy tidak merasa di hargai membuat Livy tidak ingin kembali ke dalam pelukan Agam.
"Tapi apa yang kamu katakan tidak bohong kan? Kamu tidak akan memaksa Livy untuk kembali dalam pelukan kalian. Karen Om tidak ingin Livy mengalami tekanan batin. Om tahu betul bagaimana sifat kamu Agam. Kamu adalah orang yang sangat keras jadi Om masih ada rasa takut kalau nanti kamu malah akan menyakiti Livy apabila Om izinkan kamu bertemu dengan dia," balas Om Jax, yang mana laki-laki itu sebenarnya tahu betul kalau Agam tidak mungkin melakukan kesalahan lagi.
__ADS_1
"Agam berjanji Om, Agam tidak akan melakukan kesalahan lagi, sudah cukup Agam melakukan kesalahan sekali, Agam tidak akan lagi melakukan hal bodoh untuk kedua kalinya," ucap Agam masih dengan suara yang parau.
"Yah, memang seharusnya kamu berpikir seperti itu, biarkan Livy menata hatinya dan kamu juga memperbaiki diri terutama menjadi ayah untuk Oliv percayalah kalau jodoh pasti kamu akan kembali lagi pada Livy dengan cara yang Tuhan kehendaki," balas Om Jax laki-laki itu kenal almarhum papih Agam sudah sangat lama sehingga laki-laki itu ingin yang terbaik untuk Agam.
"Baik Om, Agam tahu dan Agam akan perbaiki hidup Agam," balas Agam dengan suara yang jauh lebih baik.
"Baiklah kalau gitu kamu bersiap dan akan Om antarkan ke rumah Livy tapi Om berharap kamu benar-benar menepati janji kamu."
Di tempat lain, di sebuah apartemen yang mewah. Tari langsung memerah wajahnya ketika sudah ada tiga calon pembeli rumah mewah yang di tawarkan tetapi membatalkannya karena sertifikat yang dia tunjukan bukanlah yang asli.
__ADS_1
"Kurang ajar, apa mungkin pengacara itu mengerjai gue, dengan memberikan sertifikat palsu," gumam Tari, dan dia pun yang penasaran bertanya ke pihak yang jauh lebih tahu dengan keaslian sertifikat tanah dan bangunan yang dia miliki. Bayangan uang ratusan milliar terpaksa di kubur oleh Tari, ketika wanita itu tahu kalau dia ditipu oleh pengacara itu.
"Jadi mereka sudah sekongkol untuk menjebak aku. Berani sekali mereka, tunggu pembalasanku. Aku akan buat mereka menyesal, akan aku hancurkan karir dan rumah tangga mereka. Bukan aku yang mulai semua ini, tetapi para parasit itu, terutama Livy, ini semua pasti karena ide menantu itu kurang ajar itu dia berani melawan aku, menyesal aku karena dulu pernah percaya sama dia," gumam Tari, dengan mata merah menyala.
"Seharusnya aku bisa hidup enak dengan harta-harta Dirga yang kaya raya itu uang ratusan milliar malah gagal aku dapatkan." Tari pun terus ngedumel, padahal uang yang dia dapatkan dari merampok barang berharga milik mantan suaminya tidak kalah banyak, tetapi wanita itu terus saja menyesali karena jiwa rakus mungkin sudah menguasai hidupnya.
"Mam, kenapa wajah Mamih sepi seperti itu?" tanya Gava dan Gavi yang baru saja datang ke apartemen yang di jadikan tempat persembunyian Tari.
Bruggg... "kamu lihat itu, pengacara bodoh itu sudah menjebak Mamih mereka memberikan sertifikat palsu," ucap Tari dengan melemparkan sertifikat yang sudah tiga calon pembeli tolak karena palsu.
__ADS_1
"Apa yang Mamih mau kita lakukan untuk orang-orang itu?" tanya Gavi, dan di sambut senyum misterius oleh Tari.
Bersambung....