
"Nda... Mu...(Bunda Tamu) " Oliv yang bicaranya belum jelas pun mencoba memberitahukan pada sang Bunda kalau ada tamu yang datang.
"Tolong bukakan pintu, Nak?" ucap Livy yang sedang memasak untuk makan malam. Si kecil yang sedang bermain pun lari menuju pintu yang tidak begutu jauhnya.
"Sayang..." Agam yang sejak tadi menahan rindunya pun tidak kuasa ketika melihat sang buah hati dengan gemas dan pintarnya membuka pintu.
"Nda... Nda..." Oliv yang memang kurang begitu kenal dengan Agam, dan langsung di peluk dengan posesif pun langsung berontak, seolah bocah kecil itu merasa terancam.
Livy yang mendengar suara anaknya seperti tertekan pun langsung mematikan kompor dan melihat ke pintu.
Deg!! Jantung Livy seolah berhenti berdetak dan juga menatap Om Jax yang berdiri di belakang Agam.
"Mas, jangan peluk Oliv seperti itu nanti dia ketakutan," ucap Livy dengan suara yang mencoba tetap tenang. Meskipun dalam hatinya ibu satu anak itu belum begitu siap untuk bertemu sang mantan suami, tetapi karena saat ini sudah ada di hadapannya sehingga Livy pun mau tidak mau harus melayani tamu yang datang.
Hati Livy sedikit tenang ketika ia melihat kalau Agam langsung melepaskan pelukannya pada si kecil, dan laki-laki itu pun langsung menatap Livy dengan tatapan yang memelas. Bahkan kini Agam sudah sangat berubah, Livy melihat tatapan Agam, juga sudah tahu bahwa laki-laki yang ada di hadapannya saat ini bukan laki-laki yang keras kepala seperti dua tahun lalu.
"Livy, aku minta maaf. Selama ini aku tidak mendengarkan apa yang kamu katakan." Agam langsung mengakui penjelasannya. Livy pun matanya awas melihat ke depan, di mana Om Jax memilih menunggu di mobil.
__ADS_1
"Masuk Mas, jangan di depan pintu nanti banyak yang mendengar." Livy menggeser tubuhnya ke samping untuk memberikan akses jalan untuk mantan suaminya. Dan Agam pun tanpa pikir panjang langsung menggerakkan tubuhnya untuk masuk ke dalam kontrakan sempit Livy. Kedua bola mata Agam terus memindai ruangan kontrakan Livy yang tidak seberapa.
Seperti pada tamu lainya. Livy pun mengambil air minum dengan menggendong Oliv yang masih ketakutan dengan sang papah tidak mau turun dari gendongan sang bunda.
"Maaf di sini nggak ada apa-apa hanya ada air putih." Livy menyuguhkan air putih di meja. Dan setelah itu ia memilih duduk di karpet untuk menemani bermain dengan Oliv.
"Oliv kenapa? Itu Papah, kenapa Oliv takut? Udah salim sama Papah?" tanya Livy dengan suara yang sangat lembut, dan gadis kecil itu langsung menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Kalau gitu salim dulu Nak, itu Papah, kan Oliv kangen Papah tidak?" tanya Livy lagi, mungkin Oliv lupa dengan papahnya itu semua efek karena Agam yang hampir tidak pernah ada waktu untuk Oliv.
"Loh, kok tidak kangen? Loh kok tidak rindu. Papah itu kan orang tua Oliv juga harus kangen dong. Coba sana salim sama Papah, Oliv kan katanya mau jadi anak baik harus salim." Livy terus mencoba berbicara dengan Oliv meskipun wanita itu tahu, kalau di usia Oliv yang masih sangat kecil untuk memahami semua yang terjadi dengan dirinya belum begitu paham, tetapi Livy terus memberikan pengertian agar Oliv tahu kalau dia itu juga harus sayang dengan sang papah.
Wanita itu dari awal sudah sepakat dan sudah yakin kalau dia akan berpisah secara baik-baik, masalah anak bisa di besarkan secara bersama.
Oliv pun yang notabenya sudah biasa di nasihati dengan halus dengan Livy langsung bangkit dan tanpa pikir panjang menghampiri sang papah dan mengulurkan tangan mungilnya untuk bersalaman dengan gemas.
"Oliv, Papah kangen Sayang." Agam pun mengangkat tubuh kecil sang putri dan meletakkannya di pangkunya, dengan tangan memeluk tubuh mungil Oliv. Anak bayi itu memang diam, tetapi matanya terus menatap Livy yang tersenyum pada buah hatinya, seolah Livy tengah berkata. 'Oliv tidak usah takut, ada Bunda.'
__ADS_1
Agam pun yang tahu kalau Oliv seperti tegang langsung menurunkan buah hatinya. Pandangan mata Agam melihat kontrakan yang cukup sempit dengan ruang tamu sekaligus ruang makan tempat bermain, tempat nonton TV dan di pojokan ada dapur kecil nyempil. Hanya ada kompor dua tungku dan beberapa perabotan untuk masak.
"Sini Sayang main." Livy mengambilkan mainan yang tadi tengah dimainkan Oliv dan bocah kecil itu kembali bermain dengan anteng.
"Livy, aku minta maaf atas semua perbuatan aku, dan aku ingin kamu balik ke rumah kita, dan memperbaiki hubungan kita," ucap Agam dengan suara yang berat dan juga terdengar sedih.
"Mohon maaf Mas bukanya saya keras kepala, tetapi dari jauh-jauh hari saya sudah menyiapkan untuk perpisahan ini. Dan saat ini yang terbaik untuk kita adalah hidup dengan masing-masing, dengan pikiran yang tenang tidak tertekan. Oliv juga lebih nyaman seperti ini, dan soal kamu mau bertemu dengan Oliv, aku tidak akan pernah melarang, tetapi soal kembali membina rumah tangga, Aku tidak siap. Hatiku akan sakit kalau kembali lagi, aku ingin hati ini bahagia jadi biarkan sendiri," ucap Livy dengan nada bicara dibuat sehalus mungkin agar tidak menyakiti Agam.
Agam kembali menghirup nafas dalam, sembari pandangan mata menatap Oliv yang memang nampaknya sangat terurus oleh Livy, belum Agam juga sebelum datang ke rumah mantan istrinya ia sudah berjanji kalau dirinya tidak membuat rusuh.
"Katakan Livy, aku harus bagaimana, agar aku bisa dimaafkan oleh kamu? Katakan aku harus berbuat apa agar bisa membahagiakan kamu?" tanya Agam dengan tatapan yang serius.
Sedangkan Livy sendiri masih terlihat cukup tenang dengan apa yang Agam katakan, wanita itu sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan Agam.
Bersambung....
...****************...
__ADS_1