Rahasia Kebaikan Ibu Mertua

Rahasia Kebaikan Ibu Mertua
Oliv Hilang?


__ADS_3

"Bu Livy, Oliv saya ajak ke depan yah. Mau beli gorengan," ucap Sisil, teman kerja Livy yang memang sudah akrab dengan Oliv.


"Oliv mau ikut sama Tante Cicil?" tanya Livy dengan suara yang mengikuti anak kecil, sembari menatap putrinya yang tengah bermain.


"Mau... mau..." anak usia belum genap dua tahun itu langsung terlihat raut wajah bahagianya ketika sang bunda menanyakan yang sudah pasti membuat dia bahagia.


Yah, Oliv sudah sangat hafal betul apabila ia diajak keluar oleh salah satu karyawan sang papah pasti akan dibelikan jajan, mainan atau es cream.


"Kalau gitu boleh ikut, tapi tidak boleh nakal yah," ucap Livy dengan memberikan seulas senyum manisnya.


"Iya..." Oliv pun langsung bersemangat meninggalkan mainanya, dan menggandengan wanita berhijab yang di sebut tante Cicil.


"Tolong jaga Oliv yah Sil, dia sekarang apa-apa ingin diketahui takut ada apa-apa," ucap Om Jaxtion, yang mana ruangan Livy memang masih satu ruangan dengan laki-laki yang sudah dianggapnya orang tuanya sendiri.


"Biak Pak," balas Sisil dengan sopan lalu menggandeng Oliv yang nampak girang karena Sisil sebelumnya sudah menjanjikan akan membelikan es cream, dan juga pentol kesukaan anak itu.


Tidak lama Oliv dan Sisil pergi, Agam pun datang ke kantor tempat Livy bekerja.

__ADS_1


"Loh, Oliv mana Vy?" tanya Agam biasanaya begitu dia datang Oliv pasti akan menyambutnya dengan berjingkrak bahagia, apalagi Agam membawakan mainan yang Oliv minta kemarin.


"Oliv sedang ikut Sisil ke bawah, katanya mau beli gorengan." Om Jax yang mengambil alih pertanyaan Agam.


"Sudah lama?" tanya Agam kembali dengan meletakan mainan masak-masakan terbaru. Oliv yang memiliki kesenangan seperti sang bunda suka memasak pun sangat senang kalau dia diberikan mainan masak-masakan.


"Baru, paling juga baru turun." Om Jax kembali mengambil alih pertanyaan dari bosnya.


"Tapi tadi nggak ketemu," balas Agam. "Seharusnya kalau baru turun ketemu dong," imbuh Agam yang sudah tidak sabar ingin anbokxing mainan yang baru dia belinya. Laki-laki itu bahkan sudah membayangkan bagaimana hebohnya sang putri saat membuka mainan yang dia bawa. Itu yang membuat Agam rela membelikan mainan yang tidak sedikit, bahkan Livy sudah entah berapa kali menegurnya agar jangan membelikan mainan-mainan sang putri lagi, selain rumah mereka yang makin penuh dengan mainan, Livy pun merasa sayang membuang uang-uang yang tidak sedikit demi mainan yang hanya sebentar Oliv mainkan. Anaknya sekarang sudah cepat bosan dengan mainan, dan itu sangat sayang melihatnya hanya teronggok di keranjang-keranjang di rumah yang sudah berjejer seperti toko mainan.


"Mungkin beda lift," jawab Om Jax asal dan jawaban itu berhasil membuat Agam tidak bertanya lagi hanya duduk melihat Livy yang sedang serius bekerja. Yah, mantan istrinya memang gila bekerja, ia akan sangat fokus dalam urusan pekerjaanya.


"Oliv sedang suka masak-masakan bukan?" balas Agam yang tahu kalau Livy tidak suka kalau Agam kembali membawa mainan baru untuk sng putri.


"Mas, sudah berapa kali saya bilang~~"


"Dari pada beli mainan lebih baik uangnya ditabung untuk masa depan Oliv." Agam yang sudah sangat hafal dengan ucapan Livy pun langsung menyela ucapan wanita yang berhasil memporak porandakan hatinya. Cinta yang datang terlambah membuat lubang penyesalan yang cukup dalam dalam hati Agam.

__ADS_1


"Nah, itu Mas tahu, harusnya Mas juga jangan terlalu memanjakan Oliv, nanti dia akan sulit dinasehati kalau sama Mas dimanjakan terus." Kembali Livy mengatakan hal itu yang mana sebenarnya hal seperti itu sudah sangat biasa Agam dengar tetapi laki-laki itu tetap saja ngeyel.


"Iya, saya janji ini yang terakhir kalinya, membelikan mainan," balas Agam dengan pasrah.


"Mas sebelumnya juga mengatakan seperti itu, Livy pikir benar yang Mas katakan, tetapi ternyata tetap diulangi lagi membawa mainan baru." Livy mengingatkan kalau laki-laki yang ada dihadapanya mengatakan hal semacam itu entah sudah berapa kali, tetapi tetap saja kembali datang dengan bawa mainan baru lagi.


Agam menyengir kuda, dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Iya ini janji yang terakhir kalinya Mas melakukanya."


Livy yang sudah malas berdebat masalah mainan pun kembali terfokus dengan pekerjaanya, sedangkan Agam mengecek ponselnya untuk mengawasi pekerjaan yang ia tinggalkan. Hingga tidak sadar sudah hampir satu jam Oliv keluar tapi tidak kembali juga.


"Kok Oliv lama banget keluarnya yah," ucap Agam dengan berdiri hendak mengecek ke bawah, tetapi bertepatan dengan itu pintu ruangan di buka cukup kencang.


"Bu... Tuan... Oliv... Oliv hilang."  Sisil masuk dengan wajah memerah dan juga mata yang sembah dan suara bergetar.


Bersambung....

__ADS_1


...****************...


__ADS_2