
Tanpa menunggu lama, berhubung Agam sangat penasaran sehingga laki-laki itu langsung mengambil apa yang Om Jax berikan. Cukup lama Agam membaca laporan yang orang kepercayaan almarhum sang papih berikan dan kedua matanya pun cukup terkejut dengan apa yang dia baca.
"Jadi selama ini?" Pandangan Agam langsung tertuju pada tiga orang yang sedang duduk di hadapanya.
"Yah, ini semua kami lakukan demi membuka kedok Tari, pasalnya kamu tidka pernah percaya dengan apa yang dikatakan oleh Livy, bahkan dia selama ini bertahan di rumah kamu hanya ingin memberikan penjelasan untuk kamu siapa Tari sebenarnya, tetapi rupanya apa yang Livy usahakan selalu ketahuan oleh Tari sehingga Tari selalu meracuni pikiran kamu, dan memutar balikan fakta seolah-olah dialah orang yang selama ini tertindas, dan Livy yang menginginkan harta-harta kmu, sehingga kami melakukan ini semua agar kamu tahu kebusukan Tari tanpa harus kami bersusah payah membukanya," jawab Om Jax dengan suara yang tegas.
"Jadi apa yang dikatakan Livy benar?" gumam Agam dengan kedua tangan menjambak rambutnya, kini ia semakin dilanda oleh penyesalan.
Om Jax dan pengacara Prabu menganggukkan kepala dengan bersamaan.
__ADS_1
"Tapi kenapa kalian tidak mengatakan pada aku, kalau yang dikatakan oleh Livy adalah sebuah kebenaran," ucap Agam dengan kedua bola mata yang sudah memerah.
"Apakah kamu akan percaya dengan mudah? Tidak Agam, kamu adalah orang yang sulit untuk disadarkan, hanya dengan cara ini kami baru berhasil membuka kedok Tari, kamu saja selama ini dengan kami hubungannya tidak akur, pasti kamu takut kan kalau kami akan mengambil harta-harta peninggalan dari almarhum Tuan Dirga? Atau justru Tari juga sudah mengotori pikiran kamu?" Kali ini pengacara Prabu yang mengambil alih bicara, dan benar saja Agam hanya bisa diam, karena memang apa yang pengacara Prabu katakan ada benarnya. Mamih tirinya memang beberapa kali menghasut dirinya kalau orang kepercayaan almarhum papinya dan juga pengacara keluarga diam-diam ingin mengambil jatah pembagian harta dengan persentase yang besar. Itu sebabnya Agam memang seolah selalu menghindar kepada dua orang kepercayaan sang papih.
"Lalu sekarang di mana Livy dan Oliv?" tanya Agam, dalam pikirannya dia selalu dipenuhi dengan penyesalan pada Livy dan Oliv, karena selama ini tidak percaya dengan apa yang Livy katakan.
"Untuk apa? Mohon maaf Livy sebelumnya mengatakan pada Om, dia ingin tenang dengan hidupnya hanya berdua dengan buah hatinya, dan terbukti sekarang Livy jauh lebih baik hidupnya, bukan hanya Livy, Oliv yang usianya baru satu tahun setengah pun sangat paham lingkungan yang sekarang jauh lebih baik," ucap Om Jax dalam kata lain laki-laki itu tidak ingin kalau Agam menemui Livy, yah sesuai yang Livy katakan sebelumnya, kalau Livy tidak ingin bertemu dengan mantan suaminya, tetapi kalau Agam menemuinya untuk keperluan Oliv, mau tidak mau dia akan mengizinkannya, karena sampai kapan pun tidak akan ada mantan anak atau mantan papah.
Dari sekian lama ini adalah permohonan pertama untuk Agam, biasanya laki-laki itu akan sangat anti memohon, apalagi pada Livy yang belum bisa mengetuk pintu hatinya, itu dulu, terbukti kali ini pintu hati Agam di ketuk oleh ketulusan pembuktian cinta dari Livy, tetapi sayang itu semua setelah Livy memutuskan untuk mengakhiri semuanya.
__ADS_1
"Bukanya kami tidak percaya dengan apa yang kamu katakan Agam, tetapi lebih baik biarkan Livy menenangkan hati dan pikirannya, tekanan dari Tari selama ini yang sudah berjalan dua tahun lebih cukup membuat Livy menderita dan sengsara, dan ini adalah waktu untuk Livy memperbaiki perasaanya. Yah Livy sekarang bisa tertawa dengan lepas dan merawat Oliv dengan baik, dan apabila kembali menjalin hubungan dengan kamu belum tentu Livy akan sebahagia sekarang, kalau kamu memang sayang dengan Livy maupun Oliv kamu cobalah untuk tetap membiarkan keputusan Livy. Biarkan dia bahagian dengan pilihannya."
Hati Agam langsung tercubit ketika mendengar ucapan Om Jax, yang mana dia selama ini sudah benar-benar tidak memperdulikan perasaan Livy dan buah hatinya.
Agam pun hanya diam ketika mendengarkan penjelasan dari orang kepercayaan almarhum sang papi. Laki-laki itu baru sadar bahwa orang yang selama ini selalu ia benci nyatanya justru bisa memahami sang istri dan juga anaknya.
"Apa Agam tidak pantas untuk memperbaiki diri ini Om? Apa tidak ada kesempatan untuk Agam memperbaiki semuanya?"
Bersambung....
__ADS_1
...****************...