
"Livy kamu yakin akan memilih tinggal di sini?" tanya Om Jax ketika laki-laki setengah baya itu beserta sang istri mengantar Livy untuk pindah ke kontrakan yang tidak besar. Bahkan hanya terdiri dari ruang tamu yang tidak terlalu besar, dan satu kamar yang cukup besar kamar mandi dan dapur yang cukup sempit.
"Yakin, Om yang saat ini Livy dan Oliv butuhkan bukan rumah yang luas dan besar. Justru rumah yang seperti ini yang Livy butuhkan kecil sehingga kalau untuk beres-beres tidak terlalu cape, dan Oliv juga bermain tidak terlalu luas sehingga bisa Livy awasi terus," ucap Livy dengan yakin. Wanita itu sudah memikirkan semuanya dengan baik, bahkan Livy sudah mempertimbangkan setiap apa yang ia ambil, termasuk merapihkan rumah saat cape, saat anak tantrum, saat tubuh ingin di manjakan dia adalah wanita yang sangat perhitungan dengan segala yang dia lakukan termasuk tempat tinggal dan waktu untuk anak.
Yang Livy lakukan ingin agar dirinya tetap baik-baik saja dan tetap bisa memberikan waktu yang terbaik untuk buah hatinya. Sehingga hal terlihat sepele tetap Livy perhitungkan dengan matang.
"Ya udah kalau memang keputusan kamu seperti itu. Om, dan Tante akan terus mendukung kamu Padahal kalau besar pun kamu bisa sewa orang untuk merapihkan rumah," ucap Jaxtion dan sang istri setelah berbasa basi ngobrol dengan hangat, dan bermain dengan Oliv serta memberikan banyak nasihat untuk Livy, orang kepercayaan almarhum tuan Dirga pun berpamitan. Di mana laki-laki itu sedang berencana sesuatu dan berharap kalau apa yang dia rencanakan akan berhasil.
"Tidak usah Om, lagian Livy harus hemat, harus perhitungan biaya Oliv sampai dia sekolah dan segala kebutuhannya. Livy nggak mau apa yang Livy rasakan dulu Oliv merasakan juga. Sekolah dengan penuh keterbatasan. Belum Livy juga harus terus membantu Bunda panti untuk adik-adik panti. Ini udah sangat lebih untuk Livy." Yah, dia nggak boleh lengah dalam urusan uang karena cita-cita Livy masih banyak yang belum terlaksana.
Kembali Om Jax dan istrinya dibuat kagum dengan pemikiran Livy yang sangat luas.
Di tempat yang berbeda.
__ADS_1
Agam langsung menuju kantornya setelah ia ber hia-hia dengan Cala, dan berharap bahwa dirinya datang ke kantor, tentunya agar pikiranya bisa melupakan Cala ataupun masalah dirinya dengan Livy, yang entah mengapa Agam justru dalam batinya merasakan seperti hampa. Dulu Agam selalu malas dan kesal ketika Livy sering mengirimkan pesan bertanya makan, ibadah, istirahat dan lain sebagainya, tetapi kali ini Agam justru entah berapa balik melihat ponselnya, dan dalam hati kecilnya laki-laki dengan satu anak itu seolah mengharapkan pesan yang menanyakan dirinya sedang apa. Ya setidaknya Agam mendapatkan pesan dari Livy meskipun pesan itu adalah ungkapan kemarahan.
Namun, justru jangankan pesan dari Livy yang ada justru pesan dari Tari dan Cala, yang justru Agam memilih untuk mengabaikanya karena belum mau untuk menanggapi dua wanita itu. Agam ingin fokus dulu dengan pekerjaanya.
"Masuk!!" Agam meminta salah satu karyawan yang mengetuk pintunya dengan cukup kencang agar masuk ke dalam ruanganya.
"Ada apa Ji?" tanya Agam, sebenarnya bisa menduga kalau laki-laki bernama Puji itu sedang mencoba untuk menjelaskan apa yang terjadi dengan perusahaanya.
"Ada lihat?" Puji mengulurkan berita perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan yang ia pimpin dalam waktu satu malam membatalkan semua kerja samanya, bukti yang dia terima di lapangan adalah orang-orang yang bekerja sama dengan Agam, tidak mau kalau uangnya di pakai untuk berfoya-foya. Ternyata mereka semua tahu foto yang Tari sebar dan tidak mau kalau mereka rugi dengan memiliki pemimpin seperti Agam.
"Kamu sudah selidiki ke lapangan?" tanya Agam pada Puji yang merupakan sekretaris serta asisten kepercayaanya.
"Sudah Tuan, mereka memutuskan tidak mau kerja sama lagi," jawab Puji dengan meyakinkan. PadahalĀ tentu yang terjadi pada perusahaan yang di kelola oleh Agam atas rencana Om Jax untuk membuka jati diri Tari.
__ADS_1
"Berapa kira-kira kerugian yang kita tanggung?" tanya Agam dengan suara yang sangat berat.
"Proyek sudah berjalan setengah jalan, tentu kerugian tidak sedikit. Kami memang belum menghiting secara detail, tetapi kalau di itung kasar dan kemumgkinan lebih dari 500 Miliar," ucap Puji, dengan menunduk.
"Gila sebayak itu? Kita harus cari pengganti orang-oirang itu dari mana?" sedangkan saat ini saja aku sudah tidak punya uang tabungan, yang tersisa hanya rumah itu pun tidak bisa menutupi kerugian." Agam menjambak rambutnya dengan keras.
"Karyawan Anda banyak, dan juga untuk bayar iklan. Memang resiko ketika membangun hunian untuk bisnis akan ada kemungkinan kita ditinggal oleh orang yang bekerja sama, apalagi mereka tahu perbuatan Anda jadi sangat mungkin kalau Anda akan di perlakukan seperti ini. Apa yang saya rincikan itu sudah termasuk ganti rugi dari orang-orang yang minta dananya di kembalikan." Puji yang notabenya asisten langsung memberkan nasihat terselubung.
"Tari, Cala aku yakin bocornya info aku pergi ke club malam itu dari mereka, hanya mereka yang tahu aku pergi ke tempat itu. Sialan!" Agam pun langsung bangkit dari duduknya dan akan mencari Tari.
Laki-laki itu memang belum menemukan bukti kalau Tari memang melakukan itu semua, tetapi hati kecilnya berkata kalau Tari orang di balik itu semua.
"Kalau kamu adalah orang di balik ini semua, aku pastikan kamu tidak akan lolos Tari."
__ADS_1
Bersambung....
...****************...