
Sudah hampir satu jam aku hanya diam bergeming duduk mematung di sofa empuk ini aku hanya terdiam mendengarkan semua keluh kesah Minjeong kepadaku ia dari tadi terus mengutarakan isi hatinya tapi aku tidak menanggapi sedikitpun aku masih bingung dengan apa yang harus aku pilih.
Haruskah aku menerima saja tawaran nya untuk menjadi kekasihku dan membiarkan anak kami akan di rawat oleh aku sama Dongha atau aku biarkan saja Minjeong menceritakan semua nya dengan resiko rumah tangga ku akan hancur dan akan melukai banyak pihak.
Sungguh aku tidak ingin mengkhianati pernikahanku tapi aku juga tidak mau rumah tanggaku hancur begitu saja.
"Minjeong-a" Dengan ragu dan suara parau aku mulai bersuara
"mari lahirkan bayi itu" Semoga ini keputusan yang tepat
"aku akan terima tawaranmu tapi tidak boleh ada orang yang tau tentang hubungan kita"
"aku akan menjadi kekasihmu dan membesarkan anak itu bersama Dongha"
Minjeong tersenyum menang sepertinya ia sangat puas dengan keputusan ku aku tidak mengerti kenapa dia malah tersenyum padahal jika di cerna dengan benar perkataan ku itu hanya menjadikan dia pelarian sekaligus simpanan agar rumah tanggaku tetap aman.
"tapi aku juga punya permintaan"
"karena aku adalah wanita yang akan melahirkan anakmu maka aku yang harus jadi prioritas bukan Dongha"
"aku tidak masalah jika hubungan kita menjadi rahasia tapi kamu harus memihak kepadaku"
"segala nya harus aku bukan Dongha"
Rasanya aku benar benar ingin menampar wanita ini bagaimana mungkin ia dengan mudahnya memintaku untuk lebih mementingkan dirinya sedangkan dia bukan apa apa.
Dengan terpaksa aku mengiyakan ucapan nya aku berencana membuat dia tersiksa dan menyesal karena sudah memintaku untuk memacarinya tunggu saja tanggal mainnya.
...****************...
Akhir pekan setelah hampir seminggu beraktivitas akhirnya aku sampai di hari minggu rasanya benar benar menenangkan aku bangun kesiangan dan berakhir di omeli Dongha karena ia dari tadi sudah kerepotan memasak dan mencuci piring, dengan sigap aku langsung membantunya mengeluarkan baju dari mesin pengering dan langsung menyetrika nya, lumayan aku butuh waktu sekitar 2 jam untuk menyerika.
"ahhh capek banget ay nyetrika" Aku mengeluh dan langsung merebahkan tubuhku di sofa panjang depan tv
"ni minum" Dongha juga ikut merebahkan tubuhnya di sebelahku lalu menyodorkan segelas jus tomat yang baru di blender
"seger banget tenggorakkan ku langsung adem"
"tapi lebih adem lagi karena jus ini buatan kamu terus di minum sambil memandangi karya tuhan paling indah"
__ADS_1
"ih apasih gak jelas"
"yang nanti malam mau makan di luar apa di rumah?"
"di luar yok udah lama kita gak keluar kamu sibuk bangett"
"maaf ya maklum kan aku dokter"
"ih sombong gak papa de untung ganteng"
Setelah membersihkan rumah seharian aku dan Dongha berakhir dengan tidur siang yang panjang , aku kaget saat melirik jam sudah jam 5 sore padahal rencana nya kami hanya akan tidur 1 jam tapi malah bablas
"yang"
"yang bangun dah sore" Aku mengguncang guncangkan bahu Dongha pelan ia terlihat sangat pulas, namun bukan nya bangun Dongha malah berpindah posisi memunggungiku
"ihh dasar kebo ayokk kita harus siap siap" Akhirnya dengan paksaan Dongha bangun dan langsung menuju kamar mandi.
Sementara Dongha mandi aku sibuk mencuci piring sisa tadi makan siang karena ketiduran jadi belum sempat di cuci, saat asik mencuci sambil bersenandung kecil aku melihat Dongha keluar dari kamar menggunakan dress pink sederhana yang sedikit berada di atas lutut serta rambut panjang yang terurai begitu saja dan tentu wangi rose yang semerbak.
Cantik hanya itu yang mampu aku rapalkan padahal dia hanya menggunakan baju biasa tanpa perhiasan glamor atau make up yang mendominasi, tapi itu membuat dia menjadi semakin cantik, kesederhanaan yang selalu ia pancarkan dalam kondisi apapun.
"tunggu bentar aku juga akan siap siap"
Setelah hampir 1 jam perjalanan akhirnya kami sampai di tempat tujuan hanya rumah makan sederhana di sekitar sungai han.
Sesampai nya di sana aku langsung memesan dua mangkuk jjampong dan 2 gelas air lemon kami terbiasa tidak memesan banyak menu karena memang yang di makan hanya sedikit dari dulu Dongha juga tidak terlalu suka jika berhadapan dengan banyak pilihan makanan, dia akan marah jika melihat banyak menu di meja sedangkan yang di makan hanya satu atau dua menu itu terkesan seperti membuang buang makanan.
Setelah menunggu beberapa menit akhirnya pesanan kami sampai dua mangkuk jjampong dengan asap yang mengepul, aku lupa request ke pelayanan nya untuk tidak menaburkan daun bawang karena Dongha tidak menyukai nya.
"aduhh maaf yang tadi aku lupa bilang ke ibu nya kalo gak pake daun bawang"
"bentar ya aku bersihin" Aku langsung mengambil ahli mangkuk jjampong di hadapan Dongha dengan hati hati aku memunguti satu persatu daun bawang yang berserakan memastikan tidak ada satupun yang tertinggal, aku juga membantu Dongha memisahkan udang dari kulit nya karena Dongha juga tidak bisa makan udang jika masih ada kulit yang menempel.
Setelah siap aku langsung memberikan mangkuk jjampong yang sudah bebas dari daun bawang serta udang yang sudah di kupas kulitnya tidak lupa menaruh sumpit dan sendok.
"dah selesai selamat makan cantik" Dongha hanya menerimanya dengan senyum hangat dan mata yang berbinar, sudah ku pastikan ia terharu.
"sayang ada yang mau aku bicarakan" Aku mulai berbicara di tengah acara makan malam kami
__ADS_1
"hm" Ia hanya berdehem menanggapi sambil terus menyeruput makanan nya
"tentang itu loh masalah inseminasi" Dongha langsung tersontak dan berhenti mengunyah
"kamu udah ketemu yang?"
"iya aku udah ketemu"
"beneran? Orang mana"
"ada anak baru lulus SMA ia cuman tinggal dengan ibunya ayah nya pergi ninggalin banyak hutang"
"jadi dia butuh banyak uang, dia mau Dongha dia mau rahim nya kita sewa untuk melakukan inseminasi"
"baik banget anaknya Jaem, ya udah ayok besok aku mau ketemu"
"tapi dia memberikan syarat"
"hah? Syarat maksud nya apa Jaem"
"dia mau hamil tapi dia gak mau ketemu sama sekali dengan kamu katanya dia malu"
"loh koq malu"
"iya dia malu, dia malu jika harus berhadapan dengan kamu sepertinya dia minder"
"minder?"
"iya siapasih yang gak minder dengan kamu, kamu itu cantik dongha kamu wanita sempurna jadi wajar dia malu jika berhadapan dengan kamu"
"aku gak ngerti Jaem tapi kalo emang itu yang dia mau ya udah deh aku setuju"
"yang penting nanti dia mau ikhlas mau nerima anak kita"
Jaemin memang pengarang yang handal ia mengarang cerita agar kehamilan Minjeong bisa di selamatkan.
Sekilas ia setuju dengan pernyataan Minjeong bahwa ini takdir, saat ini dia memang membutuhkan rahim wanita untuk bisa mengandung anaknya tapi tanpa di sengaja ternyata Minjeong sudah mengandung anak nya bukankah ini sebuah kebetulan.
Jaemin berencana bersedia memacari Minjeong selama proses kehamilan karena bagaimanapun ia harus memantau kondisi anak nya jika sudah melahirkan ia akan meninggalkan Minjeong begitu saja dan jika Minjeong bercerita kesemua orang tentu Jaemin akan membela diri dia akan memutar balikkan fakta dan membuat Minjeong tersudut.
__ADS_1