
"Kim Minjeong bangun! Ku mohon jangan menyerah, ayo!" Sudah hampir lima menit aku terus memompa dada Minjeong berharap agar detak jantungnya kembali.
Aku juga sudah berkali kali menekan tombol darurat tapi kenapa lama sekali orang orang datang untuk membantu, kemana para dokter rumah sakit ini? Apa mereka tertidur.
"Jaemin berhenti!" Karina muncul dengan para dokter, membiarkan dokter dokter tersebut yang mengambil alih.
Mereka sudah siap dengan alat pacu jantung, tapi aku tidak tahan pergerakkan mereka lambat sekali, akhirnya aku merampas paksa alat tersebut dari tangan dokter ini.
Dengan cekatan aku langsung mengoleskan gel dan mulai akan memacu jantung Minjeong.
Zhip
Satu getaran tidak menunjukkan reaksi
Zhip
Dua getaran tapi Minjeongku masih kaku
Bunyi nyaring dari mesin kontrol serta garis lurusnya membuatku semakin panik, aku terus memacu jantung nya semaksimal mungkin tekanan dari alat ini pun sudah sangat tinggi.
"Minjeong....." Suaraku mulai lirih, aku hampir putus asa.
"Sayang...istriku bangun!" Alat pacu jantung ini sudah tidak bisa di gunakan, percuma jika ku paksakan untuk mengejutkan jantungnya maka kemungkinan buruk bisa saja terjadi, organ dalam nya bisa rusak karena di serang aliran listrik berulang kali.
"Sayang kamu dengar aku kan?" Ku raih tangan Minjeong dan mengecupi bibir dinginnya secara lembut ku tatap mata yang terpejam itu dalam dalam.
"Aku mohon bangun..."
"Tolong aku, aku minta maaf atas semua dosaku."
"Jangan begini, jangan hukum aku seperti ini!"
Tanpa sadar air mataku sudah mengalir deras, bulir demi bulir nya jatuh mengenai wajah pucat istriku, sekarang aku mengakui kamu istriku. Istri yang sudah berhasil melahirkan keturunanku, istri yang paling sabar dengan sikap bodohku.
Hari ini aku mengakui aku mencintaimu, aku janji jika kamu bertahan aku akan bersikap lebih baik dari sebelumnya.
"Aku mencintaimu Kim Minjeong..." Aku berbisik di telinganya berharap dia mendengar semua lirihan hatiku.
Sepertinya usahaku berhasil, ini keajaiban garis lurus yang di tampilkan di monitor mesin kontrol berubah menjadi garis kehidupan seiring dengan suara nyaring nya yang melebur dengan tangisan bahagiaku.
"Terimakasih." Aku cium lembut kening wanita itu lalu kembali menyerahkan semuanya kepada dokter di sini.
__ADS_1
.
.
.
Sepertinya aku tertidur terlalu lama, saat aku sadar dan melirik ke arah jendela langit sudah berubah menjadi jingga.
"Ya tuhan, aku ketiduran.!" Aku menelisik keadaan sekitarku sunyi sekali Karina Jeno sudah pulang tanpa pamit sedangkan Minjeong masih mengistrirahatkan dirinya di bansal rumah sakit dia tidak tidur hanya berbaring dengan mata terbuka tapi tatapannya kosong.
"Minjeongaa aku pulang ya." Setelah memakai jaketku kembali dan sedikit merapikan penampilan aku bersiap untuk pulang, aku harus menjemput Dongha dia masih di rumah orang tuanya.
"Jaemm..." Minjeong memangillku dengan suara lirihnya, aku bergegas menghampirinya dan mendekatkan kepalaku untuk bisa memandangi wajah sayunya.
"Jangan...jangan pergi!" Dia berucap pelan sekali benar benar tidak bertenaga.
"Aku harus pulang, Dongha sudah menungguku. Kamu di sini ya.. Ada Bibi sama dokter."
"Jangan..." Lirihnya lagi, padahal aku benar benar harus pulang karena tidak mungkin aku membiarkan Dongha lama lama di sana, dia bisa kelelahan karena seharian berakting hamil. Ayah sama abang juga bisa curiga karena aku menghilang sendirian.
Aku tidak pergi begitu saja, aku sudah meninggalkan asisten pribadi Minjeong untuk menemani dan mengurusinya selama aku tidak di sini.
"Iya, aku di sini." Aku memutuskan untuk menemani Minjeong di sini, Dongha akan ku jemput nanti selepas makan malam.
Dia tersenyum melihatku duduk di kursi tepat di sampingnya, ku raih tangan Minjeong dan mencium lembut pergelangan tangan yang di hiasi selang infus.
"Min anak kita sudah lahir, apa kau punya saran nama?"
"Aku tidak tau Jaem."
"Kau ingin melihat mereka?" Ku rogoh saku jaketku mencari benda pipi yang selalu ku bawa kemana mana.
Ku perlihatkan padanya video 2 bayi laki laki yang masih tertidur tenang di dalam inkubator, Minjeong tidak bereaksi apa apa wajahnya datar sekali saat ku tunjukkan video anaknya, berbeda dengan Dongha dia sangat antusias bahkan menangis terharu saat menonton video tersebut. Dongha sangat bahagia dia terus memintaku untuk mengiriminya banyak foto bayi laki laki mungil tersebut.
"Ada apa? Kau tidak senang dengan anakmu?" Tanyaku saat menyadari ekpresi Minjeong yang berubah masam.
"Bukankah dia anakmu dan Dongha? Aku hanya tempat penitipan." Ujarnya dengan suara parau tidak bertenaga.
"Hey jangan begitu, dia anakmu."
"lalu bagaimana Jaem kau bilang akan menceraikanku saat anak itu lahir? Sekarang mereka telah lahir apa saat ini kau akan mencampakkan ku?"
__ADS_1
Aku merasa bersalah Minjeong pasti tertekan karena aku sering bilang padanya untuk mengakhiri hubungan tidak sehat ini saat anak kami berhasil lahir, tapi aku berubah fikiran aku berhutang budi padanya, rasanya tidak pantas aku mencampakkan seorang wanita yang sudah melahirkan anakku.
"Minjeong dengarkan aku!"
"Aku minta maaf, maaf karena sering menyakitimu. Tapi aku janji itu tidak akan terulang kembali, kali ini aku serius."
"Serius?" tanyanya,
"Iya aku akan serius kepadamu, aku akan menyanyangi dan mencintaimu, aku akan memperlakukan mu sama seperti aku memperlakukan Dongha."
" Jaem.."
"Tapi...ini akan tetap menjadi hubungan belakang, hanya akan menjadi kisah belakang tidak boleh ada dunia luar yang tau."
"Jaemm, aku tidak masalah jika memang hubungan kita masih di sembunyikan yang terpenting sekarang kau sudah mau mengangap ku, itu lebih dari cukup."
"Iya, kasih aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya, aku tidak mau anakku tumbuh dengan seorang ayah yang brengsek."
"Terimakasih Na Jaemin!"
"Aku mencintaimu."
Minjeong menarik kepalaku untuk semakin dekat dengan wajahnya, "Bolehkah aku mencium mu?" Tanyanya ragu ragu.
Kenapa dia meminta izin biasanya dia akan langsung mencium dan memelukku sesuka hatinya, walaupun aku tidak membalas dia akan terus melakukannya.
"Akuㅡ"
"Aku juga mencintaimu Kim Minjeong." Tanpa sadar aku yang lebih dulu meraup bibir wanita ini ah ralat sepertinya sekarang akan menjadi wanitaku.
Ku tempelkan bibir keringku ke bibirnya yang dingin dan pucat pasi, perlahan dia membuka mulutnya mempersilahkan lidahku untuk bermain lebih dalam.
Kali ini aku merasakan kenyamanan saat menghisap dan merasakan saliva nya, rasanya sama saat aku melakukannya dengan Dongha.
Aku terus larut dalam ciuman di atas bansal rumah sakit, bansal yang menjadi saksi bisu akan kelahiran anakku dan sekarang bansal ini juga akan menjadi saksi bisu akan ketulusan cintaku kepada ibu dari anak anakku.
Aku terus menyesap bibirnya bahkan sesekali berpindah menelusuri wajahnya dan terus turun semakin kebawah memberi banyak tanda di leher jenjangnya.
Aku sudah di luar kendali, selulerku terus bergetar itu pasti panggilan dari Dongha tapi aku mengabaikannya karena terus sibuk menikmati kegiatan yang aku lakukan. Aku tidak tau ternyata Minjeong senyaman dan senikmat ini, sayang sekali aku sering mengabaikan tubuh indah ini.
Bersambung
__ADS_1