
Ini hari sabtu itu berarti aku tidak perlu repot repot bangun pagi karena rumah sakit tidak memberiku jadwal di hari sabtu, semenjak ketua tau istriku sedang hamil jadwal operasi ku menjadi tidak terlalu banyak aku sering pulang awal dan tidak pernah lagi masuk di akhir pekan.
Aku masih berselimut dengan tenang di atas kasur bersama Dongha, istriku itu tadi sudah bangun tapi aku menahannya walaupun sudah siang kami masih rebahan di atas kasur sambil bercerita ringan dan sesekali bercanda, aku dan Dongha masih sibuk terbahak bahak karena acara TV yang kami tonton tapi kegiatan kami terpaksa berhenti karena ada bunyi bel yang menganggu.
"Aku aja Yang!" Dongha menawarkan diri untuk membuka pintu dan mengecek siapa yang bertamu pagi pagi, aku rasa itu kedua orangtuaku karena mereka sudah terlalu sering datang pagi hanya untuk memberikan Dongha sarapan.
Dongha belari cepat menuju pintu karena bunyi belnya tidak berhenti, anak itu akan menyambut tamu dalam keadaan yang masih menggunakan piyama serta wajah kucel bangun tidur.
"DONGHAAA." Saat pintu berhasil terbuka Dongha terkejut karena yang pertama kali menyapanya adalah suara merdu dari kakak kandungnya dia tidak sendiri tapi di temani Ayah.
"Ayah, Abang!" Dongha membuka pintu lebar lebar menyilahkan kedua orang yang sangat di sayanginya masuk ke istana sederhana dia bersama Jaemin.
"Ayah koq ke sini pagi pagi?" Tanya Dongha sambil menggiring Ayahnya untuk duduk di sofa tamu, sedangkan Donghyuck sudah berkeliaran kemana mana dia menuju dapur lalu mengambil segelas jus apel kemudian berjalan menuju ke kamar utama.
Dengan tidak tahu dirinya Donghyuck langsung masuk ke kamar utama, Jaemin yang sedang rebahan pun sedikit terperanjat.
"Abangg !!!" Jaemin langsung bangkit dari tidurnya dan segera menghampiri Donghyuck yang sedang berdiri di depan TV,
"Bagus ya udah siang masih malas malasan nonton TV, aku kasih kamu libur itu untuk ngerawat Dongha bukan jadi pemalas."
"Abangku sayang, tanpa kamu suruh pun aku pasti sudah merawat dan mencintai istriku sepenuh hati." Aku membalas ucapannya sambil tersenyum menampilkan semua gigi putihku.
"Terus ini apa? Siang siang masih rebahan kamu itu harusnya mastiin Dongha sudah sarapan dengan baik, sudah minum susu sudah mandi sudah cantik, tapi apa aku kaget melihat adikku seperti gembel di pagi hari."
"Iya iya maaf, setelah ini aku pastiin Dongha akan sarapan akan minum susu lalu aku akan ku mandikan dia penuh kasih sayang."
"gak usah di mandiin juga, Dongha udah gede, modus aja lu."
"Modus dengan istri sendiri wajarlah Bang."
Donghyuck tidak merespon perkataan ku yang terakhir dia hanya memasang tampang malas lalu melangkah keluar, dengan semangat aku mengikutinya keluar tapi rasa semangatku mendadak luntur karena melihat sosok yang paling aku segani ada di rumah ini.
Walaupun sudah menjadi menantunya bertahun tahun tapi aku masih segan dan canggung jika berhadapan dengan John Lee, orangtua Dongha yang ini memiliki kharisma mematikan aku selalu menciut jika bertatapan dengan nya secara langsung, karena setiap aku perhatikan tatapan itu seolah selalu menekan dan mengintimidasi secara tidak langsung.
"Selamat pagi Ayah." Aku menghampirinya dan segera membungkuk sopan tidak berani bangkit sebelum mendapat perintah.
"Ooh menantuku Na Jaemin, duduk nak duduk." Ayah menepuk nepuk bagian kosong di sebelahnya dengan canggung aku duduk di samping Ayah, rasanya ini yang pertama kalinya aku duduk sedekat ini dengan Ayah mertuaku bahkan tangan Ayah sedang merangkul bahuku secara lembut.
"Gimana nyenyak tidurmu?" Tanyanya,
"iya Yah nyenyak, maaf sakin nyenyaknya aku bangun kesiangan."
"eeehhh santai, Ayah maklum koq." Ku kira Ayah juga akan mengomeliku karena kesiangan dan membuat anak bungsunya belum memasukkan apapun ke dalam mulutnya tapi ternyata tidak dia hanya mengangguk ngangguk seraya terus menampilkan senyum terbaiknya.
"Ayah denger dari Donghyuck katanya kamu ngidam?"
__ADS_1
"HAH NGIDAM?" Aku dan Dongha menjawab bersamaan dengan mata melotot tidak percaya,
"Si-siapa yang ngidam Yah?" tanya Dongha terbata bata,
"Lah kalian belum sadar." Ayah hanya mengeleng gelengkan kepalanya melihat ekspresi cengo kami.
"Ni ambil!" Bukannya menjawab pertanyaan Dongha Ayah malah menyodorkan kresek besar kepadaku, aku menerimanya semakin bingung.
"iihh gemes koq tampang kalian begitu." Ayah.
"Dasar, pantesan jodoh sama sama bodoh ternyata." Celetuk Donghyuck dari arah bersebarangan karena pria berkulit sedikit gelap itu duduk di sofa yang memang letaknya berseberangan dengan kami.
"Apa sih Bang, siapa yang abang katain bodoh?" Balas Dongha tidak terima,
"Kalian berdualah emang siapa lagi? Masa Ayah."
Ujar Donghyuck dengan santainya tanpa memasang wajah bersalah sedikitpun.
"Kalian memang belum menyadarinya ya?"
"Maksud Ayah apa?" tanyaku,
"Kamu Jaem, kamu sedang mengidam." Jawab Ayah masih tetap dengan senyuman khasnya.
"Aku?"
"Cara kamu mengidam mirip dengan Ayah saat Ibunya Dongha sedang mengandung dia." Ayah sepertinya akan mulai menceritakan masa lalu dengan sigap aku Dongha begitu juga dengan Donghyuck langsung menatapnya serius.
"Dulu saat usia Dongha baru 10 minggu tiba tiba Ayah juga menginginkan makananan yang paling Ayah benci. Saat itu entah kenapa Ayah pengen banget makan sup labu padahal Ayah gak suka labu."
"Ayah gak suka labu?"Tanya Donghyuck tiba tiba memotong pembicaraan Ayah dengan lancang.
"Iya." Jawab Ayah.
"pantes Ayah gak suka helloween."
"Apa hubungannya Abanggg?" -Dongha
"lah kan Helloween indentik dengan labu."
"Bukan Donghyuck bukan begitu, Ayah gak suka helloween bukan karena labu. Tapi saat kamu berusia lima tahun Ayah hampir kehilangan kamu."
"Hah? Koq aku gak tau."
"iya karena kamu masih kecil, waktu itu saat hari pertama helloween kamu di culik dan hampir mati, Ayah liat sendiri dengan mata Ayah kamu hampir di bunuh beruntung takdir masih baik."
__ADS_1
Kami semua tercengang mendengar cerita Ayah tentang masa kecil Donghyuck yang hampir mati, Ayah juga bercerita Donghyuck kecil sangat aktiv dan sulit di atur, setelah lelah bercerita tentang kelakuan Donghyuck yang tidak ada habisnya Ayah langsung kembali mengalihkan pembicaraannya tentang labu.
"udah ah koq jadi ngomongin itu, Ayahkan mau bahas labu. Jadi waktu itu Ayah pengen banget makan sup labu Ayah gak ngerti dengan diri sendiri kenapa seharian hanya memikirkan sup labu, dan ketika berhasil mendapakatnya Ayah makan dengan lahap."
"Ayah makan banyak sekali sampai semua orang heran, dan anehnya saat makan labu Ayah merasa bahagia. Itu berlangsung selama seminggu jadi seminggu makanan utama Ayah waktu itu adalah labu."
"Ooo," Donghyuck ber-oh panjang mendengar cerita Ayah.
"makanya sekarang Ayah bawaiin banyak strawberry untuk Jaemin, karena Jaemin juga mengidam makanan yang paling di bencinya."
Aku masih bingung mendengar penjelasan Ayah benarkah aku sedang mengidam? Aku kira aku jadi suka strawberry karena kerasukan hantu tapi ternyata karena bawaain calon bayiku nanti, jika memang ini maunya si calon bayi maka akan ku turuti.
Aku mengintip singkat apa saja yang ada di dalam kresek yang Ayah berikan padaku tadi, isinya banyak sekali di mulai dari buah strawberry, jus strawberry, susu strawberry, dan produk produk berbahan utama strawberry lainnya.
Aku menelan ludah saat melihat sebotol susu strawberry yang masih terduduk manis di dalam kresek itu, aku juga heran kenapa hari ini susu strawberry sangat menggoda padahal biasanya melihat saja aku hampir muntah,
Glek!
Glek !
Glek!
Seakan ada yang mengendalikan tanpa sadar aku sudah meminum habis tiga botol strawberry dan di lanjut mengunyah dengan lahap satu persatu buah strawberry, Ayah benar ada perasaan bahagia ketika memakan makanan yang sedang di inginkan lebih tepatnya yang sedang di idamkan.
Dongha benar benar menatapku kagum dan tidak percaya aku lihat air liurnya sudah mengeces beberapa tetes, karena dia menganga dengan lebar dengan mata melotot melihat kegiatanku barusan.
"Wahhh, ini hebat!"
"Benar benar hebat, biasanya seorang Jaemin akan ilfeel bahkan akan muntah saat melihat strawberry tapi hari ini suamiku benar benar menghabiskan banyak sekali buah ini, aku takjub!" Dongha berdecih sambil menepuk tangan dengan heboh,
"Ya jelas lah nak itu namanya bawaan janin, anak nya pinter ngidamnya di beratin ke Papanya." Kata Ayah,
"Sekarang Ayah tanya Dongha kamu ngidam juga gak?"
Perntanyaan Ayah yang tiba tiba itu membuat Dongha yang sedang tersenyum bangga melihatku memakan strawberry jadi luntur, raut wajahnya berubah masam tapi masih berusaha tetap senyum dengan tipis.
"A-ku gak ada ng-"
"Dongha ngidam Yah, kemarin dia ngotot banget pengen makan tangsuyuk." Aku memotong ucapan Dongha karena dia terlihat ragu ragu untuk menjawab.
"Benarkah? Wahh berarti siang ini ayo kita makan di luar kita cari restoran tangsuyuk terbaik, calon cucuku harus di turuti dengan baik agar pertumbuhan nya sehat." Ajak Ayah bersemangat.
"Setelah itu kita harus ke dokter, kita harus mengecek perkembangan janin kamu nak!"
Aku dan Dongha mendadak khawatir karena Ayah hari ini ingin mengecek kandungan Dongha, bagaimana ini jika Ayah ikut ke rumah sakit bisa bisa bisa semua sandiwara ini terbongkar, jika Ayah tau anaknya berbohong dia pasti sangat kecewa dan yang paling aku khawatirkan adalah mental istriku.
__ADS_1
Bersambung