
Setelah pulang dari rumah sakit Dongha berniat ingin mampir dulu di kediaman Lee Aeri istrinya Jeno, karena hari belum terlalu malam jadi kami akan bertamu sebentar di sana.
Baru saja masuk di perkarangan rumah kami sudah melihat kedua anak laki laki yang sedang sibuk bermain bola, mereka terlihat bahagia sekali karena terdengar jelas tawa dan teriakan heboh saat bola tersebut masuk sempurna ke gawang.
"Jaesun-a ibumu ada di dalam?" Tanyaku kepada anak tertua di keluarga ini usianya baru sekitar delapan tahun tapi dia sudah bisa di andalkan untuk menjaga adiknya yang berusia 6 tahun, jarak mereka tidak terlalu jauh itu sebabnya tinggi mereka hampir sama.
"Paman Jaemin!" Dia menyebut namaku dengan semangat lalu menggiring bola ke arahku dengan cekatan aku langsung menangkap bola itu dengan kakiku lalu menendangnya sehingga masuk tepat di gawang Jae-ri.
Jaeseun terlihat senang dia berjingrak jingrak bahagia melihat adiknya yang protes karena ada bola asing masuk ke wilayahnya.
"Yey skor kita sama." Ujar Jaesun bangga.
"Mana bisa bola itu di tendang oleh orang lain skornya gak kehitung" Balas Jaeri tidak terima,
"Bisa lah, kan Abang yang ngasi bolanya ke Paman Jaemin jadi tendangan Paman Jaemin masuk ke point Abang ngerti?"
"Aku bilang gak bisa gak adil tau!"Jaeri sedikit menyolot.
"Tapiㅡ"
"Hay udah udah, kalian belum jawab pertanyaan Paman." Aku menengahi perdebatan kakak adik ini,
Mereka terlihat mengernyitkan keningnya sehingga kedua bola yang bersembunyi di kelopak sipit itu menghilang.
"Paman tanya ibu kalian ada di dalam?" Tanyaku lagi dan sekarang berusaha bungkuk menyamakan tinggiku dengan tinggi mereka.
"Ada Paman lagi mandiin adek." Jawab Jaesun lalu pergi menghampiri adiknya yang sudah menunggu dirinya di tengah garis start.
"Lucu ya Jaem, mereka benar benar mirip Jeno." Celetuk Dongha yang sudah berjalan duluan untuk masuk kerumah besar milik Jeno dan Aeri.
Kami sudah sering ke sini jadi sudah hapal letak ruangan di rumah ini, kata Jaesun tadi ibunya lagi memandikan adiknya pasti sekarang dia lagi di kamar mandi. Benar saja ketika sampai di dapur kami melihat Aeri keluar dari salah satu pintu yang berjejer di ruangan ini, rumah ini memiliki dua kamar mandi yang bersebelahan dan berdampingan dengan toilet.
Jadi di dapur ada tiga pintu yang berjejer di antaranya pintu kamar mandi lalu toilet lalu kamar mandi lagi. Aeri terlihat sangat kerepotan menggendong bayinya yang sedang menangis dia berjalan menuju lemari pendingin dan mengambil satu botol susu.
"Dongha!" Setelah menutup lemari pendingin Aeri baru menyadari kehadiran kami.
"hay!" Sapaku canggung, karena Aeri cuman memakai handuk pendek sehingga paha dan leher jenjangnya bisa ku lihat dengan jelas.
"Jaemin, maaf maaf aku berantakan seperti ini." Aeri merasa tidak enak berpenampilan seperti itu di depanku dia bergerak bingung mau melanjutkan menyusui anaknya di sofa atau masuk kembali ke kamar mandi.
Dongha yang paham pun langsung menghampiri Aeri dan mengambil ahli untuk mengendong bayinya, "Kamu mau mandikan Aeri?" Tanya Dongha.
"Hm." Aeri hanya berdehem kecil,
"Ya udah sana mandi, biar bayi kamu aku yang urus." Senyum lebar langsung terpancar jelas di wajah Aeri saat Dongha menawarkan diri untuk mengurus bayinya.
__ADS_1
"Iya aku titip bentar ya Dongha, aku belum sempat mandi dari pagi anakku gak bisa lepas."
"Dia lagi haus tolong di beri susu dulu ya!" Aeri menyerahkan satu botol susu di tangan Dongha, dengan telaten Dongha langsung duduk di sofa sambil menyusukan bayi Aeri.
"Kasian." Dongha bergumam pelan dengan tatapan yang terfokus menatap si bayi.
"Kasian kenapa sayang?" Tanyaku lembut.
"Kamu liat sendirikan Aeri kerepotan ngurusi anak anaknya sampai gak sempat mandi dan dari wajah nya dia terlihat sangat lelah seperti sudah tidak tidur berhari hari."
"Iya kamu benar, Aku juga lihat tumpukkan piring yang belum di cuci dan rumah yang berantakkan pasti Aeri belum sempat mengerjakannya, karena si bayi rewel gak bisa lepas dari ibunya."
"Aeri seharian di rumah merawat dan mengurusi anak anaknya tapi si Jeno dia malah asik berselingkuh, dasar lelaki tidak berguna."
"Kesal sekali aku Jaem."
"Iya aku tau tapi tolong kecilkan nada bicaramu Dongha."
"Jaem nanti saat anak kita lahir kamu jangan sampai kayak gini ya, jangan biarin aku mengurusi anak kita sendirian. Aku gak sanggup."
"Ya ampun sayannggg, mana mungkin aku gak akan sanggup melihatmu kerepotan apalagi sampai kelelahan karena anak anak. Aku janji aku akan terus di sampingmu aku akan pastiin kita harus ngebesarin anak kita sama sama."
"Janji?" Dongha menyodorkan kelingkingnya kepadaku, aku membalas sodoran kelingking tersebut dengan mempautkan jariku dan jarinya,
"Janji!" Ucapku lantang namun dengan suara yang pelan kemudian ku kecup singkat kening istriku manyalurkan rasa semua rasa sayangku padanya.
Siang ini aku ada pertemuan dengan Karina, Karina menawarkan diri untuk bertemu Winter dia juga ingin tau perkembangan janin dari rahim wanita yang berstatus sebagai ibu biologis dari bayiku nanti.
Aku memimpin perjalanan mobil Karina mengikutiku dari belakang, aku memang membawa Karina untuk menemui Winter di kediamannya yaitu tempat tinggal dia saat ini yang terletak sama dengan apartemenku. Karina pasti bingung kenapa aku membawanya menuju jalan pulang ke rumahku.
Setelah memarkirkan lamborghiniku dengan rapi aku bersandar menunggu Karina keluar dari mobilnya dan segera menyusulku.
"Jaem kenapa kita ke sini?" Benarkan dugaanku Karina pasti bingung kenapa saat ini kami berada di kawasan rumahku.
"Kamu mau jemput Dongha?" tanyanya
"Bukan, tapi memang Winter tinggal di sini." Jawabku sekenanya lalu mulai berjalan perlahan.
"Hah? Maksudnya Winter tinggal serumah dengan Dongha?" Karina terus bertanya dan berusaha mengimbangi langkah kakiku yang berjalan cepat.
"Bukan begitu, Winter tinggal di salah satu unit di sini di lantai pertama."
"kenapa begitu? Dia tinggal dengan ibunya?"
"Tidak dia sendirian, dia tinggal di sini memang atas kemauannya sendiri."
__ADS_1
"Karin!" Kami sudah berhenti di salah satu pintu kamar, sebelum membawa Karina masuk lebih dalam aku ingin berbicara serius dengannya.
"Karin aku minta tolong sama kamu!" Aku menatap Karina dengan intens melemparkan tatapan memohon kepadanya.
"Tolong saat kamu sudah menemui Winter di dalam tolong bersikap tenang dan tolong rahasiakan ini dari semua orang termaksud Dongha."
"kenapa? Bukankah Dongha sudah tau?"
"Dongha tidak tau, aku harap dia memang tidak pernah tau"
"tidak tau tentang apa emang?"
"Soal siapa Winter, istriku tidak tau identitas sebenarnya tentang Winter."
"Wah aku kira kau laki laki terjujur yang pernah aku temui, tapi ternyata kau sama saja. Ada rahasia yang tidak kau ceritakan pada wanitamu."
"Aku memang tidak menceritakannya ini semua demi kebaikan Dongha, dia bisa terluka jika tau siapa Winter."
"Kau harus membayar mahal Jaem, karena aku sudah memegang banyak rahasiamu dan aku juga akan bersandiwara di depan semua orang dan gilanya aku juga akan bersandiwara di depan Dongha."
"Terimakasih, aku berharap banyak padamu Karin."
Dengan ragu aku memasukkan pin agar kamar yang selalu tertutup ini bisa aku buka; setelah terbuka aku menggiring Karina untuk masuk lebih dalam.
Jantungku berdegup kencang membayangkan Minjeong akan bertemu orang lain, entah lah pertemuan hari ini akan menyebabkan masalah besar atau akan berjalan dengan sempurna.
Bagaimanapun Minjeong Karina adalah sepasang sahabat, tidak bisa ku bayangkan reaksi Karina saat tau ternyata selama ini aku lah yang menyembunyikan wanita tersebut dan sudah merusak masa depannya.
"Aku datang." Ucapku parau, Minjeong saat ini sedang berdiri membelakangi kami dia sedang sibuk memasak sesuatu pantas saja saat masuk ke tempat ini aku dan Karina di sambut bau harum dari bawang putih.
"Jaeㅡ" Minjeong membalikkan badannya dia tersenyum dengan lebar saat mendengar suaraku tapi senyuman itu mendadak hilang bersamaan dengan mangkuk kaca yang terlepas dari tangannya.
"Aaaakkh Panas panass!" Minjeong bergerak gelisah saat kuah panas yang terjatuh di lantai mengenai kakinya.
"Aaaaa huaa sakit!" Minjeong menangis histeris saat telapak kakinya tidak sengaja menginjak pecahan kaca dan mengalirkan banyak darah.
Melihat Minjeong kesakitan aku juga ikutan panik tanpa sadar aku menggendong tubuh Minjeong dan segera mendudukannya di sofa, setelah memastikan Minjeong duduk dengan nyaman aku terburu buru mencari kotak P3K lalu dengan hati hati aku mengobati dan memberi perban pada kaki Minjeong yang terluka.
Lagi lagi aku bergerak tanpa sadar aku mencium sekilas telapak kaki Minjeong yang sudah di perban, ini terjadi kerena kebiasaan. Biasanya saat Dongha terluka aku pasti akan memberi ciuman singkat di bagian tubuhnya yang terluka.
"kalian?" Sial aku lupa jika saat ini ada orang lain di tempat ini.
"Kalian berselingkuh?" Celetuk singkat dari Karina langsung menyadarkan ku dari kepanikan, mendadak kepalaku terasa pusing dan dadaku terasa memanas mendengar kata selingkuh.
Bersambung.
__ADS_1
Tinggal jejak ya!
jangan lupa komen dan like.