
Siang ini Aku dan Istriku serta Ayah dan Donghyuck sedang menuju ke sebuah restauran mewah di pusat kota, Ayah terlihat bersemangat sekali hari ini dia terus menceritakan bagaimana rasanya pertama kali menjadi orang tua, walaupun ada raut kesedihan ketika cerita tersebut menyebut kembali nama mantan istrinya tapi Ayah tetap berusaha tenang walaupun kami tau dia hampir menesteskan air mata ketika mengingat masa lalu.
"Ayah, kita sudah sampai." Donghyuck memotong cerita Ayah dan mulai mematikan mesin mobil lalu melangkah keluar,
"Benarkah? Wah terlalu asik bercerita Ayah gak sadar kita sudah sampai, ayo Jaemin Dongha!"
Aku mengikuti langkah kaki Ayah dari belakang, para penyambut tamu di tempat makan ini menyambut kami dengan baik mereka langsung mengarahkan ke meja yang sudah Ayah reservasi.
Baru saja kami duduk berbagai makanan mewah sudah siap di hidangkan dan di dominasi oleh daging sapi dan daging babi yang sudah di olah menjadi makanan lezat.
"Wah banyak sekali, Ayah!" mata Donghyuck berbinar melihat berbagai menu di meja dengan tidak sabaran Donghyuck bersiap akan mencomot satu daging sapi yang sedang di panggang tapi tanganya langsung di tepis oleh Ayah.
"Tidak sopan, Ayah belum mempersilahkan kamu makan." Donghyuck hanya menghela nafas, "lalu kapan kita makannya Ayah?"
"Ayah pesan ini semua untuk Dongha, jadi Dongha lah yang harus memulai acara makan kali ini,"
Dongha hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Ayah yang terus menyuruh nya untuk makan dengan lahap, sang Ayah benar benar memesan semua menu yang bahan utamanya adalah daging dia pesan banyak sekali hampir tidak ada celah untuk meja bundar ini.
Dongha dengan santai hanya mengambil satu sendok nasi lalu mengambil beberapa sendok tangsuyuk.
"Hanya segitu? Dongha-ya makan la ini." Ayah heran melihat Dongha yang hanya mengambil satu jenis lauk, dengan hati hati Ayah meletakkan daging BBQ yang masih mengepulkan asap di piring Dongha, lalu Ayah juga menyodorkan berbagai jenis lauk untuk mendekat ke arah Dongha melihat terlalu banyak lauk di dekatnya Dongha langsung berhenti mengunyah entah sadar atau tidak wanita itu langsung mengeluarkan ekspresi masam.
"Ayah apa kau lupa, Dongha tidak terlalu suka melihat banyak lauk di meja makan, itu akan menghancurkan moodnya." Ujar Donghyuck,
"Ayah tau Ayah tidak lupa, tapi jika seseorang sedang mengindam biasanya dia akan menghabiskan atau memakan dengan lahap makanan yang di inginkannya tanpa memperdulikan porsi itulah sebabnya Ayah pesankan banyak daging untuk Dongha, tapi..."
"Mana bisa Ayah pukul rata semua orang Dongha ya Dongha." Balas Donghyuck sedikit menekan nada bicaranya.
"Tapi kamu liatkan sendirikan gimana Jaemin tadi pagi? Ayah fikir Dongha juga akan melakukan hal yang sama, dia sedang mengindam daging harusnya dia bahagia ketika memakan nya."
"Tapi Ayah liat sendirikan? Dongha tidak nyaman dia tidak nyaman dengan semua makanan ini, Ayah merusak mood makannya."
"Hyuck, Ayah tidak bermaksud merusak mood makan Dongha, Ayah cuman mau buat dia nyaman."
"Tapi dia gak nyaman Ayah!"
Tak!
Dongha merasa kesal dengan perdebatan Ayah dan kakak sulungnya untuk pertama kali dalam hidupnya Lee Dongha yang di kenal lembut dan sangat sopan tiba berdiri dari meja makan dan menghentakkan dengan keras gelas yang sedang dia pegang, hentakkan tersebut menimbulkan bunyi yang cukup keras Ayah dan Donghyuck serta Jaemin terlonjak kaget mereka saling melirik satu sama lain.
"Cukup, Aku mau pulang!"
"Aku tidak sedang mengidam Ayah, aku mohon cukup!" Dongha dengan wajah kesalnya langsung menarik Jaemin untuk mengikutinya keluar menuju pintu utama.
"Dongha mau kemana? Kamu harus makan!"
__ADS_1
"Dongha setelah ini kita harus kerumah sakit, Dongha DONGHAA !!!."
Dongha mengabaikan kakak sulungnya yang terus berteriak memanggil namanya, dengan alasan yang kurang jelas Dongha merasa kesal dan marah kepada keluarga nya juga kepada dirinya sendiri.
Saat ini Jaemin dan Dongha sudah berada di dalam taxi, sedari tadi Jaemin hanya diam membiarkan Dongha sedikit tenang dengan terus mengenggam tangannya dengan mata terpejam.
"Dongha ya?" Akhirnya setelah satu jam berjalan tanpa tujuan menggunakan taxi aku berani bersuara, ku lihat istriku mulai tenang dia tidak lagi memasang wajah cemberut.
"kita mau kemana sayang?" Tanyaku seraya memfokuskan menatap netra hitam itu yang sedikit kemerahan,
"Jaem!"
"Iya, Dongha mau kemana akan ku temani."
"Ayo kita kerumah sakit!" Serunya sambil memberikan arahan kepada pak supir untuk beralih menuju ke salah satu rumah sakit.
"Pak putar balik ya kita ke rumah sakit Sansil sekarang!" Ku kira rumah sakit yang di maksud Dongha adalah rumah sakit milik keluarganya ternyata bukan dia ingin pergi kerumah sakit tempat Karina praktek.
Ada apa kenapa tiba tiba Dongha ingin menemui Karina?
Aku ingin bertanya namun sungkan takut pertanyaan ku malah menganggu apa yang sedang istriku fikirkan dan kembali membuat dia merasa kurang nyaman, akhirnya pertanyaan di benakku ku pendam sendiri saja nanti juga bakal terjawab saat kami sudah menemui Karina.
Aku dan Dongha sudah di persilahkan masuk untuk menemui Karina di ruangannya, tidak mau membuang waktu Dongha berjalan cepat agar segera sampai di tujuan.
Dongha sudah masuk duluan aku mengikutinya dari belakang, dari kejauhan aku sudah melihat Karina sudah menunggu kami di meja kerjanya tapi dia sudah berpakaian formal tidak lagi menggunakan jas kedokteran.
Ini adalah pertemuan pertama kami dengan Karina setelah kejadian hari itu, sejak hari itu aku memang tidak pernah lagi bertemu Jeno sepertinya dia menghindar padahal biasanya seminggu sekali kami akan berolahraga bersama atau hanya berjalan santai menikmati angin kota.
"Ini di minum ya!" Karina menyodorkan kepada kami 2 cangkir teh panas, aku menerima dengan ramah.
"Maaf ya Karin sepertinya kami menganggu, kau sudah bersiap untuk pulang." Dongha akhirnya bersuara membuka percakapan di antara kami,
"Santai, kalo orang lain pasti sudah aku tolak tapi karena ini kalian tidak masalah." Karina membalas ucapan Dongha dengan mata yang sibuk bermain handhpone sepertinya dia sedang membalas pesan.
"Jadi apa alasan kalian kemari?" Tanya Karina setelah memasukkan handphone nya di saku mantel merah muda yang ia kenakan.
"Karin, kau tidak lupakan? Waktu itu kau berjanji akan membantu kami."
"Tidak, aku tidak lupa Dongha. Kenapa apa sekarang kalian butuh bantuanku?"
"Iya, aku butuh sangat butuh."
"Katakan apa yang harus aku lakukan?"
"Karin bisakah kau menjadi dokter pribadi untuk Winter?" Karin mengernyitkan keningnya ketika Dongha menyebut nama Winter sedangkan Dongha terlihat sangat memasang wajah memelas keputusasaan.
__ADS_1
"Winter?"
"Iya Winter, namanya Winter wanita yang kini tengah mengandung anak Jaemin."
"aaaahhh jadi kalian benar benar serius soal inseminasi, kalo gak salah kemarin katanya dia sudah mengandung 2 bulan?"
"Iya tolong Karin, aku dan Jaemin sangat mengharapkan anak itu. Tenang saja aku akan memberi bayaran yang sesuai atas jasamu."
"Kau serius? Kalo begitu aku setuju."
"Karin, selain menjadi dokter pribadi Winter kau juga harus membantuku merekayasa kehamilanku, bagaimanapun ini sudah terlanjur semua orang taunya aku sedang hamil."
"Aku paham maksudmu Dongha,"
"Kau mau aku memeriksa segalanya tentang perkembangan janin siapa tadi Winter? terus rekam medis Winter akan ku ubah menjadi namamu. Dengan begitu semua orang benar benar yakin kau hamil Dongha."
"Kau cerdas Karin."
"Tentu saja, aku juga akan membantu mu memasang perut buatan sesuai dengan ukuran perkembangan perut si Winter."
Aku dan Dongha hanya bisa berdecak kagum dengan penjelasan Karina, Ibu dokter ini benar benar memiliki pemikiran yang luas dan cerdik, pantas saja perselingkuhan dia dengan Jeno bisa tertutup rapi selama bertahun tahun pasti karena otak cerdik yang dimiliki nya.
"Kalo begitu ayo!" Karina berseru dan sudah bangkit dari posisi duduknya.
"Kemana Karin?" Tanyaku dengan polos.
"Pulang lah, aku harus pulang kalian juga harus pulang. Lusa nanti aku akan bekerja dengan kalian tapi hari ini cukup di sini saja."
Kami bertiga menuju ke basement dengan bersama sama, kebetulan mobilku terpakir lebih dulu dari mobil Karina jadi di tengah jalan kami berpamitan. Aku melihat Karina berlari terburu buru kearah mobil nya dan membuka pintu depan tapi di bagian penumpang bukan pengemudi, itu berarti Karina tidak sendiri dia sedang bersama seseorang yang memang sudah menunggunya dari tadi.
Karena sedan mewahku belum bergerak sedikitpun jadi aku bisa melihat dengan jelas sedan Karina melintas di depan kami, aku sangat terkejut begitu juga dengan Dongha saat tidak sengaja melirik siapa yang mengemudi mobil Karina.
Pria berbadan atlestis dengan rambut hitam undercat serta kacamata bening menghiasi wajahnya dan hanya menggunakan kaos sederhana seperti kaos rumahan. Pria itu memiliki pahatan wajah yang sempurma hidung mancung dan rahang yang tegas pantas saja dia bisa menjalin hubungan dengan dua wanita sekaligus pasti karena mengandalkan ketampanannya.
Lee Jeno orang itu adalah Lee Jeno sepupuku, dia sedang mengemudi untuk wanita lain wanita yang berstatus sebagai selingkuhannya. Sampai detik ini aku masih tidak habis fikir kenapa Lee Jeno sanggup mengkhianati istrinya, padahal Aeri juga bukan wanita biasa dia cantik tapi masih cantikkan Dongha. Maksudku Aeri lebih cantik dari Karina meskipun sudah berkepala tiga kecantikkan Aeri tidak pernah pudar saat pertama kali aku melihatnya, Aeri juga dengan telaten merawat dan membesarkan anak Jeno tapi kenapa Jeno malah bersikap seperti itu.
Aku harap Jeno akan segera mendapat ganjaran karena sudah mengkhianati pernikahannya.
"AWASSS YANG!!!" Aku langsung menginjak rem mendadak karena teriakan Dongha sangat nyaring masuk ke indera pendengaranku.
Ternyata Dongha berteriak karena aku hampir menabrak pagar pembatas, aku mengemudi sambil melamunkan Jeno, kebusukkan Jeno terus saja melintas di kepalaku.
Jeno Jeno! Kau yang berselingkuh kenapa kepalaku yang pusing, Ya Tuhan aku harap Jeno segera sadar dan kembali ke keluarga manisnya.
BERSAMBUNG.
__ADS_1