Rahim Simpanan Na Jaemin (NCT X AESPA)

Rahim Simpanan Na Jaemin (NCT X AESPA)
Kesetiaan seorang suami


__ADS_3

Sudah lama aku merasa tidurku tidak setenang dan senyaman ini, beberapa hari yang lalu aku terus gelisah karena Dongha tidak hentinya menangis wanita yang berstatus istriku itu masih saja sedih dan jika kadang kadang ku dapati dia menangis dalam kesendirian.


Walaupun sudah hampir seminggu tapi Dongha terus merasa bersalah karena kehamilannya yang palsu, semenjak semua orangtau dia hamil mereka jadi sibuk bolak balik ke apartemenku apalagi Mama dan Papa kedua orangtua kandungku itu hampir setiap pagi datang mengecek keadaan Dongha bahkan Mama ngotot ingin tinggal di sini menemani Dongha ia ingin merawat menantunya sampai melahirkan. Tentu saja aku tolak mentah mentah karena itu sangat membahayakan posisi Dongha, kalau Mama satu atap dengan kami bisa saja semua privasi ini terbongkar.


Tapi syukurlah hari ini Dongha sudah bisa nerima rekayasa yang kami buat, dia tidak lagi bersedih dan sekarang akan fokus membantuku merawat kehamilan anakku di rahim orang lain. Perempuan cantik itu sudah mau menepikan rasa bersalahnya ia sadar jika dia larut dalam kesedihan itu hanya akan memperburuk keadaan.


Aku belum benar benar tidur, aku hanya memejam mata berusaha agar tertidur tapi baru saja kesadaranku mulai hilang ku rasakan handphone ku bergetar di atas nakas, ku raih benda pipih tersebut ada notifikasi pesan singkat dari seseorang.


Winter


Na, kamu udah tidur?


NJM


belum.


Winter


maaf ya Na aku ganggu lagi, tapi aku bingung aku pengen makan jelly rasa mangga tapi gak ada stock di kulkas.


Seperti nya aku mulai terbiasa bangun tengah malam meninggalkan istriku sendiri yang sedang terlelap demi mencari dan mengantarkan makanan ke bawah kepada Kim Minjeong wanita yang sedang mengandung anakku, hampir setiap malam aku mengunjunginya karena dia selalu menginginkan sesuatu dan berdalih sedang mengidam.


Saat Dongha bertanya tentang siapa wanita yang sedang mengandung anak kita aku hanya jawab seadanya ku ceritakan pada Dongha namanya Winter dan tempat tinggalnya tidak jauh dari apartemen kita, tidak mungkinkan aku ceritakan yang sebenarnya jadi aku memberi nama samaran untuk Kim Minjeong menjadi Kim Winter. Syukurlah Dongha percaya dan tidak bertanya aneh aneh karena dia sendiripun masih butuh waktu untuk menetralkan fikirannya.


Aku langsung bergegas pergi ke minimarket terdekat mencari makanan yang sedang Minjeong inginkan, aku membeli banyak jelly dan beberapa cemilan serta bahan masakan, untuk sementara Minjeong ku biarkan mengurusi dirinya sendiri dulu seperti untuk makan dia masih bisa masak sendiri selama bahan bahan mentahnya tersedia, nanti saat kehamilannya mulai membesar baru akan ku kirimkan asisten pribadi untuknya.


PIP


Setelah berhasil memasukkan pin dengan benar pintu kamar Minjeong langsung bisa ku buka, tanpa mengulur waktu aku segera menghampirinya yang sedang duduk di sofa dengan TV yang menyala.


"Minjeong-a ini." Aku menyodorkan kresek belanjaanku tadi kepadanya.


"Segera makan ini dan langsung tidur, ini sudah tengah malam jangan begadang kau harus menjaga kesehatanmu." Setelah memberinya arahan aku berniat ingin langsung pergi dan kembali ke kamarku, tapi baru selangkah aku bergerak Minjeong menarik tanganku.

__ADS_1


"Secepat itu Jaem? ayolah temani aku nonton dulu."


"aku bosan seharian di kamar setidaknya malam ini kau harus menjadi temanku."


"tidak bisa, aku sudah meluangkan waktu untuk mencarikan makananmu, aku harus segera kembali."


"Jaem..." Tanpa di duga Minjeong tiba tiba berdiri dan langsung memelukku, semakin hari dia semakin berani biasanya setelah aku mengantarkan sesuatu kepadanya dia hanya tersenyum membiarkan ku pergi.


"Lepas!" Aku berusaha melepaskan cengkaraman tangan hangat Minjeong dari pinggulku, tapi semakin aku berusaha ingin melepaskannya maka Minjeong semakin mengeratkan pelukkannya.


"aku merindukanmu..." Karena wanita ini tidak menurut jadi terpaksa aku mendorongnya sedikit kasar sehingga membuat dia jatuh terhuyung di sofa.


Aku menunjuk wajahnya, "Jangan aneh aneh Kim Minjeong aku tidak memberimu hak untuk menyentuhku seenaknya."


"Cih! Aku tidak bisa menyentuh mu seenaknya tapi malam itu kau menyentuhku semaunya bahkan tanpa batas, kau menyentuh seluruh tubuhku dan membuat aku hamil anak ini."


Minjeong mengelus ngelus perutnya yang masih datar, seolah mengingatkan kembali bahwa di sana ada tanggung jawab yang harus ku jaga.


"aagghh." Aku mengerang frustasi, setiap membahas kehamilan aku kalah.


"JAEMIN !!!" Minjeong berteriak memanggil ku yang terus melangkah keluar, aku tidak tahan lama lama di tempat ini.


.


.


.


Hari sudah pagi walaupun masih sedikit mengantuk aku tetap bersiap siap untuk pergi bekerja. Sekarang aku sudah rapi dengan stelan dokter ku, Dongha juga sudah meyiapkan sarapan dengan rapi di meja makan, aku menghampirinya dan mengecup singkat bibir Dongha ia tersenyum lalu menarik kursi menyilahkan ku untuk duduk.


"Selamat pagi Pak Dokter." Sapanya sembari menuangkan air putih di gelas kosong yang berdampingan dengan secangkir kopi.


"Pagi juga istrinya Pak Dokter."

__ADS_1


"Wahh hari ini kamu membuat sandwich." Aku segera memakan sarapan yang sudah istriku buat dan sesekali melirik ke arahnya ia tersenyum menatapku yang sedang sibuk mengunyah.


"Yang?" Panggilnya di sela kegiatan makan kami.


"Iya, kenapa Sayang?" Aku membalas panggilannya dan kembali bertanya, karena dari nadi bicara dia seperti ingin mengatakan seseuatu.


"kamu tau hari ini Mama menyarankan ku untuk menemui Karina, dia ingin aku melakukan check up rutin ke dokter tersebut."


"Ya jelaslah Yang aku bingung, kalo aku check up nanti pasti Karina bingung, aku menemuinya padahal tidak sedang hamil."


"Kamu tenang ya Dongha, nanti siang aku temani kamu menemui Karnia, aku ingin mengajak dia bernegosasi."


"maksud kamu?"


"Aku ingin Karina membantu kita agar kehamilan ini tetap bisa berjalan dengan baik, setau aku Karina itu gampang di ajak kerja sama asalkan kita kasi bayaran yang sesuai dia pasti mau."


Sesuai dengan janjiku pada Dongha siang ini aku mengantarnya untuk menemui Karina di rumah sakit tempat dia bekerja, Dongha masih khawatir ia takut Karina tidak mau di ajak kerja sama dan akan menceritakan semuanya kepada Mama.


Aku dan Dongha perlahan menuju ke ruangan pribadi Karina, letaknya tidak terlalu jauh dari ruang bersalin. Karena dia dokter kandungan sudah pasti ruangan pribadi nya tidak terlalu jauh dari UGD dan ruangan bersalin.


Aku bisa menemui Karina tanpa membuat janji terlebih dahulu, karena aku juga seorang dokter pihak resepsionis tidak banyak bertanya saat aku bilang aku ingin mengunjungi nya sebagai teman.


Dengan ragu Aku dan Dongha segera masuk ke sebuah ruangan yang bertulis Dr.karina SpOG, sebelumnya kami sudah mengetuk tapi tidak ada jawaban jadi dengan terpaksa kami langsung masuk tanpa menunggu penghuni ruangan tersebut keluar atau bersuara mempersilahkan kami masuk.


Ceklek


Pintu berhasil terbuka suasana hening dan langsung tercium bau harum dari pewangi ruangan yang bercampur bau obat obatan khas rumah sakit, aku menelisik setiap ruangan ini mencari sosok yang ingin aku temui.


Sepertinya aku dan Dongha datang di saat yang kurang tepat, di pojokkan dinding aku melihat Karina sedang bercumbu dan saling berpelukkan dengan seorang pria, pantas saja dokter tersebut tidak mendengar panggilan kami ternyata dia sedang sibuk berpacaran.


Tapi aku sedikit menyipitkan mata dan berusaha memfokus kan pandanganku kepada sosok pria yang sedang mempautkan bibirnya kepada wanita di hadapannya, dari punggung belakang aku tidak asing dengan pemilik punggung ini.


"Jeno?" Aku tidak salah liatkan, pria yang sedang mencumbu Dokter Karina adalah Jeno sepupuku.

__ADS_1


Ini gila pria ini sedang bermesraan dengan wanita lain selain istrinya, hari ini Jeno yang di kenal sebagai sosok laki sempurna dan selalu di bandingkan denganku oleh keluarga besar kami saat ini sudah tertangkap basah sedang berselingkuh di hadapan aku dan Dongha.


Bersambung.


__ADS_2