Rahim Simpanan Na Jaemin (NCT X AESPA)

Rahim Simpanan Na Jaemin (NCT X AESPA)
Lahirnya si kembar


__ADS_3

Suasana subuh ini benar benar sepi klinik bersalin yang aku datangi tidak memiliki pasien lain selain kami, walaupun keadaan begitu sepi dan menenangkan tapi perasaanku sebaliknya aku terus gelisah memikirkan nasib Minjeong di dalam dokter bilang dia harus segera di operasi karena jika terlambat bayinya bisa mengalami kegagalan, malam ini dia benar benar harus melahirkan dan resikonya anak kami akan lahir secara prematur.


Minjeong yang malang karena kecerobohanku dia harus di operasi sesar di dalam padahal dia selalu cerita ingin lahiran normal sambil mengenggam tanganku, tapi sepertinya itu hanya akan menjadi mimpi untuknya. Aku sebenarnya tidak terlalu perduli bagaimana proses lahirannya yang terpenting kedua bayiku bisa lahir dengan selamat, hanya itu tujuanku.


Bahkan hati kecilku pernah berharap agar Minjeong meninggal saja habis melahirkan, jika wanita itu mati maka aku tidak lagi bersusah payah menutupi aibku yang satu ini.


Aku terus mondar mandir merapalkan banyak doa untuk keselamatan anakku yang lahir prematur, aku benar benar tidak tenang selama belum ada kabar bahwa anakku lahir dengan selamat.


Bugh


Tiba tiba ada seseorang yang meninju tulang pipiku, aku meringis merasakan rasa nyeri yang menjalar di wajahku.


"aishh sial, kenapa kauㅡ"


"Jeno?" Aku tidak salah liatkan seseorang yang baru saja memukul ku tadi adalah Jeno, dia menatapku dengan penuh kemarahan di susuli Karina di belakangnya.


"Jaemin kau brengsek!"


Bugh


Lagi Jeno melayangkan satu pukulan di rahangku hingga aku terhuyung kebelakang.


"Aku tau kau bajingan, tapi aku tidak membenarkan seorang suami yang memukuli istrinya apalagi dia sedang hamil."


Bugh


Bugh


"Jen, tenang. Aku tau aku salah! Tapi sebaiknya kita jangan berkelahi di sini."


"Ini rumah sakit bodoh!" Aku melawan, aku berhasil menangkis serangan Jeno yang terakhir.


Setelah di tarik Karina untuk duduk Jeno kelihatan lebih tenang.


"Jaemin bagaimana?" Tanya Karina setelah kami sama sama duduk di kursi tunggu.


"Dia sedang di operasi, Minjeong harus operasi sesar bayinya harus segera di keluarkan." Jawabku seadanya.


"Jaemin kau bodoh kan? Entahlah aku hanya merasa kesal mendengarmu menampar dan mendorong Minjeong hingga pendaharan." Jeno memotong Karina, padahal tadi aku lihat Karina masih ingin berbicara,


"Iya aku tau, aku salah Jen sumpah aku tidak sengaja, aku tidak menyangka doronganku terlalu keras."


"Kau tau Jaem, aku juga sama brengseknya dengan mu, tapi seumur hidupku aku tidak pernah memukul apalagi berlaku kasar kepada wanita, terlebih wanita itu sedang mengandung anakmu."


"Bahkan jika aku kesal dengan Aeri aku hanya diam, aku tidak sanggup membentak dan memukulnya, karena aku menyaksikan sendiri bagaimana susah nya Aeri melahirkan anak anakku."


"Jika kau tidak sanggup membentaknya karena dia ibu dari anakmu tapi kenapa kau tega mengkhianatinya?" Jeno sempat terdiam mendengar pertanyaanku tadi, dia menarik nafas sebentar ada sedikit penyesalan di wajahnya.


Jeno meraih tangan Karina dan menggenggamnya erat, "Aku tidak tau, aku juga mencintai wanita di sampingku ini. Semuanya terjadi begitu saja,"

__ADS_1


"Jika kau harus memilih? siapa yang akan kau pilih?" Tanyaku, Jeno bungkam sedangkan Karina sama seperti ku menatap Jeno memuntut jawaban. Tapi alih alih menjawab Jeno malah diam seribu bahasa.


"Jawab Jen!" Seru Karina,


"Aku..."


"Aku tidak tau, Karin aku mencintaimu tapi aku juga menyanyangi dan membutuh kan Aeri. Aku sudah bergantung kepadanya selama ini."


Melihat Jeno yang tidak bisa menentukan pilihannya, aku sedikit bangga dengan diriku. Jika aku yang di tanya tentu saja aku akan menjawab aku akan memilih Dongha, walaupun Minjeong adalah ibu dari anak anakku tapi hatiku hanya untuk Dongha, aku tidak akan jatuh cinta dengan siapapun selain padanya.


Sekitar jam lima pagi akhirnya ada dokter yang keluar dari Kamar Minjeong di ikuti beberapa orang suster di belakangnya.


"Selamat bapak, anak anda berhasil lahir dengan selamat. Mereka bayi kembar laki laki dan untuk ukuran bayi prematur fisiknya sudah cukup kuat."


"Saya rasa dia tidak akan lama hidup di dalam inkubator." Ujar dokter wanita itu dengan wajah yang berseri,


"anak saya sudah lahir?" Tanyaku tidak percaya, ada perasaan bahagia dan terharu dalam hatiku.


"Iya, silahkan anda bisa mengunjunginya di ruang bayi!"


Tanpa mengucapkan terimakasih aku langsung berlari mendatangi ruangan yang di maksud ibu dokter tadi, aku menangis melihat kedua bayiku sedang tertidur di dalam inkubator, mereka benar benar kecil sekali rasanya aku tidak sabar mengendong dan mengengam tangan mungil itu.


"Ayah, ini ayah nak." Aku berbisik lembut menempelkan bibirku di dinding kaca pembatas.


"Anak ayah." Aku terus merapalkan doa mengucapkan rasa syukur di dalam hatiku, "Cepat sehat ya nak nanti kita pulang ke rumah ketemu Bunda."


Jeno Karina ikut menghampiriku mereka juga terlihat bahagia saat memandangi kedua putraku.


"Mereka mirip sekali denganmu." Ujar Karina,


"Selamat ya Jaem kau sudah resmi menjadi ayah, sepupuku kau sudah punya tanggung jawab yang besar." Timpal Jeno sambil merangkul bahuku.


Kami bertiga masih sibuk mengagumi karya tuhan yang baru saja hadir di muka bumi, mereka benar benar terlihat menggemaskan tertidur sambil mengulum bibirnya sediri.


Saat sibuk menatap kedua bayiku ku rasakan sesuatu bergetar dari saku jaketku, ada seseorang yang menelpon.


"Halo sayang?" Sapaku menyapa seseorang di seberang sana yang sedang berbicara denganku.


"Halo Jaem, Jaemin kamu kemana pagi pagi sudah hilang?" Tanya si penelpon siapa lagi kalau bukan Dongha,


"Dongha kamu masih di kamarkan? Ayah sama abang belum tau kan aku pergi?"


"Belum, belum ada yang bangun."


"Syukurlah."


"Jadi kamu kemana pagi pagi?"


"Dongha, maaf ya aku ninggalin kamu sendirian. Kamu tau aku panik saat di mendapat telepon Winter pendarahan."

__ADS_1


"Pendarahan?"


"Iya tadi ibunya menelponku dia bilang anak nya terpeleset di kamar mandi, dan langsung pendarahan. Aku panik makanya langsung bergegas menyusul dan mengantar dia kerumah sakit."


"Dia gak kenapa kenapakan Jaem?"


"Dia pendarahan hebat jadi kata dokter anaknya harus segera di lahirkan."


"lalu apa yang terjadi?"


"Tuhan baik Dongha, anak kita sudah lahir dengan selamat walaupun prematur."


"Hah?" Samar aku mendengar di seberang sana istriku sedang menangis, " Di mana Jaem rumah sakit mana aku ingin menyusul?" Tanyanya.


"Sabar ya! Nanti kalau situasi sudah stabil aku pasti bawa kamu ketemu bayi kita, tapi sekarang belum bisa."


"Kenapa?"


"Ada Winter di sini sayang dia gak mau melihat kamu, kita harus tunggu sampai Winter tenang."


"Aku minta tolong ya, kamu tetap keluar seperti biasa gunain perut palsu kamu. Nanti kalau sudah aman kita harus merekayasa bahwa kamulah yang pendaharan dan melahirkan prematur, dengan begitu anak kita sudah bisa di lihatkan ke semua orang."


"Kalau ayah nanyain aku bilang aja aku sudah pulang ke apartemen duluan, nanti sore aku jemput kamu."


Tanpa mengucapkan kalimat penutup aku langsung mematikan sambungan telepon kami karena Jeno sudah menarik paksa tanganku untuk mengunjungi kamar Minjeong. Dia bilang Minjeong sudah sadar dan terus mencari ku.


Aku masuk dengan tenang ke kamar pasca operasi, bau obat obatan langsung berlomba lomba masuk ke indra penciumanku.


Aku melihat jelas Minjeong terbaring lemas di bansal itu, entah ada dorongan dari mana aku langsung memeluk dan menciumnya mengucapkan banyak kalimat terimakasih.


Aku juga menangis terisak menyesali perlakuan ku padanya yang terlalu kasar, dia tidak merespon apapun bahkan pergerakkan tangannya pun tidak ada.


"Minjeong?" Aku mendongakkan kepalaku menatap wajahnya yang ternyata kembali terpejam rapat.


Ada apa ini apakah dia tertidur karena masih lelah? Atau dia pingsan atau jangan jangan. Tidak mungkin walaupun aku sempat berharap dia meninggal saja tapi kali ini aku tidak rela.


Mendadak aku merasa kasihan padanya, wajah yang terlelap itu membuatku tersadar bahwa ada banyak ketulusan darinya.


"Minjeonga? Kau tidur? Kau tidak ingin melihat bayi kita?" Aku berbisik di telinganya.


Mendadak aku melihat mesin kontrol di samping Minjeong menunjukkan garis lurus dan tiba tiba berbunyi kencang.


"Apa ini? Jangan, ku mohon jangan."


"Minjeong kau kuatkan? Ayo bertahan." Dengan ilmu kedokteran yang ku miliki aku mencoba memompa mompa dada Minjeong yang berhenti naik turun.


Aku panik sekali takut detak jantungnya tidak kembali, ku cabut semua doaku yang pernah mendoakannya untuk pergi saja selamanya, ku cabut semua umpatan umpatan tidak berguna yang sering aku utarakan padanya.


Tuhan tolong, kali ini tolong aku...

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2