Rahim Simpanan Na Jaemin (NCT X AESPA)

Rahim Simpanan Na Jaemin (NCT X AESPA)
tujuh bulanan yang menegangkan


__ADS_3

Cuaca di luar hari ini sangat panas, padahal sudah hampir jam dua siang tapi matahari terasa begitu menusuk seperti matahari tengah hari panas sekali.


Hari ini istriku Lee Dong Ha akan merayakan syukuran atas kehamilannya yang sudah masuk tujuh bulan, kami mengadakan pesta di rumah pribadi milik keluarga Dongha atau rumah yang di tempati oleh Jonh Lee ayah mertuaku.


Rumah ini sangat besar di lantai satu saja sudah cukup menampung semua tamu undangan yang jumlahnya ratusan. Aku tidak begitu kenal siapa saja yang hadir di acara kali ini, yang jelas mereka terdiri dari kedua belah pihak keluarga besar kami.


Dan sisanya adalah rekan kerja ayah mertuaku dan rekan kerja papa kandungku, padahal ini hanya acara syukuran tujuh bulan tapi suasana dan meriahnya hampir sama dengan suasana pernikahan, para orangtua tidak main main dalam menyiapkan acara ini.


Saat ini Dongha sebagai tombak utama di acara ini masih di dalam kamar aku tidak tau kenapa lama sekali dia keluar, padahal acara akan di mulai satu jam lagi. Apa mungkin dia terlalu gugup untuk menemui banyak orang mengingat Dongha ku adalah wanita introvert pasti dia akan kesulitan berada di keramaian.


Dulu saat pernikahan kami saja dia sempat keringat dingin dan hampir pingsan saat acara berlangsung, semoga hari ini semuanya berjalan dengan lancar.


Jam setengah tiga akhirnya Dongha turun dari tangga di temani mama dan Karina di sisi kanan kirinya, Dongha berjalan sambil di tatih mama sama Karina dan di belakangnya ada asisten kami Bu Minju membantu mengontrol agar gaun putih panjang yang Dongha kenakan tidak terinjak oleh kakinya sendiri.


Jelas sekali dari wajahnya dia kelihatan gugup bahkan sorot matanya lebih memancarkan ke khawatiran.


Ketika mereka sampai di kursi utama di sampingku Dongha segera di papah untuk duduk secara hati hati, dia terlihat cantik sekali benar benar cantik layaknya seorang putri.


Mama dan Karina mengambil beberapa perlengkapan khusus untuk ritual syukuran ini, dan Dongha terus di tenangkan oleh Bu Minju yang setia berdiri di sampingnya.


Semenjak Bu Minju tahu bahwa kehamilan Dongha adalah palsu wanita tua itu malah semakin memperhatikan Dongha, di benar benar terlihat tulus aku seperti melihat kasih sayang seorang ibu ke anak perempuannya.


Acara berjalan lancar sesuai harapan dan sekarang saatnya para tamu menikmati sajian yang kami hidangkan di meja prasmanan.


"Jaem..., aku lelah!" Bisik Dongha di telingaku, acara selesai sekitar jam 5 dan ini baru jam 4 masih ada waktu satu jam, yang bisa ku lakukan hanyalah semakin mengenggam erat tangan istriku. Guna menyalurkan sebagaian energiku.


"Sabar ya sayang, orang orang masih menikmati acara, bertahan lah."


"Aku lelah Jaem harus pura pura tersenyum, aku merasa malu menampilkan senyuman di depan semua orang."


"Tenang ya jangan berfikir aneh aneh, malu? Kamu cantik kenapa harus malu."


"Bukan...bukan karena penampilan, aku malu perutku di liat banyak orang, bagaimana jika mereka menyadari bahwa perut ini gak normal?"


"Hustt... Udah jangan di ambil pusing sayang, perutmu normal kamu cantik dengan perut buncit."


"Tapikanã…¡"


"udah, liat tu di sana!" Aku menunjuk ke arah sekumpulan orang orang yang lebih dewasa dari kami yang sibuk bercerita sambil terus tertawa seraya menikmati makanan yang mereka ambil,


"Di sana ayah, abang, mama, papa semua orang terlihat bahagia jadi kamu juga harus bahagia ya! Hari ini jangan mengkhawatirkan apapun oke!"


"Hmm." Dongha hanya mengangguk pelan.


"Donghaaaaa..." Aeri tiba tiba muncul menghampiri kami di ikuti Jeno di belakangnya yang sedang mendorong kereta bayi.


"Selamat ya, aku tu seneng banget liat kamu. Akhirnya kamu sekarang hamil Dongha dan sebentar lagi akan jadi ibu kayak aku... Aaaaaa senangnya."

__ADS_1


"Dongha anak kamu cowokan, nanti udah gede kita bisa jodohin sama baby aku.." Celetuk Aeri asal sambil memeluk Dongha dan mengelus lembut perut besarnya.


"Hust ngawur ajar si Ma, masih kecil anak kita masih bayi. Udah ngomongin jodoh jodoh aja." Timpal Jeno dan ikut memberikan selamat untuk Dongha.


"iihhh Papa Jeno justru masih bayi kita harus booking posisi menantu di sini, lumayan bisa besanan dengan orang kaya."


"ngomong ngomong anak kalian yang lain gak di ajak Jen?" Tanyaku,


"Mereka udah gede Jaem udah bisa di tinggal, lagian kalo dua preman itu di ajak mereka cuman bikin rusuh aja."


"Hahahha anakmu Jen bisa bisanya di katain preman." Celetuk Dongha tiba tiba, mungkin saat Jeno menyebut kata preman dia teringat kelakuan ajaib anak laki laki Jeno.


Jaesun dan Jaeri mereka memang di kenal nakal luar biasa, di keluarga besar kami kedua anak itu sering kali berkelahi dengan sepupunya yang lain, dan pernah juga menjahili Lee Donghyuck hingga kesal dan berujung Donghyuck di palakin habis habisan. Donghyuck selalu menghindar jika akan berurusan dengan anak dari sepupu ipar nya itu.


Kami berempat larut dalam pembicaraan tentang cara merawat anak, Aeri terus membagikan pengalamannya dalam mengurus bayi dan Dongha terlihat menyimak dengan sungguh sungguh dia benar benar ingin mempersiapkan diri menjadi ibu yang baik.


Tapi atensi semua orang langsung beralih ke pintu utama, karena di tengah keramaian kami melihat sosok wanita hamil besar yang berjalan dengan angkuh mendekat ke arahku.


"Min-jeong." Ucapku terbata bata melihat Minjeong tiba tiba hadir di acara ini, nafasku rasanya tercekat tubuhku sudah keringat dingin melihat wanita itu ada di sini.


Begitu juga dengan Jeno dan Karina mereka sama terkejutnya dengan ku, Jeno secara refleks melepas genggamannya pada kereta bayi karena tangannya gunakan untuk menutup mulutnya yang terbuka lebar sedangkan Karina tanpa sadar melepas gelas kaca yang sedang dia genggam menimbulkan bunyi yang tersamar oleh ******* des*han orang orang di sekitar.


Mereka saling berbisik melihat kedatangan Minjeong, sedangkan Minjeong tetap berjalan tenang melewati sekumpulan orang orang yang menatapnya bingung.


"Hay Lee Dongha, selamat ya atas kehamilanmu." Katanya setelah sampai dan langsung menjulurkan tangannya ke arah Dongha.


"Hm aku Kim Minjeong. Sudah lama ya kita tidak bertemu."


"Apa yang terjadi?" Dongha bertanya seraya menatap kagum dan terkejut melihat perut Minjeong.


"Aku sudah menikah Dongha dan sekarang aku juga sedang hamil anak kembar, sama sepertimu." Jawab Minjeong santai dan ada nada mengejek dari suaranya.


"Tapi kapan? Wahhhh aku merasa terharu, kau sedang hamil besar Minjeong tapi masih menyempatkan diri datang kesini."


"Tentu saja aku datang, kau yang mengundangku kan!"


"Tapi waktu itu kamu bilang tidak akan datang."


"Aku berubah fikiran, bagaimana pun kita pernah dekat." Aku benar benar shock melihat Minjeong dan Dongha saling berbicara, aku tidak sanggup lagi berada di sini rasanya aku segera ingin berlari dan bersembunyi sejauh mungkin.


"Kau ke sini sama siapa Minjeong? Suami mana suamimu?" Tanya Dongha yang celingak-celinguk melirik sekitarnya.


Mendengar pertanyaan Dongha, Minjeong langsung melirik kearahku sedangkan aku tentu saja langsung membuang muka, aku takut sekali di sini Minjeong akan menceritakan semuanya.


"KIM MINJEONG!" Teriakan Donghyuck mengelegar di mana mana, Minjeong menoleh ke arah suara yang meneriakinya lalu tersenyum ramah.


"Hay Lee Dong hyuck!" Sapanya ramah,

__ADS_1


"Untuk apa kau kemari Hah? Kau tidak punya malu.... Bisa bisanya jal*ng sepertimu muncul di sini." Tatapan Donghyuck terlihat aneh, matanya memerah seperti akan menangis sedangkan wajah menampilkan ekspresi sangat marah dan kesal.


Wajar saja Donghyuck kesal wanita di hadapannya ini adalah wanita yang sudah mencampakkannya begitu saja, dan sekarang wanita yang sedang berusaha di lupakannya tiba tiba muncul di sini dan yang paling menyakitkan dia ikut memamerkan kehamilannya.


"Tenang Donghyuck, aku hanya menghadiri undangan. Aku juga ingin memberikan selamat untuk adik kesayanganmu."


"PERGI!"


"AKU BILANG PERGIII!" Donghyuck membentak Minjeong sekeras mungkin, Dongha sedikit takut mendengar bentakkan dari abangnya.


"Kenapa? Aku di undang!"


"Kau ******* tidak pantas berada di keluargaku, kau murahan." Jawab Donghyuck dingin,


"Abang..." Dongha merasa kasian melihat Minjeong yang sedang di marahi oleh sang kakak.


"Jangan membela dia Dongha, dia berselingkuh dariku hingga hamil anak pria itu, aku membenci nya benciii."


"Tapi abang keterlaluan." Jawab Dongha sedikit sarkastik,


"Keterlaluan?" Donghyuck lalu menarik paksa tangan Minjeong untuk keluar, "Biarku tunjukkan apa itu keterlaluan."


"Stop Lee Donghyuck!" Donghyuck berniat ingin menyeret paksa Minjeong dan mengusirnya secara tidak sopan, tapi Karina keburu hadir dan melepaskan cengkraman tangan Donghyuck dari pergelangan tangan Minjeong.


"Biar aku yang membawanya keluar." Karina mengambil alih tangan Minjeong dan membawanya keluar dengan hati hati bagaimanapun sahabatnya sedang hamil besar.


.


.


"Minjeong kau gila? Apa yang kau lakukan di sini?" Karina dan Minjeong sudah berada di mobil, mereka sedang dalam perjalanan pulang.


"Aku kan sudah bilang aku hanya menghadiri undangan."


"Undangan apa? Tapi tindakkan mu gegabah di sana terlalu bahaya."


"Bahaya kenapa?"


"kau bisa ketahuan bodoh."


"itu tidak akan, aku kan juga ingin mengajak anakku melihat keluarga besarnya."


"tapi tidak sekarang Minjeonggg, kau harus tau posisimu hanya simpanan. Kau bisa langsung di bunuh Jaemin jika semua rencana ini terbongkar."


"Aishhh sial, persetan simpanan aku juga istri Jaemin aku yang akan memberikannya keturunan bukan anak manja itu."


"Sudah lah tutup saja mulutmu, konsentrasi menyetirku bisa rusak gara gara ungkapan bodohmu itu."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2