Rahim Simpanan Na Jaemin (NCT X AESPA)

Rahim Simpanan Na Jaemin (NCT X AESPA)
Keputusan sulit


__ADS_3

Sesuai dengan janji siang ini aku akan menemui Kim Minjeong di cafe rumah sakit, aku juga penasaran bagaimana kondisi nya saat ini apakah dia baik atau malah sebaliknya.


Kembali aku merasa gugup ketika langkah kakiku semakin dekat dengan tempat tujuan, aku takut mungkin saja saat ini Minjeong sedang bersama Donghyuck dan sudah menceritakan semua nya sudah dapat ku bayangkan pasti saat ini Donghyuck sedang menantiku bersama kekasihnya dengan muka merah padam aku harus siap siap untuk segala kemungkinan yang buruk.


Tapi di luar dugaan dari seberang jalan aku melihat Minjeong duduk sendirian dengan tenang sambil menyeruput minuman nya, kemana Donghyuck bukankah tadi pagi mereka baru saja bertemu.


Lagi dengan langkah ragu aku mendatangi Minjeong ia menyambutku dengan senyum hangat dengan canggung aku membalas senyuman tersebut


"hay" sapanya


"kamu apa kabar?" Aku membeku rasa nya aku tidak sanggup menjawab pertanyaan itu bayang bayang malam itu kembali menghantuiku


"Jaemin hey" Minjeong mulai mengibas ngibaskan telapak tangannya kepadaku dia fikir aku sedang melamun padahal aku hanya terlalu malu untuk berbicara pada wanita ini


"Ma..maaf" Hanya itu yang mampu keluar dari mulutku


"aku pantas di hukum" aku tertunduk mencoba menyembunyikan wajahku yang penuh dosa ini, namun Minjeong malah tersenyum membuatku semakin bingung


"kamu benar benar ingin di hukum jaem"


"iya, aku salah"


Setelah beberapa menit menatap ku secara intens Minjeong terlihat sibuk mengobrak abrik isi tas nya seperti mencari sesuatu tak lama ia mengeluarkan kardus kecil yang di bungkus seperti kado lalu ia langsung menyodorkan nya kepadaku.


"terimala ini hukuman mu untukmu" Aku benar benar bingung dia bilang ini hukuman tapi kenapa dia malah memberikan kado.


Tak mau semakin penasaran apa yang di maksud dari kado terdebut aku segera membuka nya dengan tergesah gila aku tercekat ketika melihat isi kado ini , sebuah tespack yang menunjukkan hasil yang positif.


Badanku terasa panas dadaku mulai sesak aku tak bisa mencerna dengan apa saja yang baru terjadi


"itu milikku jaem, aku positif"


"itu anakmu kamu tidak bisa menyangkal"


"aku tidak pernah melakukan nya dengan orang lain"


"hanya kamu satu satunya pria yang menyentuhku bahkan merebut keperawananku"


Minjeong benar aku masih mengingatnya akulah orang yang memang mengambil mahkota wanita itu, bercak darah yang ku temui di kursi belakang waktu itu adalah bercak darah keperawanan


"hahh" Minjeong menghela nafas panjang sebelum kembali melanjutkan ucapan nya


"jaem aku tau ini semua di luar kendali tapi coba kamu fikir kembali bukan kah ini takdir"


"takdir?" tanyaku kebingungan


"aku tau jaem kamu berniat melakukan inseminasi"

__ADS_1


"aku tau Dongha mandul jadi terpaksa kamu harus melakukan inseminasi ke rahim orang lain"


"dan sekarang kamu lihat sendiri kamu gak usah repot repot cari orang yang mau di buahi sudah ada aku, aku udah mengandung anakmu"


"jadi maksud kamu kamu mau memberikan anak itu kepada kami"


"ya, bukankah Dongha sangat menginginkan anak dari mu"


"aku akan merawat janin ini dan memberikan nya pada Dongha tapi dengan syarat"


"syarat? Kamu jangan aneh aneh"


"bukan kah aku sudah bilang aku akan membayar rahim siapapun yang mau menerima anak ku"


"ya aku tau, tapi aku bukan cuman mau bayaran aku mau lebih dari itu"


"maksud kamu?"


"aku kasi kamu dua pilihan Jaem"


"pertama aku akan melahirkan bayi ini dan membiarkan Dongha merawatnya tapi dengan syarat kamu harus jadi kekasihku"


"dan yang kedua aku akan menceritakan semua nya kepada Dongha kemudian membiarkan dia yang memutuskan bayi ini harus di lahirkan atau di gugurkan"


"karena sejujurnya aku tidak peduli dengan janin ini"


Gila ini gila bagaimana mungkin wanita ini bisa mengatakan ini semua dengan tenang sedangkan aku sudah keringat dingin dan mata yang memanas, perkataannya semua gila bagaimana mungkin aku mau menjadi kekasihnya itu berarti sama saja aku mengkhianati istriku dan juga tidak mungkin aku biarkan dia menceritakan semua nya di depan Dongha, kalau Dongha tau rumah tangga ku bisa hancur dan aku benar benar akan di bunuh oleh kakak iparku nanti.


"dasar ****** gila" Jawabku dengan penuh penekanan


"kau menyebut dirimu wanita, mana mungkin ada wanita yang sanggup mengugurkan anak nya"


"apa mau mu?"


"cepat katakan"


"berapa yang kau butuh aku akan membayarnya"


"jaemin sayang bukan kah sudah ku katakan aku tidak butuh bayaran tapi aku mau kamu"


"aaaisshh sial" Tangan Jaemin sudah melayang di udara ia sudah siap ingin menampar mulut perempuan ini


"apa Jaem kamu mau menamparku lagi"


"iya jaem mau nampar seperti waktu"


"tampar jaem tampar" Minjeong sudah mulai emosi ia begitu kesal jika mengingat Jaemin pernah memukul dan mencaci nya, bahkan sekarang sepertinya ini akan terulang kembali

__ADS_1


"plakkk" satu tamparan benar benar mendarat di pipi mulus Minjeong, ia begitu terkejut Jaemin benar benar memukulnya bahkan tamparannya lebih keras dari waktu itu


"gila kamu Jaem" Dengan perasaan sedih dan kesal yang bercampur Minjeong segera berlari ke keluar cafe ia segera berlari dan meninggalkan Jaemin yang masih diam mematung.


Aku benar benar kesal dengan wanita ini rasanya aku sudah tidak tahan mendengar segala ucapan bodohnya tanpa sadar aku benar benar menampar wanita tersebut, aku panik aku takut jika saat ini Minjeong benar benar akan menghampiri Dongha dengan cepat aku segera berlari menyusul sedan putih yang sudah melesat begitu cepat.


Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh aku sedikit kewelahan mengimbangi sedan putih yang aku ikuti dari tadi, tapi Minjeong dengan mobil nya tidak sedang mengarah ke apartemen ku melainkan menuju arah pulang ke apartemen pribadi nya.


"minjeong tunggu"


"dengerin aku dulu"


"Minjeong tolong" dari tadi Minjeong tidak menghiraukan panggilan ku ia terus berlari dengan penuh amarah menuju kamar apartemen nya sampai akhirnya aku kehilangan jejak Minjeong ia tenggelam di telan lift.


Tak mau keduluan aku memutuskan untuk menyusul Minjeong menggunakan tangga darurat aku harus segera sampai untuk menghadangnya di depan pintu dan benar saja saat ini aku sudah sampai di depan pintu kamar Minjeong dan dia masih terjebak di dalam lift.


Aku menantinya dengan resah sekitar dua menit akhirnya aku melihat bayangan Minjeong yang akan segera sampai


"Kim Minjeong" aku coba menghentikan nya tapi dia seakan tidak peduli ia terus menekan nomor pin agar pintu apartemen nya segera terbuka


Ting


Pintu terbuka dan Minjeong langsung masuk tanpa fikir panjang aku juga ikut masuk aku harus segera meluruskan masalah ini sebelum semakin parah


"apasih Jaem"


"kenapa kamu ikutin aku sampai ini"


"belum puas kamu pukul aku mau pukul lagi hah"


"atau sekarang kamu berniat mau bunuh aku kan"


"bunuh aku Jaem bunuh"


Minjeong mulai menagis dan dia terus memukul mukul dadaku dengan tangan lemah nya, aku diam tidak berkutik aku bisa merasakan amarah Minjeong saat ini


"aku tu cinta sama kamu jaem"


"asal kamu tau aku cinta sama kamu dari dulu".


"tapi kenapa kamu malah pilih Dongha, sedangkan aku selalu ada di sampingmu"


"kenapa Jaem kenapa hiks hiks "


Aku tidak percaya kenapa Minjeong malah mengatakan perasaan nya bukan kah dari dulu kita cuman teman dekat.


"sekarang kamu harus pilih Jaem"

__ADS_1


"kamu harus jadi pacarku atau aku akan bilang semuanya"


Apa yang harus aku lakukan mana bisa aku mengorbankan perasaanku begitu saja, dari dulu aku sangat mencintai istriku mana sanggup jika aku harus mencintai wanita lain dan aku juga tidak mungkin membiarkan Minjeong mengadukan semuanya itu pasti akan melukai Dongha.


__ADS_2