Rahim Simpanan Na Jaemin (NCT X AESPA)

Rahim Simpanan Na Jaemin (NCT X AESPA)
Frustasi


__ADS_3

Karena aku terus memberontak untuk di berhentikan di tengah jalan akhirnya Jeno mengalah, aku turun di pusat kota banyak sekali departemen belanja serta berbagai tempat hiburan di sekitar sini.


Aku menatap kesal kepergian mobil yang di kendarai Jeno berbagai umpatan sudah ku ucapkan kepada mereka semua yang ada di dalam mobil tersebut.


Aku ingin langsung pulang dan sudah memesan taxi online tapi saat taxinya datang tiba tiba aku berubah fikiran, aku rasa sebaiknya aku menenangkan diri dulu di sebuah cafe.


Aku mampir di cafeteria sederhana yang tidak terlalu ramai, aku sudah memesan kopi hitam tanpa gula. Tidak terasa aku sudah menghabiskan tiga cangkir kopi tapi rasanya masih ada yang kurang, tiga cangkir kopi ini tidak mampu menenangkan kegelisan di hatiku.


Aku berjalan mengambil dua botol soju yang berjejer di lemari kaca, cuman dua botol ini tidak terlalu memabukkan aku akan tetap bisa pulang kerumah dengan selamat.


"Ck! Bajingan, kau bajingan Jaemin."


"Kau tidak berguna, tidak punya hati... Mati saja itu lebih baik."


"Kau pemerkosa!"


"Tukang selingkuh!"


"Pemerkosaaa, predator keji."


"Tukang selingkuh!"


"Selingkuh, pengkhianat, pemerkosa."


"AAGGHHH!" Aku memukul mukul kepalaku secara kasar, kenapa suara suara itu terus melintas di kepalaku.


"Berhenti, tolong berhenti!"


"Ampuni aku ampun!" Aku sudah meringkuk ketakutan di lantai semua orang menatapku dengan menyeramkan, semua orang mengintimidasi mereka seperti siap akan melempariku dengan apa saja.


Jaemin berteriak teriak tidak karuan di cafe tersebut, beberapa orang mendekat ingin menolong tapi Jaemin terus memberontak dan terus meminta ampun.


Jaemin terlalu mabuk dia memang sudah menghabiskan hampir lima botol soju, dan semakin banyak soju yang melewati tenggorakannya maka semakin besar halusinasi yang di alaminya.


Salah satu karyawan cafe itu mendekat dia ingin menanyakan tentang kondisi Jaemin tapi baru saja dia mendekat Jaemin bereaksi berlebihan ia mendorong kuat pria itu hingga terhuyung menabrak meja di belakangnya. Dengan langkah gontai dan tubuh tidak stabil Jaemin berlari, dia lari sekencang mungkin dan terus menabrak apa saja yang di temuinya.


Kepalanya pusing sekali rasanya sangat mual dia ingin memuntahkan semua isi perutnya tapi dalam bayangannya dia sedang di kejar kejar oleh sesuatu yang membahayakan dirinya.


Bukh


Jaemin bertabrakan dengan segerombolan pria berbadan besar yang berpenampilan urak urakan serta memiliki tato di sekitar lengannya, mereka pasti preman di daerah sini.


"Woi! Jalan pake mata!" Titahnya salah satu dari mereka.

__ADS_1


"Jangan....jangan bunuh aku! Ampun!" Jaemin meracau tidak jelas, dia sudah terduduk lemah di jalanan kakinya sudah tidak mampu menopang berat badannya sendiri.


Mereka tersenyum miring melihat pria yang sedang mabuk berusan dengan mereka.


Bugh!


Wajah Jaemin yang memerah karena alkohol tiba tiba di hantam sesuatu yang keras, Jaemin di lempari botol coca cola di wajahnya, berlanjut tiga orang premen tersebut memukulinya secara bergantian.


Setelah memastikan Jaemin benar benar lemah mereka langsung menyeret Jaemin ke tepi membawanya di salah satu lorong gedung yang sepi karena masih dalam tahap pembangunan.


Mereka mengeledah semua saku Jaemin, mereka mengambil handphone dan dompet yang mereka temukan di saku celana hitam pria yang sudah pingsan dari tadi, mereka juga mengambil jam tangan serta cincin berlian yang melingkar di jari manisnya, setelah di rasa tidak ada lagi barang yang beharga di tubuh Jaemin mereka pergi begitu saja.


.


.


.


Dongha wanita itu terus mondar mandir di depan pintuh rumahnya, ini sudah hampir jam sepuluh malam tapi belum ada juga kabar dari suaminya, dia sudah menghubungi Jaemin puluhan kali tapi jawabannya tetap sama nomor tersebut di luar jangkuan.


Karena terlalu panik dia kelupaan satu hal, Jaemin pergi bersama Jeno tadi pagi seharusnya pria itu tau di mana Jaemin. Dongha bergerak gelisah mencari nama Jeno di telepon genggam miliknya dan sialnya dia tidak pernah menyimpan nomor lelaki lain selain nomor suaminya dan keluarganya.


Untung saja nomor Aeri tersimpan rapi di kontaknya, Dongha menghubungi Aeri sekitar dua menit akhirnya ada jawaban.


"Dongha? Ada apa tumben kamu telepon malam malam?"


"Aeri-ya kamu di mana sekarang?"


"Aku? Ya dirumah la lagi momong si bayi.""


"Jeno, Jeno di mana?"


"Ada apa kenapa mencari Jeno malam malam, dia udah tidur Dongha."


"Ti-tidur? Sejak kapan?"


"Kamu kenapa sih, Jeno udah tidur dari tadi, habis makan malam langsung molor."


"Aeri-yaaa!" Aeri di buat bingung karena yang di dengarnya Dongha sedang menangis, perasaannya tidak nyaman kenapa ada wanita yang mencari suaminya malam malam lalu mengangis.


"Kamu kenapa? Koq nangis?"


"Aeri Jaemin belum pulang dia tadi pagi pergi sama Jeno tapi sekarang dia belum pulang kerumah, hpnya gak aktiff... Aku takut!"

__ADS_1


"Dongha kamu tenang ya! Tenang aku sama Jeno bakalan ke sana."


Hampir jam sebelas akhirnya Jeno datang bersama istrinya menemui Dongha yang sudah kalut setengah mati, wanita itu terlihat kacau, dia terus menghubungi Jaemin padahal sudah tahu tidak akan pernah ada jawaban.


Jeno Aeri sedikit berlari menuju apartemen Dongha, mereka sedikit terkejut melihat Dongha sudah meringkuk di depan pintu rumahnya.


"Dongha!" Melihat Aeri semakin dekat kearahnya Dongha sedikit tenang ia langsung memeluk Aeri sekuat mungkin.


"Dongha tenang ya tenang, kita cari Jaemin sama sama, udah jangan nangis." Aeri menepuk nepuk pelan punggung Dongha lalu mereka segera berjalan turun kebawah, tapi langkah Jeno terhenti ketika melawati kamar Winter, Jeno menaruh curiga jangan jangan sepupunya itu memang sudah pulang tapi bukan pulang ke rumah utama melainkan rumah kedua, mungkin saja Jaemin sedang menghabiskan malam bersama istri barunya.


"Jeno!" Panggilan dari istrinya yang sudah melangkah jauh membuat Jeno tersadar dari lumanannya ia segera berlari menghampiri Aeri dan Dongha yang sudah bersiap masuk ke mobil.


Mereka sudah keliling kota hampir semua jalanan sudah mereka lewati tapi tetap saja sosok yang mereka cari belum memberikan tanda tanda, Jeno menyarankan untuk lapor ke polisi tapi percuma tidak akan di tanggapi karena Jaemin belum hilang 1 kali 24 jam, Jeno juga sudah menghubungi teman teman Jaemin tapi tidak ada yang tau, bahkan orangtua Jaemin pun tidak tau.


Ketiga orang yang sedang kebingan tersebut saat ini berada di minimarket 24 jam, Jeno membeli tiga botol air mineral lalu memberikannya kepada Dongha dan Aeri yang menunggu di depan, Setelah rasa haus mereka mulai menghilang mereka bergerak lagi untuk mencari Jaemin, Jeno dan Aeri sudah masuk kedalam mobil Dongha juga sudah bersiap untuk segera masuk mobil tapi di langkah terakhirnya Dongha seperti menginjak sesuatu dia menunduk untuk memeriksa benda tersebut, betapa terkejutnya dia yang di injaknya barusan adalah airpods kecil bewarna biru.


Dia yakin sekali bahwa airpods ini adalah milik suaminya, karena di sana ada ukiran khusus yang bertuliskan NJM, airpods ini adalah hadiah ulang tahun yang dia berikan pada Jaemin dua bulan yang lalu, matanya mulai memanas memandangi airpods kecil di tangannya Dongha lalu berlari lagi kembali ke minimarket tadi.


"Kak, tadi kamu ada lihat orang ini gak di sekitar sini?" Dongha langsung menghampiri pegawai di minimarket tersebut dan menyodorkan foto Jaemin dari handphonenya.


Pegawai tersebut sedikit memincingkan matanya dengan dahi yang berkerut memandangi foto yang Dongha tunjukkan.


"Oohh pria ini, tadi kalau gak salah memang ada sore sore lewat ini, tapi dia seperti sedang di kejar sesuatu!" Jawab karyawan itu dengan begitu yakin.


"Boleh liat CCTV nya?" Jeno tiba tiba muncul di antara percakapan Dongha dengan karyawan tadi.


Akhirnya ada titik terang, berkat CCTV mereka jadi tau kemana arah Jaemin melangkah, mereka bertiga memutuskan untuk berpencar menelusuri setiap bagian dari bangunan yang berada di sekitar sini.


Dongha berjalan sendiri kearah utara dia berjalan mengikuti kata hatinya, dia sedikit takut karena ternyata jalan yang dia pilih adalah jalan sepi benar benar sedikit sekali orang berlalu lalang.


Matanya terfokuskan dengan gedung pertama yang dia temui di jalan ini, dengan hati hati Dongha berjalan perlahan untuk masuk ke gedung yang pembangunannya belum selesai. Kakinya terus bergerak maju dengan di bantu oleh pencahayaan dari telepon seluler di tangannya.


Badannya melemas seketika saat dia benar benar sampai di halaman gedung ini dia bisa melihat seseorang yang sangat dia kenali kini sudah terbaring tidak sadarkan diri di lantai banyak luka lebam di wajah tampan itu, serta yang paling menyakitkan hatinya adalah pria itu menggunakan kemeja putih yang warnanya sudah bercampur darah dan tanah.


Apa yang terjadi? Kenapa suamiku begini? Apa mungkin dia menjadi korban pembulian? Tapi siapa yang tega merundungnya hingga separah ini.


Dongha bisa melihat noda tanah yang lebih dominan berada di punggungnya, serta ada bekas garis panjang yang berhenti tepat di badan suaminya, ini seperti garis yang terbentuk karena terseret sesuatu.


"Jaemin..."


"HUAAA Apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa begini?"


"Sayang bangun! Ini aku!" Dongha terus berusaha membangunkan suaminya, dia sudah mengguncang guncang tubuh itu tapi tidak reaksi.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2