Rahim Simpanan Na Jaemin (NCT X AESPA)

Rahim Simpanan Na Jaemin (NCT X AESPA)
Dongha dan sandiwara


__ADS_3

Ini sudah memasukki hari ke tujuh semenjak hari kelahiran anakku, mereka sudah ku pindahkan agar di rawat di rumah sakit tempat Karina bekerja. Minjeong juga sudah pulang ke apartemennya dia sedang dalam masa pemulihan.


Hari ini aku berencana untuk merekayasa kelahiran anakku, aku akan memutar cerita mengatakan kepada semua orang bahwa Dongha terpeleset di kamar mandi dan mengalami pendarahan hebat, dan dia sedang di operasi sesar di dalam.


Dongha sudah pura pura terbaring lemah lengkap dengan alat kedokteran yang menempel di tubuhnya untuk mendukung keadaan bahwa dia sedang lelah karena baru saja operasi melahirkan. Dongha memilih untuk terus memejamkan matanya sampai semua orang pulang, dia tidak sanggup harus berinteraksi dengan mama papa serta ayah sama abang.


Aku juga sudah mempersiapkan ekspresi wajah sepantas mungkin.


Pukul enam pagi ku lihat rombongan keluargaku lari terburu buru menghampiriku yang duduk tenang di kursi tunggu rumah sakit, aku dapat melihat jelas wajah mama khawatir sekali.


"Jaeminn!!!" Teriaknya dari kejauhan, aku hanya berdiri menunggu mereka semakin dekat.


"Jaem gimana? Dongha gimana? Ishhh kamu koq ngasi tau nya tiba tiba?" Ibuku terus melempari pertanyaan tanpa jeda,


"Jaemin gimana keadaan istrimu?" Papa juga ikut bertanya.


"Mama papa tenang ya! Dongha sudah melahirkan, dia masih dalam perawatan di dalam. Dan anakku ada di ruang bayi." Jawabku


"melahirkan?" Tiba tiba ayah sama putra sulungnya bergabung dengan kami, entah sejak kapan mereka datang.


"Siapa yang melahirkan Jaem?" Tanya ayah lagi,


"Dongha Yah."


"Bagaimana mungkin, kamu cuman bilang dia pendarahan."


"Iya, Dongha pendarahan dan bayinya harus segera di keluarkan. Jadi Dongha terpaksa operasi sesar."


"Jadi cucuku sudah lahir?"


"Iya ayah, mereka di ruang bayi untuk sekarang mereka harus hidup dan bertahan dengan bantuan kotak bayi."


Keempat orang itu langsung berlari mencari ruangan yang ku maksud, ruangan di mana Na Jae hyun dan Na Jae hwa berada. Kedua putraku sudah di tempeli nama di box inkubatornya tentu saja mereka sudah seminggu beristrirahat di sana jadi harus segera di kasi nama.


Nama tersebut memang nama yang sudah lama dirundingkan oleh kedua keluarga, jadi aku yakin saat mereka sampai di ruangan yang penuh bayi aku yakin mereka pasti langsung tau yang mana anakku.


Aku masuk ke dalam menyusul Dongha, di sana juga ada Karina yang pura pura sibuk mencatat segala rekam medis ibu yang baru saja melahirkan.


"Dongha!" Aku menanggilnya tapi dia tidak merespon bahkan larut dalam memejamkan matanya.

__ADS_1


"Dongha tenang aku sendirian." Kelopak mata itu terbuka perlahan, wajahnya sangat tegang dan pucat tapi bukan pucat karena sakit melainkan pucat karena takut ketahuan sedang menyembunyikan sesuatu.


"Jaem..."


"Mana yang lain?" Tanyanya,


"Mereka lagi di ruang bayi, mereka sedang sibuk menyapa anak kita."


"Jaem aku takut..."


"Tenang ya sayang, kamu hanya perlu pura pura tidur. Kamu tau? wajah ayah sangat bahagia ah bukan hanya ayah tapi semuanya. Mimik wajah mereka mirip banget dengan kamu waktu itu, waktu tau anak kita sudah lahir."


"Syukurlah, aku senang ayah abang dan mama sama papa bisa menerima kehadiran si kembar."


"Tentu saja, lahirnya si kembar akan membawa keberkahan dan kebahagiaan sendiri untuk keluarga kita."


"Karin!" Dongha tiba tiba menoleh ke arah Karina yang sibuk bermain handphone dari tadi.


"Emh, apa?" Jawab Karina tanpa menarik atensinya pada lacar handhpone tersebut.


"Gimana keadaan Winter?"


"Maksud ku Winter, wanita itu masih harus dalam pengawasan karena jahitannya masih basah, tapi kalian jangan khawatir aku pasti akan melakukan yang terbaik untuknya."


"Terimakasih ya Karin, kau sudah repot repot mau terlibat atas dosaku." Ujar Dongha mulai bangkit dan bersandar pada dinding kasur.


"Repot? Tentu saja aku harus terlibat, ini bukan masalah biasa, para sahabatku sedang kesulitan jadi sudah wajar aku akan bertindak. Aku hanya merasa kasihan padamu dan ibu dari anak itu."


"Hmm, aku juga merasa kasihan pada Winter, pasti dia sangat kesakitan melahirkan secara sesar. Aku harus membayar mahal. Jika perlu setengah hartaku akan ku beri untuknya."


"Kau berlebihan Dongha, dia sudah mendapatkan yang dia mau."


"Hah? Maksudnya?"


Karina tidak menjawab pertanyaan terakhir Dongha, dia hanya mengulum bibirnya. Dari lubuk hatinya Karin sebenarnya sudah menjawab pertanyaan itu.


"Suamimu Dongha, dia mendapatkan suamimu."


Dari depan kami mendengar derapan langkah kaki semakin mendekat, dan dalam hitungan detik tiba tiba ada yang membuka daun pintu, kami bertiga langsung panik karena kehadiran mereka secara tiba tiba.

__ADS_1


Dongha dengan sekali gerakkan dia sudah kembali ke posisi tidurnya dan kembali terpejam, semoga tidak ada yang melihat atau menyadari bahwa tadi Dongha tidak tidur melainkan sedang mengobrol dengan ku dan Karina.


"Dongha." Ayah langsung masuk paling depan dengan cepat ia segera menghampiri anaknya dan langsung memberi ciuman kasih sayang di kening Dongha yang berkeringat karena grogi.


"Anak ayah hebat."


"Terimakasih sayang."


"Dongha ini abang! Abang bangga banget dengan kamu karena udah memberikan abang keponakkan yang lucu lucu." Ayah dan anak sulungnya terus membisikkan kalimat kalimat terimakasih dan kalimat penyemangat di telinga Dongha, mereka bilang kalimat yang positif akan membantu lebih cepat proses pemulihan.


Sedangkan Na siwon dan Im yoona hanya berdiri di belakang sambil merangkul satu sama lain mereka masih terlihat terharu.


"Jaem...." Na siwon bersuara,


"Iya pa?"


"Ingat ya kamu gak sendirian, ada mama sama papa yang akan selalu siap bantu kamu, kapanpun!"


"Iya nak, ngurus anak kembar pasti gak mudah. Mama mulai sekarang akan menginap di rumahmu."


"Jangan ma, itu bisa membuat Dongha tidak nyaman jika ada orang lain di rumah kami."


"Tapi kami bukan orang lain."


"Tetap saja, Dongha sudah sering bilang, dia memberikan izin mama papa atau ayah bolak balik kerumah tapi tidak dengan menginap."


"Tapikan sekarang situasinya beda Jaem, kamu akan ngurus bayi dua sekaligus, sudah pasti akan kerepotan."


"Ada aku, aku pasti bantuin Dongha mah.., tolong biarin kami menikmati masa ini."


"Ya udah kalo gitu terserah, tapi ingat ya kalo ada apa langsung bilang."


"iya pasti."


"Mama, papa, ayah, dan abang tolong beri kami restu untuk menjadi orang tua." Pintaku sedikit memohon, kutatap mereka secara bergantian.


Sebenarnya ini bukan keinginanku tapi keinginan Dongha, dia sudah sering bilang untuk tidak memasukkan siapapun dalam rumah tangga ini, termaksud keluarga terdekat sekalipun. Karena pada dasarnya semua orang punya urusan masing masing dan yang paling penting setiap rumah ada privacy, jika ada orang lain maka privacy itu akan terganggu.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2