
"Buk titip istri saya ya!" Pinta Jaemin kepada wanita yang berkisar 40 tahunan yang sedang sibuk mencuci piring sisa sarapan.
"Baik Tuan." Jawab Bu Min ju tanpa menoleh ke arah Jaemin yang sudah semakin jauh menuju pintu keluar untuk pergi bekerja.
Sudah berbulan bulan Jaemin dan Donga mulai terbiasa dengan kehadiran orang baru di rumah mereka, Dongha menuruti permintaan mama mertuanya untuk memperkerjakan orang lain dalam mengurus rumah tangga. Akibatnya dia jadi sering bosan karena hanya berdiam diri di kamar seharian, Dongha terlalu malas untuk keluar dari kamarnya sendiri sebab jika dia keluar itu berarti dia harus menggunakan perut palsunya yang ukurannya sangat besar.
Ukuran perut wanita hamil tujuh bulan anak kembar apa memang sebesar ini?
Dongha memperhatikan perut palsunya yang terletak asal di kasur, perut ini sangat besar jika ia sudah menggunakan maka pergerakannya terbatas.
"Hmm kasian Winter, aku aja yang gunain perut bohongan susah gerak. Apalagi dia yang benar benar sedang hamil, kasianㅡ"
"Nanti kalo anaknya udah lahir aku harus bayar Winter mahal, pasti gak mudah hamil bayi kembar." Dongha ber-monolog sendirian sambil terus memperhatikan perut sandiwara ini.
Karena perut ini semua orang yakin dia benar benar hamil, sikap semua orang tentu saja berubah mama, ayah, abang, bahkan kakak sepupu Jaemin pun menjadi lebih perhatian dengan Dongha.
Semua orang memperlakukannya dengan baik bak seorang bayi yang baru lahir, benar benar di perhatikan dan di awasi hampir setiap hari.
Tok tok tok
"Nyonya ada dokter Karina di depan." Bu Min ju mengetok pintu dengan sopan lalu sedikit berteriak untuk memberi tahu penghuni kamar tersebut bahwa ada yang bertamu.
"Iya bu langsung suruh masuk aja!" Titah Dongha dari dalam kamar.
Tidak lama akhirnya Karina datang lengkap dengan tas kedokterannya, Karina baru saja selesai memeriksa Minjeong di bawah.
"Karin." Sapa Dongha,
"Iya, Dongha tadi aku baru saja selesai memeriksa kandungan Winter." Karin segera duduk di samping Dongha ikut memperhatikan perut palsu tersebut.
"Gimana?" Tanya Dongha.
"Sehat, ibu dan bayinya sehat. Winter minum semua obat dan vitamin yang aku berikan."
"Syukurlah. Tapi aku iri,"
Karin mengernyitkan keningnya, "Iri gimana maksudmu Dongha?" Dongha menghela nafas mendadak wajahnya berubah menjadi murung.
__ADS_1
"Aku iri dengan Winter dia hebat bisa hamil anak Jaemin dan yang paling hebatnya anak yang dia kandung kembar."
"lalu aku juga iri denganmu, kamu bisa bolak balik bertemu Winter sedangkan aku? Tahu rumahnya juga enggak bahkan wajahnya pun aku tidak tahu."
"Padahalkan aku juga ingin menyaksikan sendiri perkembangan perutnya, aku ingin bantu dia jika mengalami kesulitan. Aku bisa mengurut kakinya memijitnya, aku juga ingin berkontribusi dengan bayinya."
"Dongha kamu lupa?"
"lupa?"
"Iya selama ini kamu juga sudah berperan besar untuk kehamilan Min ehm maksudku Winter. Kamu orang yag paling terdepan jika tahu dia sedang mengindam. Bahkan setiap hari kamu selalu memberikan dia makanan yang berkualitas." Karin bercerita sambil menerawang ke arah jendela yang terbuka.
"Aku yakin bayinya bisa sehat sampai detik ini karena makanan yang selalu kamu berikan."
"Tapi Karin makanan tersebut bukan dari aku." Timpal Dongha dan sekarang juga ikut menerawang ke arah jendela.
"Makanan itu semua dari mama, hampir setiap pagi mama selalu kesini dan mengantarkan makanan. Mama bilang itu makanan untuk cucunya."
"Jadi maksud kamuㅡ"
Tok tok tok
"Maaf nyonya ada Bu Yoona di depan." Lagi lagi Bu Minju menggedor pintu kamar ini, kali ini dia langsung masuk karena pintu Dongha tidak tertutup rapat.
"Mama? Karin mama datang!" Dongha dan Karina terlalu kalut ketika mendengar mama mertua Dongha datang, Karin langsung bergegas membantu Dongha memakai perut palsunya.
Mereka terlalu panik sehingga lupa saat ini juga ada orang lain di kamar. Bu Minju terperangah melihat kegiatan yang sedang mereka lakukan, dia benar shock melihat secara langsung perut majikannya yang ternyata selama ini hanyalah tempelan.
"Ny-onya?" Bu Minju semakin mendekat, "Maaf apa ini?" Dengan takut Bu Minju mencoba memberanikan diri untuk bersuara.
"Nanti aja jelasin nya, Bu saya minta tolong tahan mama jangan sampai mama masuk, bilang aja saya lagi di periksa sama Karin." Dongha memberikan perintah kepada asistennya dengan sekali nafas, dia berbicara begitu cepat dan terdengar seperti akan menangis.
Dongha malu, dia malu hari ini dia tertangkap basah oleh asisten nya sendiri.
"i-ya ya." Bu Minju segera menuruti perintah yang baru saja di terima, dengan tergesah dia menghampiri Yoona yang sudah berada di ruang tamu.
"Bu Minju Dongha kemana?" Tanya Yoona seraya melirik sekitarnya.
__ADS_1
"Nyonya Dongha lagi di kamar Bu, dia lagi di periksa sama dokter Karin." Jawab Bu Minju dengan wajah tertunduk, dia tidak mau mertua dari majikannya tau saat ini kalau wajahnya sedang menunjukkan eksperesi kaget dan khawatir.
"Karin? wahh Karin telaten sekali, perasaan semalam dia juga sudah lapor tentang kondisi Dongha dan hari ini dia periksa lagi keadaan cucu saya."
"Bu bu Yoona mau kemana?" Bu Minju berusaha menahan langkah kaki Yoona yang berjalan ke arah kamar.
"Mau ke kamar, mau liat kondisi anak saya."
"Ta-pi Buㅡ" Terlambat Yoona sudah berhasil sampai dan sudah masuk di kamar Dongha, dia tersenyum melihat menantu nya terbaring tenang di atas kasur dengan perut besarnya dengan Karin yang berdiri di sampingnya.
"Mama." Kata Dongha sedikit parau, dia harus berpura pura lemah agar mama yakin dia kelelahan karena terus membawa bayi di perutnya.
"Iya nak? Kamu udah makan kan?"
"udah."
"Karin, tante ganggu ya?" Tanya Yoona,
"Engak koq tante, aku baru aja selesai." Balas Karin mulai bersiap siap untuk pulang.
"Gimana? Kehamilan Dongha aman kan?"
"aman dan kuat, bayi bayi yang ada di dalam sana mereka tumbuh dengan baik, semuanya sudah sempurna tan, gak kerasa tinggal dua bulan lagi."
"Kariinnn tante gak sabar banget pengen liat cucu tante, mereka pasti lucu lucu." Ujar Yoona antusias seraya mengelus ngelus lembut perut buncit menantunya yang terlapisi kain.
Sebenarnya sebagai orang tua Yoona ingin sekali menciumi dan merasakan langsung pergerakkan calon cucunya, tapi selama ini Dongha selalu melarangnya ia beralasan malu jika perutnya di lihat orang lain.
"Karena minggu depan kita akan syukuran tujuh bulan, jadi Karin tante minta tolong ya seminggu ini kamu harus benar benar mengontrol kehamilan Dongha, pastikan asupan gizi dan vitaminnya cukup."
"Tante gak mau pas hari H Dongha malah lemes."
"Iya tante aman, aku pastiin nanti di hari H Dongha kuat."
Menjelang petang akhirnya Yoona pulang dari rumah menantunya, seharian dia terus bersama Dongha mendiskusikan banyak hal termaksud persiapan untuk minggu depan. Dongha benar benar sudah lelah seharian menggunakan perut palsu ini tapi mau bagaimana lagi ini sudah resiko.
Bersambung.
__ADS_1