Rahim Simpanan Na Jaemin (NCT X AESPA)

Rahim Simpanan Na Jaemin (NCT X AESPA)
Tempat tinggal


__ADS_3

Hari ini pulang dari rumah sakit aku bergegas untuk segera menuju apartemen Minjeong, dari kemarin aku sudah meminta nya untuk segera pindah apartemen karena kalau masih di tempat lama khawatir akan ada yang melihat kita.


Tentu saja karena saat ini posisinya aku adalah kekasihnya Minjeong otomatis aku akan sering mengunjunginya jika tidak segera pindah orang orang akan segera tahu hubungan kami.


Tapi Minjeong bersikeras ingin tinggal satu gedung dengan apartemen yang ku tempati bersama istriku aku sudah menolaknya tapi ia terus memaksa dan mengancam akan mengugurkan janin nya akhirnya dengan berat hati aku menyetujui ide bodoh tersebut, aku memberi syarat hanya aku yang mengetahui pasword kamar yang di tempati Minjeong dengan begitu pergerakkan nya bisa ku kendalikan jadi aku tidak terlalu khawatir dia akan berkeliaran dan mengacau keadaan.


Aku tinggal di lantai atas sedangkan Minjeong di lantai bawah aku rasa itu cukup aman.


"Minjeong-aa kau yakin akan membawa semua rongsokan itu?" tanyaku karena aku heran kenapa dia banyak sekali membawa barang padahal di tempat baru sudah tersedia semua.


"aku tidak membawa rongsokan, aku hanya membawa beberapa boneka dan barang peninggalan ibu"


"tetap saja itu merepotkan"


"Jaemin apa kau sadar? Aku akan tinggal lama di sana dan tidak bisa kemana pun jadi aku harus membawa benda benda yang membuatku merasa nyaman"


"lihat boneka beruang kecil itu" Dia menunjuk boneka yang terletak di atas koper bawaan nya, hanya sebuah boneka usang dengan mulut sedikit sobek


"itu boneka yang pertama kali aku terima darimu" Aku terkejut.. dia benar aku baru mengingatnya boneka ini dulu ingin ku berikan pada Dongha tapi malah jatuh dan ketarik oleh ban motorku sehingga mulutnya sedikit sobek, aku hendak membuangnya tapi Minjeong tiba tiba datang jadi aku langsung memberikan nya.


Niatku hanya minta tolong buangkan boneka rusak ini tapi tidak di sangka dia malah menyimpan nya dan menganggap itu hadiah.


"aa itu kau masih menyimpan nya"


"tentu saja aku tidak pernah menerima barang apapun darimu padahal kita sudah berteman bertahun tahun"


"tapi hari itu aku ulang tahun dan tiba tiba kau memberiku boneka, jadi aku kira itu hadiah dan kau belum sempat membungkus nya"


"begitukah? Terserah" Aku tidak terlalu peduli dengan jawaban Minjeong aku hanya menggiring nya cepat agar segera masuk mobil dan membantu memasukkan beberapa barang di bakasi.


Kita harus segera sampai dan berkemas sebelum jam 8 malam karena saat ini istriku sedang bersama keluarga nya jadi kecil kemungkinan kami akan ketahuan.

__ADS_1


Setelah sampai aku langsung buru buru mengarahkan Minjeong agar segera memasukki kamar nya, Apartemen sedang sepi dan rata tata antar para penghuni tidak ada yang saling peduli jika ada pergerakkan di sekitar meraka, orang orang itu hanya peduli dengan kehidupan pribadi mereka tidak akan heran jika melihatku berada di kamar lain.


"Minjeong ini tempat tinggal baru mu, kau bebas melakukan apapun di sini dan aku akan mengunjungiku seminggu sekali"


"semingu sekali? Yang benar saja kau kira aku hewan peliharaan setelah kau kasih makan dan tempat tinggal bisa di tinggalkan begitu saja, tidak mau"


"aku tidak mau seperti itu aku sudah cukup mengalah untuk kau kurung di ruangan seperti ini, aku sudah mengalah Jaem "


"kau tau salah satu alasan ku bersih keras tinggal di tempat yang sama dengan mu, agar aku bisa melihatmu setiap hari"


"setiap hari Jaem bukan sesekali"


"lagian apa susah nya kita kan satu lingkungan"


"tapi itu terlalu berisiko nyonya Kim"


"itu tanggung jawabmu, aku tidak peduli"


"pokok nya setiap hari kau harus datang jika tidak maka aku akan nekat"


Dengan perasaan kesal aku pergi begitu saja meninggalkan Minjeong yang masih berkutat dengan perkataan nya ia terus berteriak teriak memanggil ku tapi aku tidak peduli lebih baik aku segera menyusul istriku di rumah Ayahnya.


Sepanjang perjalanan aku menimbang nimbang keputusan ku dengan Dongha, malam ini di rumah Ayah kami berniat ingin memberitahukan bahwa Dongha sedang mengandung tentu saja bukan mengandung sungguhan kami hanya merekayasa kehamilan Dongha di depan semua orang. Agak jahat memang tapi ini demi keberlangsungan rumah tangga kami dan aku juga tidak tahan melihat Dongha yang terus bersedih karena di katai mandul.


Setelah setengah jam perjalanan akhirnya aku sampai di istana ini, istana yang telah merawat dan membesarkan Dongha dengan baik.


Di depan gerbang aku di sambut oleh gerbang otomatis, begitu mobilku sampai di depan pagar maka gerbang ini akan terbuka dengan sendirinya menampilkan pemandangan yang elegan dan mahal.


Ketika baru memasukki perkarangan rumah aku di sambut oleh pemandangan air mancur di tengah halaman yang di kelilingi beberapa tanaman hias yang langkah, jarak parkir dengan pintu utama lumayan jauh aku butuh beberapa menit untuk sampai di depan pintu.


Di depan pintu aku di sambut beberapa pelayan rumah ini mereka membongkok sopan ketika melihatku dan salah satu dari mereka langsung mengantarkan ku untuk ke meja makan, di sana aku melihat Dongha sedang menyantap makan malamnya dengan lahap, sesekali ku lihat dia tertawa karena bergurau dengan Ayah sama Donghyuck sekitar 5 meter di belakang mereka aku melihat beberapa pelayan wanita sedang berdiri dengan posisi siap seperti sedang menunggu perintah.

__ADS_1


Mereka pasti di bayar mahal attitude dan kostum mereka mirip mirip pelayan di massion mewah yang biasa kulihat di tv tidak heran keluarga Dongha memang kaya raya.


"Selamaat malam Ayah" Ketika sampai aku langsung membungkuk sopan memberi hormat kepada Ayah selaku orang tertinggi di rumah ini


"menantu ku"


"silahkan duduk kau pasti belum makan malam kan" Ayah menyambutku hangat dan langsung mempersilahkan duduk dan menyodorkan piring kosong


"Ayah gimana sih kitakan mengundang mereka untuk makan malam pasti la Jaemin belum makan" Donghyuck menimpali ucapan Ayah padahal di mulutnya sedang sibuk mengunyah jadi ia berbicara sambil memuncratkan beberapa nasi dari mulutnya.


"dasar anak ini, aku tidak bicara padamu"


"telan dan kunyah saja makananmu jangan banyak komentar"


Aku hanya tersenyum tipis menanggapi interaksi anak sulung dengan Ayah nya dari dulu memang mereka sering berdebat untuk hal hal kecil mereka sama sama keras kepala untung saja Dongha tidak mewarisi watak keras tersebut, Dongha berhati lembut dan penyanyang pasti mirip ibu nya.


"kau dari rumah sakit nak?" tanya Ayah sedangkan Dongha sibuk mengambil nasi dan menata beberapa lauk di depan ku


"ya jelas pak tua Jaemin ini seorang dokter pasti dia dari rumah sakit" belum sempat aku menjawab Donghyuck kembali menjawab pertanyaan Ayah


"Aku tidak bertanya padamu wahai beruang kutub" Ayah yang mulai kesal dengan sikap Donghyuck mulai mengeluarkan panggilan kesayangan nya untuk anak nya yang satu ini


"kalau aku beruang kutub berarti Ayah beruang madu" balasnya singkat


Hap


Karena mulai jengah dengan Donghyuck yang terus menyela ucapan Ayah akhirnya Ayah mengambil satu buah telur rebus dan menyuapkan nya secara paksa ke mulut Donghyuck.


"hah Diamkan akhirnya"


"berisik banget jadi laki"

__ADS_1


Aku dan Dongha sudah terbiasa dengan situasi ini seolah olah bukan satu hal yang aneh melihat sikap kurang ajar Donghyuck ke Ayah nya, Ayah juga terlihat senang meladeni sikap kekanak kanakan anak sulung nya ini.


Aku menikmati jamuan makan malam dari Ayah mertua karena memang keluarga besar Dongha selalu menyambutku dengan hangat, tapi dari tadi ku perhatikan Dongha terlihat gelisah aku tau dia pasti bimbang tentang apa yang akan terjadi nanti, aku terus menepuk nepuk pelan paha Dongha bermaksud agar ia segera tenang dan menyakinkan dia melalui tatapan mata bahwa semuanya akan baik baik saja.


__ADS_2