
"*Jaem....." Suara lirih itu memanggil namaku dengan sedikit bergetar.
"Jaeminn kenapa begini? Kenapa semuanya jadi gini?"
"Kau mengkhianatiku, kau membunuh anak kita. Kenapa....?" Aku tidak mengerti saat ini aku dan Dongha berada di tanah lapang dengan dua nisan kecil yang terletak berdampingan di depanku.
Dongha terus menangis sambil terus memukul mukul dadaku, dia terus menangis dan mengatakan aku pembunuh. Siapa yang di bunuh? Dan siapa pembunuhnya apa maksud semua ini?
"Dongha tenang, berdiri lah tenang!" Aku mencoba membantu Dongha berdiri karena dia sudah menangis terisak sambil memeluk kakiku.
"kau pembunuh Jaemmm..." Lirihnya lagi,
"Pembunuh siapa? Siapa yang terbunuh?"
"Dongha lihat aku!" Aku mendongakkan wajah sembab istriku untuk menghadap wajahku, ku tatap dia dalam dalam tapi dia malah berteriak histeris.
"Pembunuh...pengkhianat kenapa kau tetap hidup." Lagi lagi Dongha meracau tidak jelas, apa dia sedang mabuk? Tapi jarang sekali dia menyentuh minuman beralkohol.
Karena aku panik dan bingung melihat istriku terus meracau dan menangis histeris, dengan tenang aku meraih wajahnya ku kecupi pelan bibir kecil itu merasakan sensasi kepedihan dari dalam hatinya.
Melihat dia sedikit tenang karena kecupan singkatku aku meraih lagi bibirnya lalu membelainya lembut dengan jempolku lalu ku tempelkan bibirku dan bibirnya, aku mengisi setiap bagian yang kosong di dalam mulutnya.
Itu dia Dongha akhirnya membalas pergerakkanku dia mulai menjulurkan lidahnya untuk membalas lidahku yang terus menyapanya, tapi saat aku ingin memperdalam kegiatanku tiba tiba Dongha di tarik kebelakang oleh seseorang.
"Tidak tau diri!"
Plak
"Dongha sialan, kau mengambil suamiku kau mengambil anakku."
"Kenapa kau masih hidup? Kenapa bukan kau saja yang mati! Dasar bodoh karenamu anakku mati!"
Plak
Plak
Plak
Aku benar benar tidak paham kenapa tiba tiba ada Minjeong di tengah tengah kami, dan kenapa wanita itu terus memukuli dan mengumpat istriku apa salahnya? Dongha wanita baik tidak mungkin dia membunuh seperti yang Minjeong barusan bilang.
Aku ingin menolong aku ingin membantu tapi anehnya tubuhku terasa berat untuk di gerakkan, aku tidak sanggup melangkah bahkan bersuara pun aku tidak sanggup.
"Aaghhh." Jantungku terasa terlepas dari rongga dadaku begitu saja, semuanya benar benar terjadi begitu cepat aku melihat dengan mata kepalaku sendiri malam ini istriku di tusuk pisau di bagian perutnya, Minjeong pelakunya wanita itu pelakunya.
"Hahaha rasakan Dongha, kau memang pantas mati! Aku muak melihatmu hidup!"
Setelah Dongha kehabisan darah Minjeong mendorong tubuh itu ke jurang dia melakukan nya dengan senyuman yang mengerikan.
"DONGHAAA!"
"DONGHAAA!"
__ADS_1
"DONGHAAA!" Setelah tubuh Dongha hilang dari pandanganku barulah aku bisa bersuara dan berteriak keras, saat itu duniaku benar benar hancur melebur bersatu dengan kunang kunang malam yang terus melintas.
Aku hancur aku tidak sanggup aku baru saja melihat istriku mati terbunuh, dan pelakunya terus tertawa bahagia dia mendekat ke arahku.
"Aku istrimu Jaem bukan diaa.."
"Sudah berapa kali aku katakan padamu aku istrimu...Kim Minjeong!"
"Kemari lah sayang!"
"Tidakkk!"
"Jangann!" Aku terus mengeliat berusaha melepaskan diri dari tangan Minjeong yang sudah mencengkik tenggorokanku.
"Huk huk huk!" Aku benar benar akan kehabisan nafas, apakah hidupku juga akan berakhir malam ini menyusul Lee Dongha yang sudah pergi lebih dulu,
"MINJEONG!" Ini gila Minjeong tiba tiba melepaskanku dan langsung menusuk perutnya sendiri.
"Minjeong...tidakk!"
"Kenapa begini? Kenapa*?"
"Minjeong!" Aku tiba tiba terbangun dengan keringat dingin di seluruh tubuhku, dadaku masih terasa sesak atmosfer di sekitarku masih terasa menegangkan.
Tapi aku cukup lega saat aku melirik ke samping istriku masih ada, dia tertidur tenang di sampingku syukurlah kejadian aneh tadi hanya mimpi, pantas saja semuanya terlihat tidak masuk akal.
"Aakhh." Aku memijit kepalaku yang terasa pening sebab tiba tiba bayangan Minjeong yang sedang menusuk dirinya melintas di benakku, aku melirik jam digital yang terletak di atas nakas menunjukkan pukul dua malam.
Kenapa tiba tiba aku terus memikirkan Minjeong, wanita itu sudah membuat jantungku berdegup hebat karena kehadirannya tadi. Aku merasa sangat kesal kepadanya kenapa dia bisa senekat itu? Aku bisa mati bunuh diri jika tadi semuanya terungkap, aku harus bertemu dengannya dia harus di beri pelajaran karena sudah melanggar aturan.
Dengan tergesa aku meninggalkan rumah ini, aku pergi diam diam tanpa sepengetahuan Dongha dan penghuni rumah lainnya. Saat ini kami memang belum pulang ke apartemen tapi masih menginap di rumah mertuaku.
Syukurlah jarak garasi dan kamar cukup jauh dan di dukung oleh suara mesin mobilku yang begitu halus, jadi aku bisa pergi diam diam tanpa ketahuan siapapun.
Sekitar 15 menit perjalanan aku sampai di apartemen Minjeong, aku masuk terburu buru dan langsung membanting pintu kamarnya secara kasar.
Brak!
Dia langsung terkejut dari tidurnya karena suara bantingan pintuku yang begitu keras.
"JAEMIN!" Minjeong membentakku, dia langsung berdiri menghampiriku yang masih berdiri di ambang pintu.
"Jaemin..." Suaranya melembut saat melihat wajah dinginku yang menatapnya tajam.
"Apa ada suamiku? Kenapa malam malam datang? Kau merindukan anakmu hm?"
"Kim Minjeong kau gila!" Aku mendorong tubuh Minjeong secara kasar karena dia akan memelukku.
"Apa maksudmu Jaem?"
"Kau gila Minjeong, kenapa tadi kau datang Hah?"
__ADS_1
"Apa salahnya aku datang? Aku juga istrimu, lagian kan acara itu memang di laksanakan untuk anak ini!" Minjeong menjawab sambil mengelus ngelus perutnya.
"Kau salah kau gila bagaimana jika semua orang tau? Kita bisa mati!"
"Ck! kau takut Jaem?"
"Aku tidak bodoh, aku tau sampai di mana aku harus bertindak, aku hanya ingin melihat betapa bahagia nya keluarga kalian untuk menyambut anakku nanti."
"Aku juga ingin melihat ukuran perut Dongha apakah sama dengan punyaku?"
"Ternyata perutnya masih besaran punyaku, wajar saja di perutku ada bayi sungguhan sedangkan di perut Dongha hanya penuh kemunafikkan."
"Dongha perempuan munafik Jaem...dia jahat dia pembohong besar!"
"Kenapa suamiku hidup dengan perempuan mandul dan seorang pembohong?"
Plak!
Aku begitu kesal mendengar ungkapan Minjeong tentang Dongha, mulut itu benar benar ingin di hajar.
"Kau menamparku lagi? Kenapa kau selalu menamparku setiap aku mengatai Dongha Hah?"
"Perempuan itu sebegitu beharganya di matamu? Lalu bagaimana dengan ini?" Minjeong berbuat nekat dia membuka seluruh pakaian nya di depanku dan tidak menyisakan apapun di tubuhnya.
"Kau lihat tubuh sexy ku ini harus hilang gara gara menampung benih sialan darimu, aku kehilangan semuanya saat mengandung anakmu."
"Aku kehilangan kehidupanku, aku kehilangan kerjaanku aku kehilangan hidup normalku gara gara perut ini Jaem....bisa kah kau juga menghargaiku? Aku rela meninggalkan semuanya karena aku mencintaimu."
"Aku mencintaimu Jaemin!" Minjeong mendekat kearahku, dia menuntun tanganku yang bergetar untuk menyentuh payud*ara yang berisi.
"Liat bahkan aku sudah menghasilkan asi, aku menderita Jaem karena kehamilan, aku sakitan saat payud*raku terus membengkak."
"Tidak bisakah kau juga menghargaiku? Hargaiku sebagai seorang istri, aku tidak mau kau hanya menganggapku sebagai rahim sewaan."
Aku menarik cepat tanganku agar tidak terlalu lama lama menyentuh payud*ra yang mulai basah tersebut, ada sedikit gelenjar aneh dalam diriku saat melihat Minjeong seperti ini.
"Tapi emang kenyataannya begitu Minjeong, kau hanya sebatas rahim yang akan ku bayar, jadi jangan berharap lebih!"
"Aku tidak mau Jaem.. Aku istriku aku wanita yang hamil anakmu."
"Aku mencintaimu Na Jaemin." Minjeong sedikit berjinjit untuk meraih bibirku, dia menciumku sedikit lama ada air mata yang mengalir dari matanya saat dia menciumku.
Selama beberapa detik aku hampir larut dalam ciuman ini, untung saja aku segera tersadar dan langsung mendorong tubuh Minjeong.
"Auww ahhhh." Sepertinya dorongan ku terlalu keras, Minjeong terjatuh terhempas ke lantai dia meringis dan semakin lama terus merintih kesakitan.
Aku panik setengah mati melihat darah mengalir deras dari sel*ngkangannya, dia terus menangis dan merintih kesakitan sambil memijit mijit perutnya.
Ya tuhan apa mungkin ini maksud dari mimpi tadi? Apa aku akan benar benar menjadi pelaku pembunuhan anakku sendiri. Apa mungkin Minjeong akan keguguran karena doronganku tadi.
Aku kalut, aku bimbang dengan tidak karuan aku menggendong tubuh telanj*ng Minjeong ke mobilku dan segera mencari klinik bersalin terdekat.
__ADS_1
Aku sudah menghubungi Karina, dokter itu mengumpati ku habisan habisan saat ku ceritakan yang barusan terjadi.
Bersambung.