
"Huek huek huek!" Sudah dari pagi Minjeong terus muntah muntah, lagian itu salah dia sendiri yang tidak mau sarapan dan lebih parahnya di juga tidak makan malam.
Aku tidak bisa tenang melihat dia terus memuntahkan isi perutnya yang hanya berisi cairan, karena perutnya memang kosong wajar saja hanya air yang berhasil dia muntahkan.
Aku baru saja pulang dari berbelanja beberapa kebutuhan bayi, anak kami sekarang sudah berusia tiga bulan jadi aku sangat sibuk bersama Dongha mengurusi segala kebutuhannya, walaupun sudah di bantu Bu Minju dan mama tapi ternyata merawat bayi kembar memang sesibuk itu.
Kedua anak itu selalu menangis secara bergantian, mereka juga buang air bergantian, biasanya di malam hari satunya tidur satunya bangun, jarang sekali mereka terlelap secara bersamaan.
Walaupun begitu kerepotan dan kurang tidur tapi aku sebagai orang tua menyukai ini, karena saat melihat mereka tersenyum hatiku damai semua beban yang menempel di pundakku langsung runtuh jika kedua bayiku merespon segala bentuk kasih sayang yang aku lakukan.
Tadi sebelum kembali ke apartemenku aku mampir dulu ke kediaman Minjeong, dia sudah sehat jadi aku tidak terlalu sering mengunjunginya, karena terlalu sibuk mengurusi para bayi tidak terasa aku sudah hampir seminggu mengabaikannya. Dan hari ini adalah puncaknya, Ibu yang merawat Minjeong melapor kepadaku bahwa dia tidak mau makan, dan terus mengurung diri di kamar.
Minjeong tidak makan tentu saja itu bukan suatu yang baik, karena selama ini di bantu asistennya Minjeong terus memompa asinya untuk di berikan kepada bayiku, bayi-bayiku tumbuh sehat karena asi berkualitas yang di berikan oleh ibu biologisnya.
Bu Yeri asistennya Minjeong setiap pagi datang ke apartemenku untuk memberikan asi yang sudah di kemas dalam botol botol kecil untuk di berikan kepada bayiku, di depan Dongha aku perintahkan dia agar mengaku sebagai ibu kandung Winter, karena selama ini Dongha taunya Winter alias Minjeong memang hidup berdua dengan ibunya.
Tapi pagi ini Bu Yeri tidak datang seperti biasanya, padahal stok asi di lemari pendingin hampir habis makanya aku berniat mengunjungi Minjeong ingin mengetahui keadaannya, aku khawatir padanya bagaimanapun dia juga istriku.
Ku pijit pelan tengkuk belakang Minjeong membantu dia agar lebih leluasa mengeluarkan rasa mual yang terus menekan nekan perut ratanya yang sedikit kendur pasca melahirkan, perut yang rata yang kendur itu adalah saksi bisu bahwa anakku pernah menaungi kehidupan di dalam di sana.
"Jaemm...." Lirihnya pelan sambil meraih tanganku,
"Udah? Masih mual gak?" Tanyaku membantunya berdiri dari posisi jongkok yang menghadap kloset, dia hanya menggeleng pelan lalu segera ku tuntun dia keluar dari kamar mandi menuju ke kamar pribadinya dan segera membaringkannya di kasur.
"Gimana perut kamu udah enakkan?" Minjeong hanya diam tidak berniat mengeluarkan suara apapun dari bibirnya.
"Makan ya! Aku suapin." Ku raih bubur panas yang terhidang di atas nakas di dekat kami, bubur ini baru saja di buatkan oleh Bu Yeri atas arahanku, karena sebelumnya dia bingung harus masak apa sebab Minjeong selalu menolak makanan yang di berikan padanya.
"aaaaa, buka mulut nya!" Ku arahkan satu sendok mendekat kearah Minjeong, tapi dia tidak mau membuka mulutnya dan hanya menatapku dingin.
"Min ayo makan, jangan begini, nanti kamu semakin sakit." Ujarku lembut, lalu kembali menyendok ulang bubur untuk nya.
"Kenapa? Kamu makan apa?" Aku bertanya berusa lembut sekali padanya, agar dia bisa luluh dan menurutiku kali ini.
"Kamu jahat Jaem." Aku tidak mengerti kedua netra hitam itu mulai memerah sedetik berikutnya dia menangis.
"Iya aku tau, maafin aku!" Balasku setenang mungkin.
__ADS_1
"Kamu tu jahat sadar gak? Kamu cuman jadiin aku alat, kamu ambil anakku lalu setelah itu kamu jadiin aku alat penghasil asi, kamu datang dan pergi sesuka kamu."
"Kamu datang saat kamu butuh aja, aku benci Jaemm..." Minjeong mulai bersuara walaupun lemah dia berusaha mengeluarkan semua amarahnya.
"Gak gitu, aku berusaha adil." ku letakkan kembali bubur di tanganku ke meja, lalu ku tatap Minjeong dalam dalam.
"Adil katamu? Tapi apa Jaem, kamu lebih banyak bersama Dongha, kamu cuman datangin aku sesekali itu yang kamu sebut adil Hah?"
"Ya itu wajar, Dongha kerepotan merawat bayi bayiku, jadi aku harus membantunya."
"Tapi kan dia gak sendirian Jaem, ada mama ada Bu Minju bahkan Donghyuck dan ayahnya juga sering datang, ah bukan sering setiap hari, setiap hari Dongha di datengin orang orang sedangkan aku?" Minjeong menarik nafasnya berusaha mengontrol air mata itu yang terus menetes,
"Aku cuman berharap di datengin kamu, tapi juga sulit? Padahal kamu udah janji, tapi kenapa gini?"
"Minjeong tolong mengerti, aku tau kamu kesepian tapi aku juga berusaha membagi waktu untuk kamu, aku janji nanti kalo anak anak udah cukup besar dan gak terlalu rewel aku pasti! Pasti selalu ada di sini nemenin kamu."
"Bohong Jaem, kamu udah sering bilang gitu."
"Janji, aku janji. Kan aku udah sering bilang kamu juga istriku, aku pasti akan berlaku adil."
"Iya sayang?"
"aku istrimu kan?"
"kenapa bertanya, jawaban nya sudah jelas."
"lalu kenapa selama ini kau belum pernah menyentuhku layak nya seorang istri?"
"Aku..., aku cuman."
"Cuman apa?"
"Apakah boleh?" Tanyaku ragu ragu, karena sejujurnya semenjak kejadian dirumah sakit, aku sudah menyadari perasaanku, aku mulai membuka perasaanku untuk nya, aku mulai luluh setiap mengingat dialah yang bertaruh nyawa dalam melahirkan malaikatku.
Sebenarnya aku juga ingin menyentuhnya seperti seorang istri, tapi aku takut, takut jika aku menyentuhnya akan membuat Minjeong kembali ke memori malam itu, memori aku berubah menjadi monster dan mengacaukan segalanya. Bukankah seharusnya wanita trauma dengan laki laki yang sudah memperkosa nya?
Aku rasa begitu, Minjeong pasti trauma denganku, makanya sebisa mungkin aku menahan diri, agar potong potongan memori malam itu tidak lagi terputar di benaknya, aku ingin dia melupakan betapa bodohnya aku malam itu.
__ADS_1
"Hemm!" Minjeong hanya berdehem pasti meresponi pertanyaanku.
"Kau, kau tidak membenciku? Tanya ku lagi.
"Membencimu untuk apa?"
"Ya bagaimanapun aku adalah laki laki yang mengacaukan segalanya."
"Aku tidak pernah membencimu Jaem, aku mencintaimu. Sungguh aku mencintaimu Na Jaemin."
Aku membeku beberapa menit, mendengar pernyataan cintanya barusan, ada sesuatu yang mendesir didadaku saat mendengar itu.
Rasanya ada sesuatu yang tumbuh di dadaku, sesuatu yang mendorong agar aku berbuat lebih, sesuatu yang mendorong untuk membuka benteng pertahananku.
Ku pandangi Minjeong lekat lekat, pupil hitamnya bergetar saat aku semakin mendekat kan wajahku padanya, aku sudah tidak tahan dengan perlahan segera ku tempelkan bibirku padanya, lalu mulai bergerak sedikit agresif.
Saat aku sibuk menyesap dan menyedot salivanya perlahan kurasakan tangan Minjeong bergerak ke dadaku, dengan hati hati Minjeong mulai membuka kancing kemejaku satu persatu, tanpa melepaskan pungutan bibir kami, aku membantu tangan mungil itu untuk membuka kemeja yang ku kenakan.
"Hahh." Hampir kehabisan oksigen segera ku lepaskan pungutan ini, Minjeong tersenyum menatap wajahku yang hanya berjarak sekitar lima senti dari bibirnya, otak bodohku malah terfokuskan dengan bibir Minjeong yang basah akibat ulahku.
"Bolehkah?" Aku bertanya sekali lagi, sebelum kami masuk semakin dalam.
Lagi Minjeong kembali tersenyum dan mengangguk, marasa di beri ruang dengan semangat aku segera menuntun diriku untuk berbuat lebih.
Perlahan tapi pasti aku sudah berhasil membuat Minjeong menanggalkan seluruh pakaian yang ia kenakan, tanpa ragu aku benar benar melakukan apa yang seharusnya aku lakukan.
Aku sedikit merasa bersalah pada Dongha, tapi rasa bersalah itu tentu saja kalah dengan nafsuku saat ini, lagian Minjeong juga istriku tidak sepenuhnya aku salah.
Pagi itu pagi dimana seharusnya aku hanya mengecek keadaan Minjeong dan mengambil beberapa liter asi yang tersimpan di lemari pendingin di dapur, tapi malah menjadi pagi yang menggairahkan.
Menjadi pagi yang panjang, pagi yang membuatku lagi lagi tenggelam dalam dosa.
Tapi apakah ini dosa? Aku melakukan nya dengan Minjeong wanita yang juga berstatus sebagai istriku, aku tidak tau ini dosa atau apa yang aku tau saat masuk semakin dalam ke dalam permainan perasaanku semakin menggebuh.
"Aku mencintaimu..." Bisikku di telinganya di selah kegiatan panas kami.
Bersambung.
__ADS_1