Rahim Simpanan Na Jaemin (NCT X AESPA)

Rahim Simpanan Na Jaemin (NCT X AESPA)
Pernikahan penuh dosa


__ADS_3

Ini hari minggu mendadak suasana hatiku menjadi tidak nyaman, aku melirik gelisah telepon genggamku yang terletak rapi di atas nakas meja makan tepat di sampingku.


"Sayang?" Panggilan lembut Dongha menyadarkan ku dari lamunan.


"eh iya apa?" jawabku sedikit gelagapan,


"Kamu melamun, liat tu kopimu sudah dingin." Dongha menunjuk ke arah cangkir kopiku yang belum tersentuh sedikitpun.


"Eh maaf maaf." Aku langsung menyeruput kopiku dalam sekali tegukkan.


"Kenapa hm? Kamu aneh!"


"Aneh aneh gimana maksudmu Dongha, aku gak kenapa kenapa gak ada yang aneh koq."


"Kamu ada masalah Jaem?" Tanya Dongha dia menatapku ragu tapi tetap menampilkan senyum teduhnya, menatap senyum teduh itu membuat dadaku semakin sesak dan gelisah.


Ting! Ting! Ting!


Suara bel menganganggu kami,


"Dongha sepertinya itu Jeno, aku pergi dulu ya!"


Hari ini aku memang sudah izin kepada Dongha untuk pergi ngegym bersama Jeno, dia tidak heran dan menaruh curiga karena ini memang sudah menjadi kebiasaan ku menghabiskan hari minggu bersama Jeno.


Aku keluar dari rumahku dengan wajah datar sedangkan Jeno menyambutku dengan senyuman, sial kenapa dia malah tersenyum dan keliatan tenang padahal hari ini aku akan melakukan dosa besar, aku berharap sekali Jeno akan menahanku dan mencegahku agar aku punya alasan untuk menghindar.


Hening, tidak ada pembicaraan selama perjalanan aku fokus dalam lamunan sedangkan Jeno fokus menyetir membawaku ke sebuah gereja yang letaknya berada di pinggiran kota.


"Jaem, kita sampai!" Suara berat Jeno mengangguku yang terpejam tenang di kursi penumpang.


"Jeno bisakah kita putar balik, sepertinya aku tidak sanggup."

__ADS_1


"Jangan jadi pengecut Jaem, Ayo!" Jeno menuntunku keluar sepupuku itu menggiring membawa ku ke suatu ruangan di gereja ini.


Seperti ruang ganti, ternyata di sana sudah ada seorang pria yang menungguku sambil menata alat make up.


"Ooo pengantin pria nya tampan sekali, aku baru saja selesai merias mempelai wanitanya dan dia benar benar terlihat cantik, anda akan terkejut Pak melihat calon istri anda."


Presetan calon istri siapa yang di sebut calon istri? Istriku cuman Dongha bukan yang lain.


Aku duduk dengan kaku di meja rias membiarkan pria yang sedikit anggun ini mengacak ngacak wajahku semaunya.


"Terakhir silahkan ganti baju anda, saya sudah siapkan." Lagi Jeno menggiringku untuk berganti pakaian, dengan malas aku membuka baju ku menggantinya dengan kemeja putih di lapisi jas hitam tidak lupa juga membuka celana training merahku menggantinya dengan celana kain hitam panjang.


"Perfeck!" Jeno bergumam melihat penampilanku,


"Ayo Jaemin sekarang saatnya!" Jeno menarik lenganku untuk menuju ke altar, dari kejauhan aku sudah bisa melihat beberapa orang di sana.


Karina dengan pakian formalnya serta berdiri Minjeong di sebelahnya menggunakan gaun pengantin yang bernuansa putih serasi dengan kemejaku, aku berjalan malas dengan tatapan dingin ke arah mereka.


Kenapa semua tersenyum bahagia padahal aku sudah ingin menangis dari tadi.


"Silahkan untuk kedua mempelai berhadapan kita akan mulai akadnya." Pastor yang usianya hampir sama dengan Ayahku juga kelihatan tersenyum bahagia lalu dia berdiri di tengah tengah kami.


Pastor meletakkan kitab suci di tengah kami lalu mengarahkan ku untuk mengucapkan janji pemberkatan, aku tidak berkutik rasanya tidak sanggup benar benar tidak sanggup merelakan mulutku menyebut janji suci pernikahan untuk wanita lain.


Aku tertunduk dan ku rasakan ada cairan bening yang mengalir dari mataku, saat ini aku ingin meraung menangis memohon ampun kepada istriku, tapi aku tidak boleh memikirkan diriku saja aku sudah berjanji untuk menikahi Minjeong, dia sedang mengandung bayiku aku harus bertanggung jawab.


"Sa-ya mengambil engkau Kim Minjeong untukㅡ" Aku tidak sanggup kalimatku baru saja mulai tapi aku sudah merasakan sesak yang luar biasa di dadaku, aku terisak di depan semua orang di sini.


"Saya mengambil engkau Kim Minjeong untuk menjadi istri saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan janji Alah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus." Setelah bersusah payah dan sedikit gemetar akhirnya aku berhasil menyelesaikan janji suci, walau setiap kalimat yang aku ucapkan di iringi oleh air mata kesedihan yang mengalir deras.


"Saya mengambil engkau Na Jaemin, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan janji Alah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus." Berbanding terbalik Minjeong berucap dengan lantang dan sangat lancar dia tersenyum memandangiku sedangkan aku masih dengan wajah kusut tidak beraturan.

__ADS_1


Pastor menyerahkan sepasang cincin kepada kami, dengan berat hati dan tangan yang bergetar hebat aku menerima cincin tersebut dan memasangkannya di jari manis Minjeong, Minjeong juga melakukan hal yang sama dia menerima cincin tersebut dan memasangkannya di jari manisku.


Minjeong bergerak untuk mencium bibirku tapi aku dengan cepat menghindar, dia menatapku kecewa, bagus lebih baik kamu kecewa padaku karena setelah ini akan lebih banyak hari hari yang mengecewakan untukmu.


"Selamat kalian berdua sudah sah menjadi sepasang suami istri." Ucap pastor tersebut,


Jeno dan Karina langsung naik ke atas mimbar, Karina memeluk Minjeong sangat erat mengucapkan banyak kata selamat kepadanya, sedangkan Jeno merangkulku dia mengusap ngusap pelan bahuku, semakin di usap rasanya semakin sesak. Dalam keadaan berdiri dan tangan yang terkepal aku berusaha menahan air mataku agar tidak lagi jatuh, aku sudah cukup malu menangis dari tadi.


Acara pemberkatan selesai kami berempat sudah berada di dalam mobil, Jeno Karina duduk di depan sedangkan aku dengan Minjeong di belakang.


Dari belakang aku bisa melihat interaksi Jeno Karina yang begitu intens mereka saling bercanda dan Jeno terus menggunakan tangan kirinya yang menganggur untuk mengenggam mesra tangan Karina.


Rasanya sudah tidak ada harga diri lagi, Jeno bahkan terang terangan bermesraan dengan wanita lain di depanku, jika saat ini kondisi nya normal tentu aku akan menyeret Jeno keluar dan menghajarnya habis habisan, tapi masalahnya sekarang aku tidak ada bedanya dengan Jeno sudah sama sama brengsek.


Bahkan aku lebih brengsek dari Jeno, jika Jeno mengkhianati istrinya selama bertahun tahun maka aku sekarang juga sudah mengkhianati istriku bahkan menikah dan menghamili perempuan lain.


"Jeno, nanti berhenti kan aku di perempatan! Aku ingin pulang sendiri." Ujarku dengan suara sengung dan memasang wajah sedingin mungkin.


"Kenapa Jaem? Bukankah kau dan Minjeong satu arah, lebih baik aku mengantar kalian sampai tujuan."


"Aku mohon..." Suaraku mulai memelas,


"Kenapa sih Jaem, kita kan baru menikah lebih baik kita pulang kerumah secara bersama sama." Ujar Minjeong santai lalu dia mengenggam tanganku, aku merasa jijik saat Minjeong menyentuhku. Dengan penuh amarah ku hempaskan tangan Minjeong secara kasar, dia sedikit merintih tapi aku tidak perduli.


"AKU CUMAN MINTA BERHENTI DI PEREMPATAN ! APA ITU SULIT?" Suaraku mulai meninggi suasana yang tadinya tenang mulai sedikit tegang karena bentakkan ku.


"Jeno berhenti!"


"JENO !"


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2