Rahim Simpanan Na Jaemin (NCT X AESPA)

Rahim Simpanan Na Jaemin (NCT X AESPA)
Rahasia yang terungkap


__ADS_3

"Jeno?" Gumamanku yang sedikit keras bisa di dengar oleh kedua insan yang sedang asyik bermesraan tersebut, mereka langsung tersentak saat melihatku dan Dongha ada di tempat ini dan menyaksikan perselingkuhan mereka.


Jeno dia langsung kalang kabut kebingungan mencari celah untuk bersembunyi sedangkan Karina masih mematung dengan tatapan sarkastik ke arah kami.


"kalian !!!" Dongha akhirnya bersuara tanpa arahan istriku langsung mendekat ke arah mereka dan tanpa di duga Dongha melayangkan satu tamparan di pipi Jeno yang sudah memerah karena tertangkap basah.


"DONGHA !" Melihat kekasihnya baru saja di tampar oleh seseorang Karina terlihat tidak terima dia langsung membentak Dongha dan hendak membalas tamparan tersebut, tentu saja aku langsung bergerak cepat menangkis tangan Karina yang hampir saja menyentuh pipi mulus wanitaku.


"Jeno apa yang kau lakukan HAH?"


"kau berselingkuh, kau mengkhianati Aeri?"


"Di mana otakmu, Aeri istrimu dia istrimu dia wanita yang sudah melahirkan 3 anakmu, Jeno bajingan kau gila."


"Jeno kau binatang, Anjing sialan." Aku tidak percaya dengan yang baru saja ku dengar, Dongha baru saja berkata kasar dan berbicara dengan nada tinggi?


Ini pertama kalinya seumur hidupku aku melihat istriku semarah itu tatapan matanya itu bukan tatapan yang ku kenal.


"Beraninya kau !!!" Karina naik pitam mendengar segala umpatan dari mulut Dongha, dia memberontak dari cengkramanku berusaha meloloskan diri dan akan menyerang Dongha. Karena aku sedikit terkejut dengan yang baru saja ku dengar aku lengah, Karina berhasil lolos tidak mau membuang kesempatan wanita yang sedang marah tersebut langsung menyerang Dongha.


PLAK !!!


Satu tamparan berhasil mendarat di pipi Dongha, kemudian dengan sekali gerakan Karina sudah menjambak rambut Dongha.


"Aaaakkkk." Dongha merintih saat rambutnya di tarik sekuat tenaga oleh Karina, tidak mau kalah Dongha juga langsung balas menjambak rambut panjang Karina yang terikat, Kedua wanita itu saling menjambak satu sama lain.


Ya tuhan aku bingung bagaimana menghentikan mereka, jika ku tarik salah satunya pasti jambakkan tersebut semakin kuat, tidak ada pilihan dengan tangan yang terkepal aku melayangkan satu pukulan di wajah Karina. Pukulan ku sangat kuat tentu saja karena aku sangat marah melihat istriku di sakiti.


Karina jatuh tersungkur setelah kupukul, dia melirik ke arah Jeno tapi laki laki berbadan atletis tersebut segera pergi dan menghilang di telan pintu keluar.


"Oiii, Lee Jeno !!!"


"Dasar pengecut, JENOOOO !!!"


"AAAGHHH...." Karina mengerang frustasi menatap Jeno yang sudah pergi menjauh meninggalkan kami.


"CK! Laki laki macam apa dia, dasar sampah." Setelah Jeno benar benar pergi tanpa jejak tatapan Dongha seketika menjadi lunak dia menatap kasian Karina yang terduduk lemah di lantai dengan darah yang terus keluar dari hidungnya.

__ADS_1


"Maaf!" Dongha berujar tiba tiba dan mengulurkan tangannya untuk membantu Karina berdiri.


"Duduk di sini, akan ku ambilkan p3k." Dongha langsung berlari mengambil kotak P3K yang tersusun rapi di dalam lemari obat obatan yang tidak jauh dari pintu masuk.


Dengan telaten Dongha membantu Karina menyumbat hidungnya yang berdarah dengan kapas yang sudah di beri antiseptik, dia juga mengoleskan salep pereda nyeri di pipi Karina yang mulai membengkak akibat pukulanku tadi.


"Karin, maafin aku." Dongha memasang tampang yang sangat menyesal, Karin juga tidak meresepon balik dia hanya sibuk menahan tisu di salah satu lubang hidungnya.


"Kenapa kalian bisa ada di sini?" Tanya Karin yang sudah menyandarkan bahunya di sofa dengan mata terpejam.


"Aku sama Jaemin, hm itu ada yang mau kami bicarakan." Jawab Dongha yang juga ikut menyandarkan bahunya di kursi.


"Apa itu penting?"


"Penting Karin sangat penting." Aku langsung menimpali pertanyaan Karina karena Dongha sedikit termenung mendengar pertanyaan Karin. Aku tau Dongha pasti bingung cara menyampaikannya dan dari segi pertanyaan Karin masalah yang akan kami bicarakan sangat penting tapi tidak terlalu penting untuk Karin.


"Ka-rin sekali lagi aku minta maaf, tadi aku terbawa emosi melihat kau dan Jeno. Bagaimanapun Aeri itu teman kita, aku merasa kesal." Ujar Dongha


"Ya aku tau, wajar kau merasa kesal."


"Aku wanita jahatkan Dongha? aku berteman baik dengan Aeri tapi dengan bodohnya aku menjalin hubungan dengan suami Aeri. Tapi sudah terlanjur perasaan ku sudah terlalu jauh."


"Sudah lama Jaem."


Karina menarik nafasnya dalam dalam lalu menghembuskannya dengan kasar, "Sudah lama bahkan sebelum anak kedua Jeno lahir."


"Hah? Selama itu." Dongha langsung bangkit dari kegiatannya yang sedang bersandar di sofa,


"Ya, sudah hampir 5 tahun. dan selama lima tahun terakhir kami tidak pernah ketahuan, dan hari ini kami ketahuan."


"Dongha Jaemin, aku yakin kalian pasti mengerti tolong jaga rahasia ini. Bagaimanapun ini urusan pribadiku dengan Jeno." Karina berbicara sedikit memelas-


"Aku tau aku jahat Dongha, aku pantas di hukum terkadang aku juga merasa bersalah kepada semua orang, tapi aku tidak ada pilihan. Hatiku yang bodoh ini sudah terlanjur bergantung kepada suami orang."


"Karin, kalau ngomongin soal jahat sebenarnya aku juga wanita yang jahat. Aku juga pantas di hukum." Dongha berusaha menahan air matanya,


"Aku juga membohongi semua orang, tapi benar katamu ini sudah terlanjur."

__ADS_1


"Maksudmu apa Dongha, apa yang kamu sembunyikan?" Tanya Karin sambil menatap intens kedua netra Dongha yang sudah memerah.


"A-ku sebenanrnya mandul, aku mandul Karin." Pecah sudah Dongha akhirnya menangis, aku langsung meraihnya dan menyembunyikan wajah sedih istriku di dada bidangku ini.


"Mandul? Tapi kata tante kamu hamil, tante sendiri yang memintaku untuk menjadi dokter kandungan untukmu."


"Aku tidak pernah hamil dan tidak akan pernah, itu semua kebohongan. Aku bohong ke semua orang tentang kehamilanku."


Karin menatap tidak percaya kepada Dongha yang berbicara sambil menangis di hadapannya.


"Dongha!" Karin langsung memeluk Dongha dan kedua wanita itu saling menangis dalam pelukan mereka masing masing. Dongha menangisi takdirnya yang begitu tidak adil dan Karin menangisi takdirnya yang menyukai dan menjalin hubungan dengan suami sahabatnya sendiri. Sungguh takdir tidak bisa di tebak dan di hindari semuanya terjadi begitu saja.


Aku berjalan keluar sebentar meninggalkan kedua wanita yang sedang saling menguatkan itu sedikit lebih tenang, aku pergi ke kantin membeli beberapa air mineral hanya air yang ku beli, situasi seperti ini tidak memungkinkan untuk membeli makanan apalagi cemilan karna ini bukan kegiatan santai melainkan hal yang sangat serius dan menegangkan otak.


Setelah kembali dari kantin aku segera menyodorkan sebotol air mineral dingin kepada mereka, setelah keadaan mulai tenang aku mulai membuka pembicaraan.


"Karin!" Panggilku pelan, wanita itu hanya melirik sebentar kearahku lalu tatapan nya kembali lagi menatap kosong pintu keluar.


"Karena kita sudah tau rahasia masing masing aku mau kau membantuku, membantu Dongha."


"Saat ini kami sedang melakukan program inseminasi."


"kau serius Jaem, berarti saat ini ada wanita yang sedang mengandung benihmu."


"Iya Karin, saat ini ada wanita yang mengandung anakku usia kehamilannya sudah memasukki enam minggu." Aku meneguk sebentar air minumku sebelum melanjutkan ucapanku,


"Dan semua orang taunya Dongha lah yang sedang hamil."


"Jadi maksudmu Dongha pura pura hamil?"


"Iya, nanti saat anakku lahir dari wanita itu anak itu akan segera menjadi anak Dongha, aku dan Dongha akan merawatnya dan memberikan bayaran yang setimpal terhadap rahim yang sudah menapung bayiku."


"Jadi aku minta tolong, tolong bantu kami untuk merekayasa kehamilan ini, tolong buat semua orang yakin kalo Dongha memang mengandung."


"Aku tidak yakin, tapi mari kita coba!"


Sesuai dugaanku Karina memang mudah di ajak bernegoisasi, walaupun harus di awali dengan kejadian yang tidak menyenangkan tapi setidaknya niatku terlaksana,

__ADS_1


Mulai saat ini Karina akan menjadi bagian dari rencana kami, karena aku sudah tau rahasia besar dalam hidup Karina tentu mudah sekali mengaturnya.


Bersambung.


__ADS_2