
Seorang laki laki berdiri di depan gerbang sekolah yang sudah tertutup rapat, dia mengintip di antara celah celah gerbang besi itu untuk melihat kedalam sekolah dan melihat keadaan sekolah.
Setya hanya bisa melihat halaman sekolah yang terhampar tanpa ada satu orang pun yang berlalu lalang disana, jarak pandang Setya tertutup oleh bangunan kelas yang berdiri kokoh dengan beberapa lantai di yang saling bertumpuk.
"Aku terlambat...Kemana penjaganya? Sialan."
Setya mengalihkan penglihatannya ke arah pos jaga yang terletak dekat dengan gerbang itu, seharusnya pada saat ini satpam berada di pos jaga yang berada dekat dengan gerbang sekolah. Tetapi tidak ada sesosok manusia satupun yang bisa dilihat dari luar gerbang sekolah ini. Setya hanya bisa menggerutu kesal.
Disi lain seluruh warga sekolah sedang melaksanakan upacara masuk sekolah yang diselenggarakan sebagai tradisi yang sudah dilakukan sejak dahulu.
Seluruh warga sekolah baik para staff dan seluruh murid di sekolah itu sedang melakukan upacara penerimaan siswa baru. Termasuk para satpam dan pembersih toilet. Pada hari hari biasa mereka sama sekali tidak pernah berpartisipasi dalam kegiatan upcara upacara tetapi sepertinya untuk upacara penerimaan siswa baru mereka memiliki pengecualian berbeda dengan yang lain sehingga seluruh warga sekolah tidak ada yang tidak mengikuti kegiatan upacara itu,
Setya yang sedang berdiri putus asa di depan gerbang sekolah itu mendengar suara langkah kaki yang mendekat kearahnya dengan berlari tergesa gesa.
Secara reflek Setya menoleh ke arah kiri dan mengarahkan pandangannya ke arah sumber suara. Dari jarak sekitar 5 meter Setya melihat seorang perempuan dengan rambut panjang tergerai sampai punggungnya berkibar akibat berlari dengan sangat tergesa gesa.
Butuh waktu sekitar 5 detik bagi perempuan itu untuk sampai di depan gerbang itu, Perempuan itu mengambil posisi terbungkuk membentuk sudut 90 derajat antara kaki dan badannya dengan nafaas terengah engah dan menghadap kebawah akibat kelelahan.
"Apa liat liat?"
Dalam posisi menghadap kebawah perempuan itu menyadari tatapan Setya yang melihatnya sejak perempuan itu berada pada jarak 5 meter darinya dan sampai sekarang tetap melihatnya.
Setya buru buru mengalihkan pandangannya ke arah halaman sekolah dari celah gerbang itu untuk menghindari bentakan perempuan itu lebih lanjut.
Setya tetap terdiam tidak menanggapi ucapan perempuan yang sebelumnya menegurnya itu, menurutnya lebih penting jika dia seharusnya segera memikirkan cara untuk masuk ke sekolah itu.
Sekeliling sekolah itu berdiri tembok tembok yang lumayan tinggi, sepertinya mustahil untuk bisa memanjat tembok yang berdiri itu tanpa menggunakan pijakan.
Setya melihat kearah sekelilingnya berusaha untuk mencari benda apapun yang sekiranya dapat digunakan untuk masuk ke sekolah itu. Setidaknya dia berharap bisa menemukan tangga dari bambu yang dapat memudahkannya untuk memanjat
__ADS_1
Tatapan Setya tertuju pada sebuah tali besar yang tergeletak di seberang jalan, kemungkinan besar tali itu merupakan milik seorang pejalan kaki yang tidak sengaja menjatuhkan talinya,
Letak sekolah Setya berada di pinggil jalan raya sehingga kemungkinan besar ada benda benda jatuh akibat kelalaian bukanlah hal yang jarang terjadi disana.
Perempuan yang juga berdiri di dekat Setya daritadi hanya bisa diam, dia terlalu kelelahan untuk membuang buang tenaga nya untuk membicarakan sesuatu yang tidak perlu meskipun sebenranya dia juga merasa khawatir karena berakhir dengan terlambat di hari pertamanya ke sekolah.
Taanpa banyak bicara Setya segera mengambil langkah ke arah seberang jalan, dia sempat menoleh ke arah kiri dan kanan untuk memastikan tidak ada kendaraan yang akan berlalu lalang di jalan itu.
kebanyakan orang akan berangkat kerja pada pagi hari sehingga waktu saat ini sudah cukup siang untuk disebut pagi hari dan orang orang sudah berada dalam jumlah sedikit untuk berlalu lalang di jalan raya dekat sekolahnya.
Setya sampai di depan gerbang dengan tali yang sudah berada di tangannya. Perempuan yang berada di sampingnya tetap diam dan berharap setidaknya laki laki yang berada di sampingnya ini memiliki cara yang dapat di andalkan untuk bisa masuk ke sekolah itu.
Setya mengikat ujung tali itu membentuk sebuah lingkaran kecil dan melemparkannya ke arah ujung jeruji gerbang yang berada di atas.
Gerbang itu memiliki tinggi 3 kali tinggi Setya saat itu, dan sayangnya gerbang sekolah itu hanya memiliki 2 jeruji mendatar yang dapat digunakan pijakan untuk memanjat 1 jeruji di bawah tewpat pada tinggi dengkul Setya dan 1 jeruji mendatar berada di atas.
Mustahil untuk bisa memanjat gerbang sekolah itu dengan pijakan yang beradadi ujung bawah dan ujung atas. Sedangkan jika dia memaksa untuk memanjat tanpa alat bantuan tali kemungkinan besar dia tidak akan sampai di atas.
Pada percobaan lemparan pertama tali berbentuk lingkaran yang hendak di masukan ke dalam jeruju atas gerbang itu meleset dari tempat yang dikehendaki Setya.
Setya mengambil percobaan melempar yang kedua kali ini dia sempat memutar mutar talinya seperti seorang koboy yang hendak mendapatkan targetnya dan lemparan kedua berhasil di luncurkan, setidaknya pada lemparan kedua ini jarak tali dengan jeruji lebih dekat daripada lemparan pertama.
Sedangkan gadis yang berada bersama dengan Setya hanya bisa memperhatikan dengan perasaan yang sedikit kesal karena Setya tidak bisa segera menyangkutkan tali yang dia pegang pada jeruji gerbang itu.
Perempuan itu berencana untuk langsung merebut tali yang dipegang oleh Setya setelah lemparan ketiga Setya mengalami kegagalan.
Perempuan itu tidak akan segan segan meskipun harus menggunakan kekerasan pada setya.
Setidaknya yang lebih dia khawatirkan adalah waktu yang terus berlalu dan waktu yang terbuang sia sia karena bocah yang sok melakukan sesuatu yang tidak bisa dia lakukan.
__ADS_1
Tetapi sepertinya keinginan perempuan itu untuk merebut tali yang dipegang oleh Setya terpaksa harus dikubur dalam dalam karena pada lemparan ketiga kalinya Setya berhasil menyangkutkan talinya berada pada ujung jeruji gerbang sekolah.
"Sip.."
Setya secara reflek mengucapkan sebuah kata sebagai bentuk kepuasan dirinya terhadap kemampuannya yang menurutnya hebat.
Tanpa membuang buang waktu Setya segera mencoba bergelantungan dengan tali itu untuk emmastikan tali itu tidak akan terlepas taupun putus ketika dia gunakan untuk memanjat.
Sementara itu di dalam sekolah itu semua warga sekolah dan para siswa tahun pelajaran baru sedang mengikuti upacara dengan penuh hikmat mereka melakukan upaacra di dalam sebuah gedung yang lumayan tertutup.
2 orang laki laki yang bertugas menjaga pintu gedung tempat dilaksanakan upacara tampak berbicara satu sama lain.
Ketika upacara berlangsung para perserta upacara tidak ada yang diperbolehkan upacara sehingga kedua pria penjaga itu sama sekali tidak melakukan pelanggaran peraturan ketika berbicara satu sama lain.
Dan juga dengan gedung yang memiliki sifat kedap suara setidaknya bisa membuat kedua itu bisa berbicara dengan santai tanpa khawatir akan di dengar oleh siapapun dari dalam gedung.
"Bagaimana situasinya?"
"Sepertinya msiha da 2 orang siswa yang belum masuk kedalam gedung dan mengikuti upacara."
Laki laki itu meraih gelas yang terletak di atas meja yang berada di dekatnya.
"Menarik, menurutmu apa yang harus kita lakukan pada orang yang terlambat dihari pertama masuk sekolah?"
Laki laki itu memasang wajah tersenyum dan kemudian meneguk air dalam gelas yang sudah berada di tangannya.
Setya sudah berada di dalam sekolah dengan tali yang masih tetap berada di tangannya.
Setya melapaskan pegangan tanagnnya pada tali itu dan tali itupun bergalntungan ke arah dekat gerbang itu.
__ADS_1
Perempuan yang masih berada di depan gerbang sekolah itu segera mengambil tali yang berada di dekat gerbang itu dan segera mengambil posisi untuk memanjat gerbang sekolah.
Perempuan itu mulai menempatkan kakinya di gerbang sekolah itu dan menjadikannya pijakan untuk memanjat ke atas menggunakan sebuah media dengan sudut kemiringan 90 derajat bukanlah perkara yang mudah apalagi seorang perempuan.