
Perempuan yang masih berada di depan gerbang sekolah itu segera mengambil tali yang berada di dekat gerbang itu dengan posisi bergelantungan dan segera mengambil posisi untuk memanjat gerbang sekolah.
Perempuan itu mulai menempatkan kakinya di gerbang sekolah itu dan menjadikannya pijakan untuk memanjat ke atas, menggunakan sebuah media dengan sudut kemiringan 90 derajat bukanlah perkara yang mudah apalagi seorang perempuan.
Setya segera berjalan dan masuk ke dalam sekolah, tetapi dia tiba tiba berhenti dan mulai memikirkan sesuatu.
Setya tahu jika dia masuk kedalam sekolah dan guru mengetahui akan keterlambatannya dia pasti akan benar benar dalam masalah, Setya berusaha menerka nerka kemungkinan hukuman yang akan di llontarkan oleh guru atas pelanggaran yang dia perbuat.
Setya membayangkan ketika dia harus berdiri di halaman sekolah dalam panas terik dan keringat menetes dengan deras dari sela sela rambutnya dan ketika waktu terus berlalu hingga berjam jam berada di sana sendirian dan tidak ada yang memeprdulikannya.
Setya kemudian beralih ke kemungkinan hukuman yang lain, ketika dia harus dipaksa membersihkan toilet sekolah, dia membawa sebuah sikat pembersih toilet dan sebuah swabun dengan masing masing tangannya. Ketika dia membuka pintu toilet dia melihat sebuah benda kuning kuning melayang didalam wc itu. Di sekolah itu WC yang digunakan masih berupa WC jongkok, meskipun sekolah itu termasuk sekolah favorit sepertinya pihak sekolkah masih tetap menggunakan toilet jongkok daripada toilet duduk karena mempertimbangkan unsur kebersihan.
Bukanlah hal sulit bagi sekolah itu untuk mengganti setiap toilet di sekolah itu hanya saja sepertinya sekolah itu tidak berkeinginan untuk menggunakan sesuatu yang sia sia dengan mengganti toilet yang masih bisa digunakan.
Setya secara reflek langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya sambil kepalanya menghadap kebawah seakan akan ingin muntah. Dia segera mebuang berbagai pikiran konyol yang sebelumnya dia pikrikan.
Setya seperti teringat sesuatu dan segera menghadap ke arah belakang. Dia melihat perempuan yang sebelumnya berada di luar gerbang sekolah tiba tiba sudah berada di dalam sekolah dengan sebuah tali yang berada di genggamannnya.
Setelah Setya memasuki sekolah dia langsung berjalan untuk segera masuk ke dalam sekolah dan sempat melupakan kehadiran seorang perempuan yang sebellumnya berada di luar sekolah karena terlambat berangkat ke sekolah.
Dan yang membut Setya lebih terkejut, secara tiba tiba perempuan itu sudah berada di dalam sekolah dengan santai. Setya memiliki pemikiran bahwa memanjat gerbang itu bukanlah suatu hal yang bisa dilakukan oleh orang sembarangan dan lebih anehnya dia seorang perempuan.
Setya menyimpulkan bahwa orang orang yang bisa masuk ke sekolah ini bukanlah orang normal.
Perempuan itu berjalan dengan cepat untuk segera masuk kedalam sekolah, dari sudut pandanganya perempuan itu bsia melihat Setya yang sedang berpikir kebingungan dan menatap kearahnya ketika dia berjalan ke dalam sekolah.
Tetapi perempuan itu memutuskan untuk tidak memperdulikan Setya karena yang ada di kepalanya hanyalah fokus untuk segera masuk ke dalam sekolah.
__ADS_1
Setya melihat perempuan itu berjalan lewat di depannya dan dia pun segera memutuskan untuk mengakhiri pikiran pikiran tidak perlu yang berada di kepalanya dan egera mengikuti langkah perempuan itu masuk ke dalam sekolah.
Mereka berdua melewati sebuah lorong sebagai pembatas antara halaman sekolah dan bagian dalam sekolah. Hal pertama yang terlihat ketika mereka memasuki bagian dalam sekolah itu mereka melihat sebuah lapangan yang terbentang luas.
Sekolah itu benar benar cukup luas untuk ukuran sebuah sekolah, dan gedung gedung lantai 3 yang berjajar rapi mengelilingi halaman sekolah itu.
Swetya terdiam sejenak melihat sekolah itu untuk pertama kalinya, sedangkan perempuan itu hanya terus berjalan seakan akan dia tidak memperdulikan apapun penampilan baru yang ada di sekelilingnya.
Setya akhirnya tersadar setelah terdiam beberapa saat dan melihat perempuan itu sudah berjala lumayan jauh didepannya dengan jarak sekitar 10 meter.
Setya buru buru berlari kecil untuk mempersempit jaraknya dengan gadis itu.
Seorang laki laki dengan umur sekitar 60 tahun berjalan dengan perlahan lahan naik ke atas panggung yang berada di dalam aula.
Seluruh warga sekolah yang sedang mengikuti upacara terpaku menatap ke arah laki laki tua itu. Dengan sebagian rambut yang sudah mulai memutih, laki laki itu akhirnya berdiri di depan mik dan mulai memposisikan mulutnya di depan mik itu.
"Sebelumnya aku ingin ucapkan selamat atas keberhasilan kalian dalam melakukan ujian test sehingga kalian bisa masuk ke sekoolah ini. Aku tidak meperdulikan tentang berapa banyak siswa yang bisa masuk kesekolah ini, setidaknya yang menjadi prioritas bagi sekolah ini adalah siswa di sekolah yang bisa menempati posisi pada kelas . Jadi sebaiknya kalian berusahalah untuk bisa mendapatkan tempat diposisi itu."
Perempuan muda itu kemudian memebrikan tongkat yang dia pegang ke laki lakii yang sedang berbicara di depan mik.
Banyak siswa merasa heran dengan laki laki yang harus memegang tongkat sebagai alat bantu dalam berdiri, tetapi mereka memutuskan untuk tidak terlalu menanggapinya karena mereka terlalu takut untuk melakukan perbincangan ketika upacara sedang dilakukan dan mereka menahan diri semaksimal mungkin supaya mereka tidak mengeluarkan suara yang tidak perlu.
Dalam sihir semua orang yang memiliki bakat penyihir memiliki derajat tergantung dari kemampuan bertarungnya, dan sangat aneh jika orang yang bahkan ingin berjalan saja harus memakai tongkat memiliki posisi seakan akan di muliakan dalam upacara itu.
Mulai dari ajudan seorang perempuan dan juga posisi untuk menyampaikan pidato di depan para siswa baru orang normal akan berpikir orang yang memiliki hal itu bukanlah orang sembarangan.
Tetapi melihat orang tua itu membawa tongkat untuk berjalan para siswa merasa sedikit kecewa dan sebagian juga ada yang berpikir bahwa suap menyuap di sekolah itu bsia dilakukan dengan mudah oleh pihak tertentu termasuk orang tua itu.
__ADS_1
Laki laki tua itu merasa sedikit paham dengan berbagai pikiran penasaran yang merayap pada kepala semua siswa yang berdiri.
"Saya minta maaf sebelumnya, seperti yang kalian lihat aku sedikit mengalami masalah dalam berjalan. Jadi tolong untuk di maklumi bahwa saya mungkin kadang kadang akan menggunakan tongkat untuk memudahkanku dalam berjalan. Yah aku berpikir sejenak tentang sebuah kalimat 'jangan menilai sesuatu dari sampulnya'. Mungkin orang yang terlihat lemah dari luar ternyata dia benar benar kuat. Yah mungkin hanya itu nasehat yang bisa saya sampaikan dalam upacara hari ini, saya sebagai kepala sekolah mengucapkan selamat datang di SMP akademi sihir"
Laki laki tua itu mengakhiri bicaranya dengan kata kata yang lumayan singkat dan berjalan ke arah tempat dia sebelumnya muncul diikuti oleh ajudan perempuannya yang sejak tadi berdiri di belakangnya.
5 menit berlalu sejak mereka berdua masuk ke dalam sekolah ini dan mereka belum juga menemukan tempat dimana aula sekolah tempat upacara dilaksanakan itu berada.
Mereka merasa sejak tadi mereka hanya berputar putar di sekolah itu.
"Hey,"
Mereka yang sebelumnya hanya saling diam dan terus berjalan untuk mencarai tempat aula tiba tiba ada yang memulai pembicaraan di antara mereka.
Setya yang sejak tadi berjalan mengikuti kemana perempuan itu melangkah tanpa dapat menahan diri tiba tiba mengeluarkan suaranya.
Perempuan itu tetap berjalan dan tanpa mengubah pandangannya dia menjawab pertanyaan Setya.
"Apa?"
"Jika kau tidak bisa menemukan jalan yang benar seharusnya kau menyerah dan membiarkanku memimpin."
"Aku tidak peduli"
Perempuan menjawab dengan dingin sambil terus berjalan dengan Setya yang tidak memiliki pilihan lain selain mengikutinya.
Setya memperhitungkan resiko buruk jika dia dan perempuan itu berpencar. Jika mereka berpencar dan salah satu dari mereka bertemu dengan guru dia pasti akan dihukum.
__ADS_1
Setya tidak terllau takut dengan hukuman yang dia peroleh hanya saja jika 2 orang yang dihukum bersama itu akan menghindari kemungkinan terburuk.
Lebih baik dihukum bersama daripada dihukum sendiri sendiri.