
" baiklah, sampai jumpa" ucap teman penjahat itu sambil mulai pergi
sedangkan penjahat yang sedang menyamar itupun melihat kepergian kedua temannnya itu keluar dari penjara.
Kembali ke saat perbincangan antara anak kecil itu dan temannya di Hutan.
" Kira kira itulah saat dimana aku terakhir kali melihatnya. Setelah itu aku membawamu yang sedang pingsan untuk segera melarikan diri, dan sampailah kita disini." Jelas teman anak kecil itu.
" Jadi begitu ya, baiklah." Anak kecil itu segera berdiri dari duduknya dan bersiap untuk pergi.
" Hey, seharuwsnya kita melarikan diri ke arah sana." Teman anak kecil itu menunjuk ke arah hutan yang semakin dalam.
" Kau bisa kesana terlebih dahulu, tunggu kami di tempat yang biasa."
Teman anak kecil itu terlihat terkejut dari raut wajahnya. " Apa yang ingin kau lakukan? Kita seharusnya melarikan diri bersama sama."
" Aku akan melihatnya dan memastikan dia baik baik saja. Tenang saja, prajurit prajurit lemah itu bukanlah tandinganku. Kau tidak perlu khawatir."
"Perempuan itu menyuruhku untuk membawamu melarikan diri. Aku tidak akan membiarkanmu pergi kesana lagi. Bukankah kamu sebelumnya telah dikalahkan oleh Jendral itu, jangan merasa sombong dengan kemampuan bela dirimu yang hebat."
Anak kecil itu menghela nafas. " Huhh. Ini bukan saatnya untuk kita bertengkar. Aku hanya ingin memastikan keadaannya. Aku tidak akan membiarkan perempuan lemah itu berlagak sok keren sendirian. "
" Kau begitu ceroboh, memangnya apa yang hendak kau lakukan jika perempuan itu di tangkap? Apa kau juga akan menyerahkan dirimu kepada mereka? Apakah kau hendak membuat pengorbanan dia sia sia? Tolong mengertilah. Dia sudah mempercayakan dirimu kepadaku supaya segera membawamu pergi dari sini. Jika kau kembali lagi kesana kau hanya akan membuatnya kecewa. Kenapa kau sama sekali tidak ingin mengerti keadaanku" Ucap teman anak kecil itu dengan wajah yang mulai meneteskan air mata.
__ADS_1
" Aku ingin bertanya kepadamu. Apa kau percaya kepada kemampuannya?"
Teman anak kecil itu terlihat terdiam sejenak untuk berpikir sebelum menjawabnya. " Iya, aku percaya dia bisa melarikan diri. Jadi kita percayakan saja kepadanya. Dia pasti bisa lolos dan kita akan bertemu di tempat yang biasanya kita berkumpul"
" Makanya itu, kau tidak perlu takut dia akan tertangkap. Aku hanya ingin memastikan dia baik baik saja. Aku akan segera kembali kesana dan kita bertiga akan berkumpul kembali."
" Berjanjilah, jika kau akan segera kembali." Teman anak kecil itu menyodorkan jari kelingkingnya sebagai simbol sebuah perjanjian.
Sedangkan anak kecil itu terlihat sedikit ragu dengan janji itu, karena dia sendiri tidak bisa menjamin dia pasti bisa kembali kesana tetapi karena bagaimanapun juga dia harus mau berjanji untuk membuat teman anak kecil itu mau melarikan diri terlebih dahulu dan membiarkannya pergi.
" Baiklah, aku berjanji. Aku akan kembali ke tempat itu, dan kita bertiga akan berkumpul kembali di sana." Anak kecil itu menyodorkan jari kelingkignya juga. Dan mereka pun membuat simbol perjanjian.
"Baiklah, aku akan segera pergi kesana. Dan pastikan kau menunggu kami bertiga di tempat itu."
" Tentu saja aku tidak akan mengingkarinya. Berhati hatilah ketika berjalan dihutan, jika ada serigala hindarilah dengan memanjat ke atas pohon.."
" KKenapa malah kau yang khawatir, memangnya sudah berapa lama kita hidup di hutan. Aku bisa mengurus semua itu. Yang benar seharusnya kamu mengkhawatirkan dirimu sendiri"
Teman anak kecil itupun berjalan menjauh dan semkain memasuki hutan menuju tempat yang telah disepakati.
Sementara itu Anak kecil itu terdiam sejenak melihat ke atas ke arah daun dari pohon pohon di seklilingnya yang sedikit terlihat karena pancaran bulan yang berada di atas. " Semoga saja, aku bisa menepati janjiku." Anak kecil itupun berjalan kembali ke kerajaan yang sebelumnya hendak menahannya.
Kembali ke saat di dapur dimana anak kecil itu sedang kebingungan karen rencana yang telah dia siapkan supaya bisa melarikan diri telah gagal, di tambah lagi Jendral itu menambah persyaratan yang harus dia lakukan dengan menyamar sebagai perempuan ketika melakukan tugas menjaga Dika seorang putra raja " Setidaknya aku benar benar beruntung karen Jendral ini masih mau memberiku kesempatan seelah perbuatan yang aku lakukan." Batin anak kecil itu.
__ADS_1
" Baiklah, aku hanya perlu menyamar menjadi perempuan da menjaga orang itu. Jika aku sudah menyetujuinya, sekarang sebaiknya kau segera melepaskan dia."
" Kenapa sih? Jangan terburu buru lah. Aku akan melepaskannya jika kau sudah berangkat. Aku benar benar tidak bisa melonggarkan kewaspadaanku setelah apa yang telah kau lakukan sebelumnya. Apa kau mengerti? Jadi jangan pernah mengeluh."
" Iya aku mengerti. Lalu bagaimana perihal tendangan itu?"
" Tendangan apa?" Jendral itu memasang raut wajah heran.
" Bukannya tadi ketika aku menjambak rambutmu itu, kau berkata seperti ini "Hadeh, dasar bocah, susah sekali memahami kata kata orang dewasa apa dia tidak malu bertarung dengan menjambak rambut lawannya, hadeh. baiklah, jika kamu mau melepas jambakanmu ini, sebagai gantinya aku akan menerima pukulan terkuatmu." ucap sang jendral
" sialan, apa apaan cuma pukulan. bagaimana dengan tendangan? apa kau berani?" tanya anak kecil itu
" hmm cuma tendangan? mau tendangan, pukulan, cakaran akan sama saja hasilnya tubuhku tetap bisa menyembuhkan diri. baiklah, kita sepakat " balas sang jendral " Kurang lebih seperti itulah kejadiannya, jadi aku menagih kata katamu yang mau membiarkanku menendangmu untuk memastikan kekuatan daya tahan tubuhmu yang kau sombongkan itu."
" Oh, aku tadi sempat berkata seperti itu ya?"
" Iya, jadi sekarang aku akan menendangmu." Anak kecil itu mengambil posisi ancang ancang dengan memutar tubuhnya sehingga menghadap kesamping dengan kaki kanan yang di dorong kebelakang.
" Baiklah, aku mengerti. Lagipula tidak peduli kau mau menendangku atau tidak menendangku tidak berakibat apa apa kepadaku." Jendral itu pun berdiri tegap dan mempersiapkan dirinya untuk menerima tendangan bocah itu.
Anak kecil itupun segera mengayunkan kaki kanannya yang sebelumnya sudah dia gunakan untuk mengambil ancang ancang. Dalam keadaan posisi tubuhnya yang miring, kaki itu langsung menghantam lengan Jendral itu. Jendral itu terdorong sedikit ke samping karena tendangan anak kecil itu. Anak kecil itu segera menurunkan kembali kaki kanannya yang sebelumnya menghantam lengan jendral itu.
Anak kecil itu sedikit menunjukan ekspresi tersenyum yang tersungging di bibirnya karena dia bisa melampiaskan perasaan kesalnya dengan menggunakan alasan tendangan itu.
__ADS_1
Anak kecil itu melihat dengan seksama lengan jendral yang menjadi sasaran tendangnnya dengan seksama berusaha menemukan setidaknya ada tulang yang patah untuk membuat hatinya sedikit puas.