
Setya tidak takut dengan hukuman yang dia peroleh, hanya saja jika 2 orang yang dihukum bersama itu akan menghindari kemungkinan terburuk.
Lebih baik dihukum bersama daripada dihukum sendiri.
Setya terpaksa untuk tetap mengikuti gadis itu dan menunggunya sampai menyerah.
Setelah beberapa saat berjalan bersama, tiba tiba gadis itu berhenti secara mendadak.
Setya segera menghentikan langkah kakinya juga sambil tetap mempertahankan posisinya supaya tetap berada di belakang perempuan itu.
Setya melihatnya dengan heran dan bertanya tanya alasan kenapa tiba tiba dia berhenti, tetapi sebelum Setya sempat menanyakan rasa penasarannya perempuan itu sudah terlebih dahulu mengucapkan sesuatu.
"Apa kau tidak merasa aneh?"
"Apa maksudmu?"
Setya tidak dapat memahami keanehan yang dimaksudkan oleh perempuan itu. saat ini mereka sedang berhenti di persimpangan menuju ke 3 arah yang berbeda dimana kedua lorong berada d sebelah kanan dan kiri dan sebuah lorong beradaa di depan.
Perempuan itu berulang kali menoleh ke arah lorong kiri dan lorong kanan berulang kali membuat Setya merasa sedikit kesal.
"Kenapa kau membuang buang waktu dengan memperhatikan lorong lorong ini? Seharusnya kau memahaminya jika kita sudah terlambat cukup lama disini."
Perempuan itu tiadk menggubris kata kata Setya yang berapi api dia terus memperhatikan lorong di kanan dan kirinya.
"Aku sepertinya memiliki firasat jika kita pernah melewati lorong ini, hanya saja aku tidak mengerti lorongg ini cukup berbeda dengan lorong sebelumnya."
"Aku tidak membutuhkan alasanmu yang sengaja kau buat buat itu, sejak tadi yang membuat kita berputar putar karena kau tidak becus menunjukan jalan. Apa kau tidak mengerti?"
Setya merasa bahwa perempuan itu tiba tiba diam disini dan membuat alasan alasan yang aneh hanya untuk menutupi kebodohannya bahwa dia tidak becus dalam menjadi penunjuk arah.
Setya tidak membuang buang kesempatan dan langsung menyerang perempuan itu dengan kata kata yang pedas.
Perempuan itu lanjut melangkahkan kakinya dan memutuskan untuk melangkah ke arah lorong sebelah kanan.
Perempuan itu sudah berjalan sejauh 4 lanngkah dari persimpangan lorong itu sebelum akhirnya Setya yang sejak tadi mengikuti di belakangnya tiba tiba langsung memegang bahu kanan nya.
__ADS_1
Perempuan itu secara reflek memegang tangan Setya dan menariknya dengan keras, Setya yang tanpa persiapan apa apa tubuhnya dengan cepat sudah tidak berpijak pada lantai sekolah itu.
Tubuh Setya berputar dengan tangannya yang dipegang oleh perempuan itu menjadi tumpuan.
Tubuh Setya berputar seperti jarum jam dinding yang berputar. Ketika berada tepat di atas kepala perempuan itu, dengan poisisi kepala Setya berada di bawah dan kakinya di atas membentuk sebuah jarum lurus Setya secara reflek sudah mendapatkan solusi untuk mengurangi dampak kerusakan yang akan dia terima ketika tubuhnya terbanting ke lantai.
Dia berencana mengarahkan telapak kakinya ke arah lantai, sehingga ketika dia membentur lantai itu dengan keras telapak kakinya lah yang akan menjadi korban, setidaknya itulah yang lebih baik daripada sekujur tubuh bagian belakangnya yang akan mengalami kerusakan akibat benturan itu.
Tetapi, Setya tidak memperkirakan kecepatan tubuhnya jatuh ke lantai menjadi sangat cepat seakan akan tidak membiarkan Setya untuk menjalankan rencana yang sudah dia pikirkan.
Sebelum sempat menyadarinya tubuh Setya sudah berada di atas lantai beberapa sentimeter. Sebelum tubuhnya menghantam lantai, yang ada di pikiran Setya hanyalah pemikiran tentang perempuan yang membantingnya itu sengaja menambah kekuatannya untuk meningkatkan kecepatan tubuhnya menghantam ke lantai.
SFX ; Jeduggg........
Tubuh Setya menghantam lantai. Tidak sampai satu detik efek rasa sakit sudah menyerang setiap bagian tubuh belakangnya, terutama pada bagian pantatnya yang merupakan bagian tubuhnya yang pertama kali menghantam ke lantai.
Setya berteriak sebagai respon dari rasa sakit yang menyerang tubuhnya itu, "Seetaaaannn...!"
Perempuan itu melepaskan genggaman tangannya pada tangan Setya yang sedang dalam keadaan terlentang tidak berdaya selama beberapa saat.
Setya yang melihat perempuan itu berjalan meninggalkannya sendirian, Setya merasa panik terhadap situasi yang dia alami dan langsung memegang kaki perempuan itu sebelum perempuan itu sempat berjalan semakin jauh darinya.
" Sialan kau sampah, setelah membantingku tanpa alasan yang jelas kau pikir aku akan membiarkanmu membiarkan melarikan diri."
Langkah perempuan itu terhenti karena pegangan tangan Setya yang mencengkram kakinya dengan kuat.
"Jika kau terus memegang kakiku, aku tidak bisa menjamin keselamatan mu. Atau mungkin kamu ingin merasakan penderitaan yang lebih menyakitkan daripada yang sebelumnya?"
Setya menelan ludah perlahan dan memperlihatkan sikap tidak takut terhadap gertakan perempuan itu, meskipun sebenarnya pada saat ini jantungnya tengah melakukan pekerjaan secara maksimal karena rasa takut yang menyerang tubuhnya.
Setetlah yakin dia bisa menenangkan dirinya Setya mulai membalas ucapan perempuan itu, Setya merasa jika dia terlihat ketakutan ketika berurusan dengan perempuan itu sama saja dengan menginjak nginjak harga dirinya sebagai seorang laki laki. Itulah kenapa dia berusaha dengan susah payah untuk tidak menunjukan reaksi yang bisa membuat erempuan itu curiga jika dia sebenarnya sangat ketakutan.
Di dalam sebuah yang tertutup seperti sebuah kelas dengan banyak sekali monitor berjajar rapi saling tumpang tindih dua orang laki laki berbincang bincang ke dalam ruangan itu.
"Hey, apa kau yakin dengan hal ini? Maksud ku kau benar benar menggunakan sihir kepada dua siswa yang terlambat itu, bukannya itu terlalu berlebihan."
__ADS_1
Salah seorang laki laki yang duduk bersebelahan dengannya bertanya dengan raut wajah yang sedikit khawatir. Sedangkan teman yang satunya lagi tetap fokus memperhatikan salah satu monitor yang menampilkan kondisi dua orang siswa yang sedang kebingungan mencari tempat diadakannya upacara penerimaan siswa baru.
"Tidak tidak, ini sudah tugas kita untuk mengatasi masalah perihal siswa yang terlambat jadi sebaiknya kau tidak perlu khawatir atau mempermasalahkan hal seperti itu. Mereka sudah jelas melanggar aturan dengan datang terlambat dan menerobos gerbang sekolah. Sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap keamanan sekolah ini sudah seharusnya kita yang bertanggung jawab mengurusi hal hal seperti ini"
"Kau benar benar membuatku khawatir, setidaknya aku berharap kamu tidak berbuat menyimpang terlalu jauh."
Laki laki itu mulai bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah pintu keluar ruangan itu.
"Hey, mau kemana kau? Jika bisa aku berharap kau membawakan beberapa air minum dan makanan ringan, benar benar membosankan disini mengawasi dua bocah itu."
Laki laki itu sudah membuka pintu dan berhenti sejenak untuk menjawab pertanyaan laki laki yang sedang memperhatikan layar monitor itu
"Yah, bukankah kau sendiri yang secara sukarela melakukan pekerjaan itu, aku ingin segera kembali ke gedung upacara, tugas kita seharusnya menjaga gedung itu bukan?"
"Yang kau katakan itu memang benar, hanya saja aku tidak peduli tentnag tugas membosankan bediri di depan gedung itu. Yang lebih penting lagi aku berharap kamu tidak ikut campur terhadap masalah 2 bocah itu, biar aku saja yang mengurusnya sendirian."
"Bagaimana jika aku ingin ikut campur?"
Laki laki yang berdiri di depan pintu itu menjawab dengan nada tajam, seakan akan ingin menciptakan situasi permusuhan.
Sedabgkan laki laki yang berada di depan layar monitor juga secara perlahan raut wajahnya berubah menjadi lebih tajam.
"Jika kau ikut campur sepertinya aku akan membuat sedikit perhitungan kepadamu. Aku harap kau bisa membuat keputusan yang bijak dan menguntungkan... Untuk hidupmu"
"Hah hah hah... Seperti biasa, kau benar benar serius terhadap hal yang sepele. Baikah aku akan segera pergi"
Laki laki itu berjalan melewati pintu yang sebelumnya telah dia buka dan segera menutup pintu itu kembali.
Laki laki itu akhirnya berada di ruangan itu sendirian dengan tumpukan monitor disana, dia terus menerus memandangi layar monitor disana dengan penuh fokus.
Laki laki itu merogoh aku celananya dan mengeluarkan sebuah plastik kecil dengan yang berisi benda yang lumayan kecil seukuran ranting kayu.
"Baiklah, ini saatnya memberi pelajaran kepada siswa bakal yang terlambat datang kesekolah."
Dia mengucapkan kata kata itu dengan tatapan dingin tanpa ekspresi di dalamnya.
__ADS_1