
Hampir setengah hari Zela mendapatkan tatapan sinis dari beberapa karyawan, tetapi Zela tetap berusaha untuk tetap acuh. Baginya, celoteh netizen itu adalah binatang yang menggonggong.
Dering ponsel Zela berdering. Sebuah nomor yang sudah Zela hapus mengambang di layar ponselnya. Sejenak Zela mengabaikan, tetapi ponsel itu terus saja berdering. Dengan penuh keterpaksaan, Zela mengangkatnya.
Terdengar suara pria sedang memohon kepada kepada dirinya. Pria yang telah berhasil menghancurkan hatinya, tanpa angin dan hujan tiba-tiba menghubungi dirinya. Zela tersenyum kecut. "Maaf, aku tidak ada waktu untuk bertemu denganmu."
"Please, Zel. Beri aku satu kesempatan. Jika kau tak ingin menemuiku malam nanti, detik ini juga aku akan datang ke perusahaan dimana kau bekerja," ancam Jack dari balik telepon.
"Kau!" geram Zela. "Oke, tapi ini adalah kali terakhirnya. Setelah itu jangan pernah kau mengganggu hidupku lagi!"
Zela pun akhirnya memutuskan sambungan telepon sambil membuang kasar napas. Entah alasan apa yang akan Zela berikan kepada Gilbert untuk menemui Jack. Jika Zela berkata jujur, sudah pasti Zela tidak akan pernah diberikan kesempatan untuk menemui Jack.
"Rena," gumam Zela. Satu-satunya cara adalah meminta bantuan sang sahabat. Tidak mungkin jika Gilbert tidak memberinya izin. Zela pun segera menghubungi Rena dan menceritakan semua pada sang sahabat. Bukankah malah mendukung, Rena malah menentang keras jika Zela ingin menemui Jack. Rena takut jika ini hanyalah sebuah jebakan dari Jack saja.
"Please, Ren." Zela memohon penuh iba. "Ini adalah yang terakhir kalinya," sambung Zela lagi.
Rena yang berada diseberang telepon terdiam untuk beberapa saat. "Oke, aku akan bantu. Tapi aku yang menentukan tempatnya. Aku takut jika Jack hanya ingin menjebak mu, Ze," pungkas Rena.
"Terserah kau saja. Yang penting pria menyebalkan itu mengizinkanku untuk keluar dari rumahnya."
Setelah sebuah kesepakatan tercapai, Zela segera menutup panggilan teleponnya dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
****
Gilbert merasa heran saat Zela telah merias wajah dengan cantik. Tak dapat dipungkiri jika Zela memangnya wanita cantik. Bahkan tanpa polesan make up, Zela sudah cantik natural.
"Kau mau kemana?"
Zela mendong, melihat Gilbert yang sedang menatapnya. "Aku ingin pergi ke sebuah acara bersama dengan Rena," jawab Zela.
__ADS_1
"Memangnya siapa yang mengizinkan mu untuk pergi? Aku tak memberi izin. Mengerti kau?"
"Aku hanya ingin bertemu dengan Rena, apakah salah. Dia sahabatku," bantah Zela.
"Tapi aku calon suamimu! Aku berhak melarang mu jika aku mau!"
"Tidak usah terlalu berlebihan. Pernikahan kita hanya sebatas kontrak dan kau juga tidak berhak untuk melarang ku untuk bergaul dengan siapapun. Sudahlah aku pergi dulu, Rena juga sudah menunggu di bawah." Zela segera menyambar tas slempangnya tanpa memperdulikan Gilbert yang ada di sampingnya.
"Kau tidak boleh pergi jika kau tidak mengatakan, kau ingin pergi kemana!" Gilbert segera mencegah langkah Zela.
Dua mata saling bersitatap. Seolah ada lautan api yang hendak menyambar permukaan. "Aku hanya ingin makan malam dengan Rena. Tolong minggir!" Zela mendorong tubuh Gilbert agar menjauh darinya.
Mungkin semua ini terlalu berlebihan, tetapi dalam relung hatinya, Gilbert sangat khawatir kepada Zela. Apalagi jika terus bergaul bersama dengan Rena, wanita simpanan.
Gilbert telah mengantongi informasi tentang Rena. Itu sebabnya Gilbert sangat melarang keras Zela untuk bertemu dengan wanita itu. Bisa saja jika Rena akan menjerumuskan Zela pada pekerjaan.
Sepanjang perjalanan Gilbert merasa gundah. Matanya terus tertuju pada ponselnya, dimana dia melihat kearah mana Zela pergi.
Tanpa sepengetahuan dari Zela, Gilbert diam-diam telah memasang alat pelacak di ponsel Zela. Tujuannya adalah untuk mengetahui kemana Zela pergi. Namun, mata Gilbert membulat lebar saat melihat kemana Zela pergi.
Sebuah tempat yang sudah jarang Gilbert kunjungi dan itu adalah tempat hiburan malam. Gilbert semakin yakin jika Rena telah meracuni pikiran Zela. Terbukti saja Zela mengunjungi tempat perkumpulan wanita malam.
"Sial! Untuk apa wanita itu pergi kesana!" umpat Gilbert kesal. Untuk mempercepat waktu, Gilbert melaju dengan kecepatan tinggi. Gilbert merasa sangat murka karena Zela telah membohongi dirinya. "Berani sekali wanita itu membohongiku! Lihat aja aku akan memberikan pelajaran kepadanya!"
Mobil yang di kendarai oleh Rena sudah tiba di depan sebuah club malam. Zela yang tersadar hanya menganga dengan penuh keterkejutan. Tempat yang sama sekali belum pernah dia kunjungi karena Zela yakin itu bukanlah tempat yang pantas untuk di kunjungi.
"Kau serius, Ren? Kita mau ngapain kesini?"
"Bukankah kau ingin bertemu dengan Jack. Tenang saja disini kau akan aman karena tempat ini adalah tempat ku bekerja dan aku mengenal semua orang yang disini. Jadi, jika Jack macan-macam kau akan segera mendapatkan bantuan," jelas Rena.
__ADS_1
"Tapi, Ren." Zela menjeda ucapan. "Ini neraka!" serunya lagi.
Rena menertawakan Zela yang terlalu polos. Meskipun mereka sudah lama bersahabatan, tetapi Zela adalah wanita yang lugu dan patuh kepada orang tuanya. Bahkan saking patuhnya, Zela tak ada celah untuk keluar malam.
"Kau jangan terlalu polos, Ze! Usiamu sudah 21 + dan kau pasti sudah bisa menjaga diri dengan baik. Sudahlah, ayo masuk!" Rena menarik tangan Zela yang terlihat sangat gugup untuk masuk ke dalam.
Baru saja masuk satu langkah, dentuman musik seakan memekakkan telinganya. Jantung ikut berdebar saat mendengar suara musik yang sangat keras.
"Ren, balik yuk! Aku gak kuat dengan suara musik ini! Bukankah kau tahu jantungku tidak akan kuat dengan dentuman musik keras!" teriak Zela di telinga Rena.
"Tenang saja! Aku sudah memesan tempat diatas. Tenanglah, semua akan aman. Ayo!" Rena kembali menarik tangan Zela untuk menuju lantai dua.
Zela hanya bisa menggelengkan kepala saat melihat nyata para wanita penghibur untuk mendapatkan mangsanya.
Tepat di depan sebuah ruangan, Rena segera membuka pintunya. Di dalam ternyata sudah ada Jack yang sedang menunggu kedatangan Zela.
"Akhirnya kau datang juga. Aku sangat merindukanmu, Ze." Jack menghampiri Zela hendak memeluk wanita yang pernah menjadi kekasihnya itu. Namun, tangan Rena segera menghadang. "Singkirkan tangan kotormu!" serunya.
"Kau?" Jack merasa geram dengan Rena yang selalu ikut campur dalam hubungannya dengan Zela.
"Aku tidak punya banyak waktu, jadi katakan apa yang ingin kau katakan!" ucap Zela.
Jack tertawa kecut. Baru saja dua bulan tanpa kabar, kini sikap Zela sudah dingin kepada dirinya. "Kau sudah berubah," ujarnya. "Sebaiknya kita duduk dulu dan .... " Mata Jack melirik kearah Rena. "Kau suruh wanita itu keluar," sambungnya lagi.
"Tidak! Aku tidak ingin keluar!" bentak Rena tak terima.
"Aku ingin berbicara serius dengan Zela. Bisakah kau memberiku ruang?"
Zela membuang kasar napas beratnya. Sebenarnya Zela sangat muak saat melihat wajah Jack setelah mencampakkan dia begitu saja. "Rena tidak akan pernah keluar! Jika kau keberatan, silahkan kau yang keluar!"
__ADS_1