
Semua mata saling memandang karena rasa takjub saat melihat sepasang pengantin berjalan menuju tempat yang telah disediakan. Jika biasanya akan ada seseorang yang mengantarkan mempelai wanita untuk diserahkan kepada mempelai pria, maka kali ini sang pengantin pria sendiri yang menjemput pengantinnya. Berbeda jauh dari pandangan orang-orang kepada Zela, wanita itu tidak bisa untuk mengangkat garis bibirnya. Hatinya sesak karena tepat dihari ini, dia dan Gilbert akan mengucapkan janji pernikahan yang sakral. Tak ada sanak famili yang turut menghadiri acara pernikahannya. Bahkan satu-satunya keluarga yang tersisa masih berada di luar Negeri untuk menjalani pengobatan.
Berulang kali Zela membuang napas beratnya. Meskipun Hanya sebuah pernikahan sesaat Zela merasa sangat gugup.
"Apakah kau tidak sedikitpun untuk tersenyum? Tunjukkan pada tamu yang hadir jika kau adalah ratu yang paling cantik dan anggun," bisik Gilbert pelan.
"Aku tak butuh pengakuan dari orang lain," balasnya pelan.
Setelah sampai di depan, suara tepuk tangan menyambut keduanya hingga sang pendeta memulai acara sakral untuk sepasang insan untuk mengikat janji suci.
Air mata Zela tak terbendung lagi saat dia mengucapkan sumpah pernikahannya dengan Gilbert, pria yang menjadi ayah dari janin yang sedang ada di rahimnya.
"Ya Tuhan ... bisakah aku meminta sedikit serahkan? Bisakah aku meminta jika ini adalah pernikahan pertama dan terakhir untuk ku, meskipun ini terlalu mustahil untuk Gilbert. Aku hanya ingin kelak anakku tak berpisah dari kedua orang tuanya. Cukup hanya aku saja yang merasakan sakitnya tidak memiliki ayah. Meskipun dengan kenyataan yang berbeda."
Zela membuka matanya setelah memanjatkan sebuah doa untuk sang penciptanya.
__ADS_1
Acara pernikahannya yang sederhana akhirnya berjalan dengan lancar. Setelah bertukar cincin dan Gilbert yang mencium kening Zela, keduanya pun segera menyalami para tamu hadirin yang ada.
Selain acara pernikahan, ternyata Gilbert juga meresmikan sebuah hotel yang mereka tempati untuk menyaksikan sumpah pernikahan. Dan yang lebih menghebohkan adalah hotel itu Gilbert resmikan sebagai hadiah pernikahan dengan Zela.
Semua mata terbelalak dengan keterkejutan luar biasa. Sungguh beruntung Zela memilih suami seperti Gilbert yang mampu memberikan sebuah hotel untuk hadiah pernikahannya.
Zela yang mendengar merasa sangat terkejut nyaris pingsan saat hendak pemotongan sebuah pita sebagai tanda pengesahan.
"Waoo amazing, luar biasa. Selamat Nona Zela atas pernikahan anda," ucap salah satu rekan bisnis Gilbert.
"Sungguh aku tak pernah menyangka jika kau akan memilih menikah dari pada berkelana bersama dengan para wanita malam," bisik rekan itu pelan.
"Aku hanya ingin mengingatkan saja, jika setelah ini pasti hidupmu pasti akan diatur oleh istrimu. Secara, wanita itu akan selalu di depan."
Gilbert tak menggubris ucapan rekannya. Dia pun segera menggandeng Zela untuk menyalami undangan yang hadir.
__ADS_1
***
Hampir setengah hari Gilbert dan Zela para tamunya, bukan berarti acara sudah usai. Malam ini adalah malam jamuan atas pernikahan Gilbert dan Zela. Gilbert sengaja mengundang para orang-orang terpenting untuk melakukan dinner yang megah disebuah kapal pesiar. Semua ini adalah rencana sang Oma yang disetujui oleh Gilbert. Tidak ada salahnya membuang sedikit hartanya untuk melakukan pesta pernikahan sekali seumur hidup.
Entah bisikan malaikat dari mana, setelah mengucapkan sumpah pernikahan Gilbert merasa sangat tersentuh dan tidak ingin membuat kesalahan. Sumpah janji yang dia ucapkan membuat hatinya tersentuh. Sumpah yang akan tetap mencintai Zela dalam keadaan suka maupun duka, senang maupun susah dan sehat maupun sakit. Pikiran Gilbert tiba-tiba terbuka saat dia mengingat ada sebuah nyawa yang sedang tumbuh di dalam perut Zela. Nyawa yang akan menjadi penerusnya kelak, lalu apakah Gilbert masih sanggup untuk menyia-nyiakan Zela. Persetan dengan kontrak yang telah mereka tanda tangani.
"Kau sangat cantik," puji Gilbert dengan kesungguhan. Lidahnya tidak bisa berbohong saat melihat wajah Zela yang terpoles makeup.
"Aku sudah cantik sejak lahir, jadi kau tak perlu memujiku. Em ... apakah kau sedang merayuku?" tanya Zela dengan alis yang menaut.
Gilbert tertawa pelan. "Untuk apa ku merayu mu? Bukankah aku sudah mendapatkan malam pertama ku dan saat ini sedang berkembang disini." Gilbert menarik tubuh Zela hingga masuk kedalam pelukan pria yang sudah berstatus sebagai suaminya itu. Tangan Gilbert pun mengelus pelan perut Zela yang masih rata. Degup jantungnyapun menari-nari dengan kencang.
Aroma tubuh Zela yang selalu menggairahkan membuat Gilbert terus menge.cupi bahunya dan berkata. "Sepertinya aku tidak ingin menghadirkan jamuan dinner malam ini dan ingin membawamu ke luar angkasa agar kau mengerti apa itu Mars dan Jupiter," bisik Gilbert sambil menggigit daun telinga Zela.
Jantung Zela kian berdebar. Zela bukanlah wanita bodoh yang tidak bisa mengartikan ucapan Gilbert. Mata Zela terus memejamkan saat lidah Gilbert telah memainkan daun telinganya menggunakan lidahnya.
__ADS_1
"Ehhmm." Suara deheman membuat Zela membuka matanya lebar dan langsung menunduk malu. "Dasar kalian berdua masih enak-enakan disini sementara tamu undangan sudah hampir lumutan untuk menunggu kalian berdua. Cepat naik keatas, masalah itu nanti kalain bisa lanjut kembali!" kata Oma yang hanya bisa mendengus pelan.
"Baiklah nanti kita sambung lagi. Sekarang kita naik keatas." Gilbert mengulurkan tangannya untuk menyambut kesediaan Zela.