
Gilbert masih terpaku saat mengingat ucapan Zela satu jam yang lalu. Kini pikiran gundah. Seharusnya dia merasa bahagia dengan sebuah pengakuan dari Zela. Namun, nyatanya Gilbert belum yakin dengan hatinya sendiri. Melihat ada sebuah ketulusan, Gilbert nyali Gilbert menciut. Gilbert merasa sangat tidak pantas untuk menerima ketulusan dari Zela.
Pagi tadi ...
"Gil, bisakah kau berjanji sesuatu kepadaku?" tanya Zela serius.
"Katakanlah!"
Perlahan tangan Zela meraih tangan Gilbert lalu menggenggamnya dengan erat. Matanya menatap lekat pada Gilbert, menandakan sebuah keseriusannya.
"Gil, bisakah kau tinggalkan sisi gelapmu dan jadikan aku sebagai penawar atas rasa candumu? Aku rela dan aku juga sudah siap untuk menjadi penawar hasratmu. Tapi tolong, jangan lagi kau menemui wanita malam! Disini ada aku, istrimu. Masa bodoh dengan kontrak perjanjian kita. Aku tidak tahu dengan perasaanku, tapi yang aku tahu aku tidak ingin kehilanganmu. Apalagi saat ini ada nyawa yang sedang hidup di rahimku, dan itu adalah darah dagingmu. Semoga kau tak melupakan itu!"
Saat ini Zela telah menyerah dengan perasaan. Dia tidak sanggup lagi untuk terus berpura-pura untuk tidak menyukai Gilbert, sedangkan hatinya menginginkannya.
"Maaf Ze, aku tidak bisa." Dengan cepat Gilbert memberikan jawaban kepada Zela.
Wanita yang saat ini bergelar sebagai istrinya dan ibu dari calon buah hatinya seketika melepaskan genggaman tangan. Hatinya sangat sakit mendengar ucapan Gilbert.
"Iya aku tahu. Maaf jika aku sudah lancang mengharapkan cintamu," pungkas Zela.
__ADS_1
***
Gilbert mengacak kasar rambutnya saat dia memberikan jawaban spontan kepada Zela. ingin sekali dia menarik lagi kata-katanya. Akan tetapi sudah terlambat. Zela saat ini sudah pulang ke rumah utama untuk menepati janjinya permintaan Oma.
Didalam kamar yang luas, Gilbert tidak bisa memejamkan matanya. Bayangan Zela terus menghantuinya. Hanya ada rasa sesal di hatinya.
"Sial! Mengapa bayangan Zela terus hadir. Jika seperti ini, jangan salahkan aku jika harus memaksa Zela untuk pulang."
Tak berapa lama, Gilbert mendengar ketukan pintu. Seorang pelayan memanggilnya.
"Tuan, dibawah ada yang sedang mencarimu?" ucap salah seorang pelayan kepada Gilbert.
Saat melihat jarum jam, Gilbert Hanya bisa pasrah saja dan segera turun ke lantai bawah untuk menemui siapa yang sudah berani mengganggu saat waktu istirahatnya.
Gilbert masih penasaran dengan sosok wanita yang sedang berdiri membelakanginya. Dalam hati Gilbert bertanya-tanya dengan wanita yang mempunyai nyali untuk menemuinya.
Mendengar derap langkah dari belakang, wanita itu segera menoleh. Wajah yang memang sangat di rindukan setelah sekian lama. "Gil," panggilnya.
Gilbert membuang kasar napasnya beratnya. Wanita yang tak mempunyai rasa malu meskipun sudah diberikan peringatan untuk tak menunjukkan diri didepan wajahnya. Namun nyatanya wanita itu tak mengindahkan peringatan Gilbert.
__ADS_1
"Mau apa kau?" Gilbert bertanya dengan sangat dingin.
Monica melangkah ke depan, sementara itu Gilbert memundurkan langkahnya membuat Monica tersenyum getir.
"Kau sudah berubah, Gil!" katanya.
"Katakan apa keperluan mu! Jika tidak ada pulanglah, aku ingin istirahat!"
Lagi-lagi Monica menyeringai sambil mengedarkan pandangannya ke bangunan megah yang sudah berubah total.
"Aku tahu kau masih marah padaku. Aku juga tahu jika kau belum bisa melupakanku. Aku memakluminya, Gil. Tapi tolong jangan kau bohongi hatimu! Aku tahu kau belum menikah."
"Pelayan! Usir wanita ini, jangan pernah beri dia masuk ke rumah ini jika!"
Monica ternganga lebar saat Gilbert mengusirnya dengan tidak sopan. Dengan kepalan tangan Monica berkata, "Kau tak perlu mengusirku, aku akan pergi. Tapi beri aku kesempatan untuk berbicara sebentar denganmu, Gil. Kumohon."
Gilbert sama sekali tidak peduli, dia berlalu begitu saja tanpa ingin melihat wajah Monica lagi. Sementara itu, Monica hanya bisa menatap punggung Gilbert, pria yang hampir saja menjadi suami saat itu. Monica hanya bisa tersenyum tipis, tanpa kata sebelum dia pergi meninggalkan rumah Gilbert.
"Aku pastikan kau akan kembali lagi ke dalam pelukanku, Gil!"
__ADS_1
Mood Gilbert hancur seketika. Pikiran yang sudah kacau harus bertambah lagi dengan kedatangan Monica. Sekilas, bayang Zela memenuhi kepalanya. Tanpa pikir panjang, Gilbert langsung menyambar jaket dan kunci mobilnya. Dia harus segera menemui Zela di rumah utama.