
Oma sudah berdiri tepat di depan pintu kamar. kedua insan itu tidak bisa menyangkal malunya lagi, terutama Zela. Wanita itu sudah sangat ketakutan saat melihat Oma belum mengucapkan sepatah kata. Gilbert yang bisanya banyak suara, kini mendadak diam seribu bahasa.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Oma dengan tenang.
Keduanya insan yang masih dalam berbalut selimut tebal saling melempar pandangan sebelum menjawab pertanyaan Oma.
"Padahal hari pernikahan tinggal tiga hari lagi dan kalian sudah tidak sabar. Sama, Oma juga sudah tidak sabar akan mendapatkan cicit," tawa Oma dengan renyah. "Sudahlah kalian lanjutkan lagi apa yang ingin kalian lakukan! Oma beri waktu kalian waktu satu jam, karena setelah ini kita akan fitting baju kalian." Oma kemudian berlalu meninggalkan dua insan yang masih saling memandang. "Jadi semua ini rencana Oma," kesal Gilbert sambil mengacak rambutnya. "Kau juga! Kenapa tak berhati-hati! Harusnya kau tidak minum obat perangsang!"
Zela memukul wajah Gilbert menggunakan guling. "Kau memang penjilat! Bukankah malam tadi kau sangat menikmati hingga berkali-kali? Dasar!" cibir Zela.
"Kalau begitu mari kita ulangi lagi. Oma juga sudah memberikan waktu untuk kita." Gilbert tersenyum smirk sebelum menindih tubuh Zela. "Mimpi!" timpal Zela.
Bukan Gilbert jika keinginan tidak bisa di dapatkan. Meskipun awalnya mendapatkan penolakan, tetapi lama Zela menikmati setiap sentakan yang Gilbert berikan. Dengan penuh kelembutan, Gilbert mampu membawa Zela terbang melayang hingga pada akhirnya erangan napas panjang keluar dari bibir Gilbert. Setelah mendapatkan kepuasan, Gilbert membawa Zela ke kamar mandi untuk sama-sama membersihkan diri.
__ADS_1
****
Berbeda dengan hari sebelumnya, pagi ini Zela merasa mual saat melihat semua hidangan yang telah tersaji diatas meja. Karena tidak sanggup, Zela memilih untuk berlari ke kamar mandi. Oma yang melihat merasa heran kepada Zela. "Kenapa dia?" tanya pada Gilbert.
Yang ditanyakan hanya menyendikkan bahunya. "Mana Gil tahu. Mungkin karena masuk angin. Kemarin juga seperti itu," jelas Gilbert datar.
Mata Oma melebar. "Apakah kau sudah pernah melakukan malam pertama dengan dia?"
Gilbert hanya bisa menelan kasar salivanya. Mengapa sang Oma tiba-tiba menanyakan hal seperti itu. "Diam mu, aku anggap sebagai jawaban iya. Kapan kau melakukannya?" interogasi Oma lagi.
"Sebulan yang lalu, Oma. Tapi malam itu Gil dalam keadaan tidak sadarkan diri, Oma. Tidak seperti malam tadi."
"Diam kau! Bukankah sudah ku katakan sedari awal, jangan kau sentuh wanita itu! Mengapa kau tak mendengarkanku, Gil! Dasar kau cucu kurang ajar!"
__ADS_1
Gilbert tidak tahu mengapa Omanya begitu sangat marah dan malah pergi meninggalkan meja makan. Gilbert hanya bisa memandangi punggung sang Oma yang hendak menyusul Zela. "Dasar wanita memang tak bisa di mengerti!" gerutu Gilbert.
Oma yang meyakini jika saat ini Zela sedang hamil telah menghubungi dokter Frans untuk memeriksa Zela. Saat ini Zela tak berdaya setelah mengeluarkan cairan dari perutnya. Bahkan semua makanan yang dia makan kembali lagi keluar. Oma benar-benar sangat khawatir dengan keadaan Zela.
"Apakah ini adalah efek obat yang Oma berikan?" tanya Gilbert saat melihat Zela terus saja mual dan muntah.
"Dasar kau pria bodoh! Percuma saja kau menjelajahi wanita malam jika hal seperti ini saja kau tidak tahu. Semua ini gara-gara bisa ular pyton mu yang telah menyebabkan Zela seperti ini," kesal Oma karena Gilbert tidak memahami jika saat ini Zela sedang mengandung benihnya.
"Maksud Oma gara-gara ini?" Gilbert menujukan tangannya kearah bawah. "Dasar kau pria bodoh!" cibir Oma kesal.
Tak berselang lama, dokter Frans datang dan segera memeriksakan keadaan Zela. Matanya menatap Oma senyum smirk. "Benar dugaan anda Nyonya Roberto. Saat ini Nona Zela tengah hamil. Untuk memastikan lebih lanjut, silahkan langsung saja periksa ke rumah sakit," kata dokter Frans.
Zela yang mendengar jika saat ini dirinya tengah hamil langsung membulat matanya dengan sempurna. Begitu juga dengan Gilbert yang berdiri di belakang dokter Frans, merasa jantungnya ingin lepas. "Hamil," gumam Gilbert.
__ADS_1