Ranjang Big Bos

Ranjang Big Bos
RBB 40 | Mangga Muda


__ADS_3

Jack masih belum terima jika Zela sudah menjadi milik orang lain, terlebih suami Zela bukanlah orang sembarangan. Dia adalah Gilbert Ray Sanders, pemilik perusahaan yang sangat besar di kotanya. bahkan sampai saat ini perusahaan yang dipegang oleh Gilbert masih menduduki peringkat teratas.


Jack tidak habis pikir bagaimana Zela bisa bertemu dengan pria seperti Gilbert. Sudah Tak asing lagi di telinga para pria pecinta club malam, nama Gilbert begitu fenomenal. Bahkan hampir semua wanita malam rata-rata bekas dari Gilbert. Gilbert hanya akan memakai wanita malam itu sekali saja dan hanya dia yang akan membuka segel wanita malam itu.


"Kau tak ingin ku sentuh, nyatanya pria yang menyentuh itu adalah bekas dari sekian banyak wanita malam. Malang sekali nasibmu, Zela." Jack menatap punggung kedua wanita tidak usah itu. Bibirnya terangkat tipis, meskipun saat ini Zela telah menikah tetapi Jack masih berharap bisa mendapatkan separuh hatinya lagi.


Jack baru menyadari kesalahannya, dia benar-benar khilaf, hingga tak sabar untuk menunggu Zela siap. Kini dia tahu, hanya sila yang bisa mencintainya dengan tulus.


"Ze, aku tahu akan kesalahanku. Kau takkan pernah bisa untuk memaafkannya, tetapi aku akan berusaha untuk mendapatkan hatimu kembali. Itu janjiku sebelum aku kembali, Ze."


Sepanjang perjalanan pulang Zela hanya banyak diam membuat Oma bisa menyimpulkan jika pria yang baru saja bertemu dengan mereka bukanlah pria biasa. Oma tidak akan membiarkan Zela larut dalam pemikirannya sendiri karena saat ini Zela telah menikahi cucunya.


"Oma tahu, hatimu saat ini sedang gundah. Oman tidak tahu bagaimana perasaanmu saat ini kepada Gilbert, tapi perlu kau ingat saat ini kau adalah nyonya Sanders, itu artinya kau tidak boleh memikirkan pria yang lain selain suamimu, meskipun itu datang dari masa lalu. Oma percaya kau tidak akan pernah menghianati kepercayaan Oma."


Zela menatap, dengan perasaan bersalah. Seharusnya dia tidak larut dalam pemikirannya. Jack hanya bagian dari masa lalu yang telah menghancurkan impiannya.


"Maafkan Zela Oma, bila tidak akan pernah menghianati kepercayaan yang telah Oma berikan kepada Zela."


Oma hanya mengangguk pelan. Oma percaya jika Zela bisa memegang amanah yang telah dia berikan.


Sesampainya di rumah utama, kedua wanita itu merasa sangat terkejut melihat Gilbert yang sedang sibuk mengupas buah mangga muda. Melihat saja sudah membuat gigi ngilu. Apalagi Zela, dia hanya bisa menelan kasar salivanya.


"Sejak kapan seorang big bos mengupas buah sendiri? Mengapa tidak menyuruh para pelayan?" Oma berjalan mendekati Gilbert. Oma tahu jika saat ini Gilbert dalam masa nyidam yang biasa dialami oleh wanita yang sedang hamil muda. Moodnya suka berubah begitu juga keinginannya yang kadang memang terkesan aneh.

__ADS_1


"Tangan mereka tidak steril. Aku takut teman-teman itu akan masuk ke dalam perutku," kata Gilbert dengan datar.


"Terlambat! Sejak kau bayi tangan mereka yang sudah menyentuhmu. Jika ada kuman pun mungkin saat ini kuman-kuman itu juga telah berkembang di dalam tubuhmu," timpal Oma.


"Apakah itu tidak masam?" tanya Zela yang merasa ngilu saat melihat Gilbert menikmati mangga mudanya.


Gilbert menggelengkan kepala. "Tidak. Kau mau? Biar aku kupaskan untukmu. Apakah kau tahu bagaimana sulitnya untuk mendapatkan buah ini?"


"Tidak," kata Zela.


"Aku mencurinya di tetangga sebelah. Lihat kakiku nyaris patah karena terjatuh dari pohonnya. Beruntung saja tetangga itu sedang keluar kota dan aku bisa membungkam mulut asisten rumah tangganya," jelas Gilbert tanpa mempedulikan tatapan Oma yang sudah menatapnya dengan tajam.


"Apa kau bilang Gil? Kau mengambil mangga muda ini dari tetangga sebelah itu? sekarang pulangkan mangga-mangga ini dan keluarkan yang sudah kau makan!" bentak Oma dengan wajah memerah.


"Barang yang sudah diambil mana bisa dikembalikan, Oma," bantah Gilbert.


"Kau tahu tidak jika nyonya rumah itu adalah singa buas. Bisa saja hanya masalah kecil ini akan dibawa karena hukum. Mohon diletakkan di mana nama keluarga besar kita? Apa kata orang jika tiba-tiba muncul berita tentang seorang pengusaha kaya raya mencuri mangga muda dan hukum yang berlaku? Kau sudah membuatku sangat malu, Gil!"


Oma duduk masih menatap Gilbert yang sama sekali tidak peduli akan ucapan Oma-nya. "Kau sangat berlebihan Oma. jika benar itu terjadi, maka aku tidak akan tinggal diam. Aku akan membungkam mereka dengan sepatuku sendiri."


Oma hanya bisa membuang napas beratnya. berurusan dengan tetangga sebelah itu saja berurusan dengan hukum. Semua itu bisa dia lakukan karena dia adalah seorang istri dari salah satu aparat penegak hukum. Selama Oma bertetangga, sudah banyak orang yang harus berurusan dengan hukum meskipun itu hanyalah masalah sepele. Hukum saat ini bisa dibeli dengan jabatan, kekuasaan dan yang paling utama adalah uang. Jika ketiganya sudah bersatu, maka tidak suliy untuk menghukum seseorang yang dianggap bersalah.


"Sudahlah, Oma lelah ingin beristirahat." Oma berlalu dengan wajah lelahnya. Dia tidak tahu apa yang akan Gilbert hadapi nanti.

__ADS_1


"Sudahlah, kau perlu berpikir macam-macam. Aku tidak akan pernah berurusan dengan hukum hanya gara-gara mangga muda." kata Gilbert saat melihat sorot mata Zela yang ikut sayu.


"Seharusnya kau tak perlu melakukan seperti ini. Apa gunanya jika kau memiliki banyak uang, tetapi mangga muda saja kau sampai mencuri."


"Awalnya aku tidak ingin mencuri, akan tetapi berhubung yang besar itu sangat arogan Aku tertarik untuk mencurinya. Aku ingin tahu sampai mana kekuasaan dia berlaku."


Tak ada lagi yang bisa Zela lakukan selain diam dan pasrah saat melihat Gilbert dengan rakus menikmati mangga muda itu hingga tak tersisa lagi. Dalam hati dia membatin, semoga anaknya kelak tidak meniru Gilbert yang rakus.


*


Pagi ini Zela telah bersiap untuk berangkat ke kantor. Begitu juga dengan Gilbert yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya. seperti biasa Gilbert akan mengalami drama morning skicnees di pagi harinya. Bahkan saat ini Gilbert hanya serapan dengan salad, selain itu Gilbert tidak mau.


"Ze, aku tidak mengizinkanmu untuk naik taksi! Kau istriku dan kau juga sedang hamil anakku. Mana mungkin aku membiarkanmu berjalan seorang diri padahal kita satu kantor."


Zela yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya tak peduli dengan ucapan Gilbert. Dia hanya ingin menghindari gosip miring yang ada di kantornya.


"Aku tidak akan naik taksi, tapi aku akan diantar oleh supir. Kemarin aku sudah minta izin dengan Oma. Oma pun tak keberatan," jelas Zela.


"Tapi aku yang keberatan! Suamimu itu aku bukan Oma!"


"Tapi Oma adalah kunci segalanya. Jika kau tidak terima, silahkan kau memprotes Oma."


Zela berlalu begitu saja tanpa peduli dengan Gilbert yang masih membeku.

__ADS_1


...~Bersambung~...


__ADS_2