
Semua usaha beserta anak buah telah dikerahkan untuk mencari keberadaan Zela. Dari pantauan cctv memperlihatkan jika ada seseorang yang telah membawa Zela keluar dari kantor. Tak bisa dipastikan siapa pelakunya karena wajahnya ditutupi oleh topi dan masker. Gilbert juga mengecek setiap titik darimana sosok itu masuk. Namun, tak ada satupun cctv yang merekam pelaku penculikan terhadap Zela.
"Kimi, pastikan berita ini tidak sampai ke telinga Oma. Aku takut jika penyakit Oma akan kambuh jika mendengar hilangnya Zela."
Kimi mengangguk pelan. Dia juga sudah menyebar orang-orangnya untuk mencari dimana keberadaan Zela saat ini. Kimi sangat mengkhawatirkan bayi sang pewaris. Dia tidak tahu langkah apa yang akan diambil oleh Gilbert jika sampai terjadi kepada calon anaknya.
Dalam kesunyian malam, Gilbert terus mencari keberadaan Zela, sampai di ujung terkecil sekalipun. Sepanjang perjalanan Gilbert terus mengepakkan tangannya. Dia tidak akan memberi ampun pada orang yang telah berani menyentuh Zela, bahkan berani menculiknya.
"Kimi, coba kau tanya pada Rena apakah Zela mempunyai musuh!"
Kimi mengangguk pelan dan segera menghubungi Rena. Menurut penuturan Rena, sahabatnya itu tidak mempunyai musuh karena memang Zela tidak banyak mempunyai teman. Bisa dibilang hanya dialah teman satu-satunya yang dimiliki oleh Zela.
Pikiran Gilbert langsung menuju pada sosok Monica yang siang tadi mendatangi kantornya. Bisa jadi semua ini adalah ulah Monica. Sebab selama ini semua baik-baik saja.
"Kita ke tempat Monica sekarang!" perintah Gilbert dengan serius.
Kimi yang mengemudi hanya bisa mengernyit saat mendengarkan perintah Gilbert. Kimi tidak tahu saat ini Monica berada dimana karena selama ini Monica tinggal di luar negeri.
"Tapi aku tidak tahu dimana Monica berada, Gil."
"Cari sampai dapat!"
***
Sementara itu, di dalam sebuah ruangan yang gelap, Zela hanya bisa menangis seorang diri. Sedari tadi perutnya sudah melilit. Namun, dia tetap mencoba untuk tetap kuat.
Sampai saat ini Zela tidak tahu apa motif dari penculikan ini dan apa yang dia inginkan. Selama ini Zela merasa tidak mempunyai musuh. Jika pun ada pasti hanya orang-orang yang ingin menyingkirkan dirinya. Zela mencoba menepis jika ini semua adalah ulah dari pamannya. Tidak mungkin pamannya akan berkeliaran di perusahaan milik Gilbert. Zela sudah yakin jika pelakunya hanya orang dalam.
Seklebat ingatan Zela merekam setiap perbuatkan Selly kepada dirinya. Mungkinkah Selly pelakunya? Atau Monica ingin kembali kepada Gilbert. Pikiran Zela tak hentinya untuk memikirkan siapa pelakunya.
__ADS_1
"Gil, kau dimana? Perutku sakit." Zela merintih sambil menahan rasa sakit yang sedang meremas perutnya.
"Ya Tuhan ... kaulah pemilik nyawa ini. Ku mohon, tetap jaga bayi yang telah Kau titipkan kepadaku. Aku tidak ingin ingin terjadi sesuatu pada bayi ini. Biarkan aku yang menanggung rasa sakit ini, tapi lindungilah dia."
Zela hanya bisa menitihkan air matanya dalam kesunyian malam. Dia berusaha untuk melepaskan ikatan tali yang mengikat tangan dan kakinya.
Mata Zela mengedar, barang kali ada sesuatu yang bisa membantunya untuk melepaskan ikatan. Namun, sayangnya tak ada suatu pun benda yang berguna di sampingnya.
"Gil ... ku mohon, datanglah. Selamatkan anak kita."
***
Gilbert menggebrak mejanya saat anak buah tak mendapatkan kabar tentang keberadaan Zela. Dengan mata yang menyala, Gilbert meninggalkan kantor untuk mencari sendiri keberadaan Zela saat ini.
"Gil, mau kemana? Sebentar lagi kita akan rapat," cegah Kimi yang melihat Gilbert meninggalkan ruangannya.
"Kau saja yang menangani rapat itu! Jika tidak bisa maka cancel saja!"
Gilbert tak mendengarkan lagi ucapan Kimi. Saat ini hanya satu tujuan yaitu mencari dimana keberadaan Zela.
Semelir angin membawa kabar tentang Zela yang di culik. Sebagian karyawan merasa iba atas apa yang sedang menimpa Zela. Bagaimana mungkin wanita kesayangan big bosnya ada yang berani menculik, apalagi saat dirinya masih berada di lingkungan perusahaan.
"Aku yakin jika pelaku penculikan Zela adalah orang dalam. Sebab, orang luar tidak akan bisa masuk kesini, terapi itu berada di lantai atas."
"Benar. Lalu siapa pelakunya?"
Selly yang duduk di meja kerjanya merasa sangat gugup saat semua mata tertuju ke arahnya.
"Kalian kenapa melihatku seperti itu? Apa kalian pikir aku adalah pelaku penculikan Zela?" tanya Selly meskipun tak ada satupun orang yang memberikan tuduhan kepadanya.
__ADS_1
"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu kepada kami? Bahkan kami tidak ada menuduh mu, Selly," tegur salah seorang rekan kerjanya.
"Atau jangan-jangan emang kau ada di balik penculikan itu?" celoteh temannya lagi.
"Jaga mulut kalian! Jangan sembarangan kalian menuduhku tanpa bukti. Aku sama sekali tidak terlibat dalam penculikan Zela." Selly berusaha untuk menelan kasar ludahnya.
Saat ini dia takut jika semua orang akan menuduh dirinya dalang dibalik penculikan Zela.
Kimi yang berdiri tidak jauh dari tempat mereka, bisa mendengar dengan jelas apa yang sedang diperbincangkan oleh para karyawan. Kimi mencerna dengan baik apa yang dia. Ada benarnya juga jika dia mencurigai Selly, karena hanya dia satu-satunya wanita yang tidak menyukai kehadiran Zela selama ini.
Tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi, akhirnya kimi memutuskan untuk memanggil Selly ke ruangannya. Dia harus tahu apakah Selly memang benar-benar terlibat dalam penculikan Zela atau tidak.
"Maaf Nona Kimi, ada urusan apa kau memanggilku?" tanya Selly dengan wajah yang sudah merah padam.
Selly terdiam. Dia mengamati wajah Selly dengan teliti. Tidak sulit bagi Kimi untuk menebak gesture tubuh seseorang. Kimi merasakan jika saat ini Selly sedang gugup.
"Duduklah. Aku ingin memberikan sebuah proyek untuk." Kimi menyadarkan sebuah map kepada Selly.
"Ini adalah proyek di luar kota yang sudah terbengkalai selama beberapa bulan terakhir. Aku tidak tahu apa alasannya apa. Jadi untuk itu aku memintamu untuk menyelidiki proyek ini. Bagaimana, apakah kau sanggup?"
Dengan wajah yang mengembang luas, Selly mengangguk untuk menyanggupi pekerjaan yang diberikan oleh Kimi.
"Dengan senang hati aku akan menyelidiki proyek ini."
Mata Kimi masih menatap Selly. "Tapi sebelum itu katakan terlebih dahulu, dimana kau sembunyikan Zela!"
Jantung Selly berdebar tak karuan saat Kimi juga menuduh jika dirinya adalah pelaku penculikan Zela.
Kepala Selly menggeleng pelan. "Apakah kau juga berpikir sama seperti mereka yang juga akan menuduhku bahwa akulah pelaku penculikan Zela. Nona Kimi, meskipun aku tidak menyukai kalian Zela, tetapi aku tidak akan berani untuk menculiknya. Untuk apa?"
__ADS_1
"Aku tidak tahu apakah kau benar-benar jujur atau tidak. Untuk saat ini kau tidak boleh pergi ke mana-mana sebelum kau menjelaskan semua ini tuan Gilbert. Mengerti kau!"