Ranjang Big Bos

Ranjang Big Bos
RBB 22 | Terbakar Api Cemburu


__ADS_3

Braakk


Suara pintu didobrak seseorang dari luar. Beberapa pria berbaju serba hitam telah berdiri diambang pintu. Derap langkah begitu nyaring. Ketiga orang yang baru saja Ingin duduk terpaksa mengurungkan niatnya dengan degup jantung yang berdebar hebat. Apalagi Rena dan Zela yang saling berpegang. Keduanya takut jika ini adalah sebagian dari rencana Jack. Belum juga Jack memprotes, seorang pria datang dan


"Jack, apa yang sebenarnya kau rencanakan?" todong Rena.


Jack yang tidak tahu itu pasukan siapa segera menyangkal. Untuk apa Jack menyewa pria menyeramkan seperti mereka yang pasti memerlukan bayaran yang itu.


"Jangan asal bicara kau! Aku sendiri juga tidak tahu mereka siap."


Derap langkah terdengar semakin dekat dan muncullah sosok Gilbert dengan pandangan tajam mengarah pada Zela yang berada disamping Rena.


"Berani sekali kau membohongiku, terlebih kau mendatangi tempat ini. Pulang atau aku seret!"


Degup jantung Zela bergejolak lebih kuat. Rasanya ingin terlepas begitu saja.


Jack merasa tidak terima akan ucapan Gilbert. "Kau siapa? Berani sekali kau mengacaukan acaraku. Jangan mentang-mentang kau orang terpandang," sinis Jack.


Gilbert tertawa kecil. "Kau ingin tahu aku siapa? Tanyakan pada mantan kekasihmu."


Jack melirik kearah Zela yang merasa sedikit ketakutan. "Kau mengenalnya?"


Zela mengangguk. "Iya. Dia calon suamiku."


"Apa?" Bukan Jack yang terkejut, melakukan Rena. Bagaimana bisa sahabat serius ingin menikah dengan buaya hidung belang, colok sana, colok sini.


"Ze! Pikiran dua kali! Dia bukan pria baik! Apakah kau tak mengingat apa yang pernah aku ceritakan! Ze, sadar!"


"Sudah. Sekarang aku ingin memberi pelajaran kepada calon istriku. Kau ingin aku melakukan disini atau di rumah?"

__ADS_1


Dengan kasar Zela menyambar tangan Gilbert untuk keluar. Sepeninggal keduanya, para bodyguard pun turut mengikutinya.


Gilbert tak melawan saat Zela membawanya menuruni anak tangga. Tepat di lantai bawah, kedua sudah ditunggu oleh madam Re, yang sudah lama menunggu kedatangan Gilbert.


"Selamat malam Tuan Gilbert. Lama tak pernah jumpa. Apakah anda sudah memiliki tempat yang baru. Oh iya, disini ada barang yang masih segel apakah anda ingin memakainya malam ini?"


Dada Zela mendadak terasa sangat sakit. Meskipun sejak awal dia tahu seperti apa Gilbert, pencinta wanita malam. Entah mengapa Zela merasa sangat tidak terima jika Gilbert menyentuh wanita lain. Hati Zela benar-benar perih.


Zela melepas tangan Gilbert dan berlari keluar. Sudah pasti Gilbert akan memilih wanita malam itu dari pada pergi bersama dirinya. Zela seakan sadar siapa dia dan siapa Gilbert.


Bodoh ... aku hanya wanita bodoh yang terlalu bermimpi tinggi tanpa sadar seperti apa kenyataan yang sebenarnya.


Zela berlari jauh meninggalkan tempat yang sempat dia sebut dengan neraka. Setelah ini tak ada lagi yang akan peduli kepada dirinya. Bahkan Gilbert sekalipun.


Sebuah mobil melaju kencang dan berhenti tepat didepan Zela, membuat Zela sangat terkejut. "Masuk!" serunya.


Zela menautkan alisnya lalu mencari-cari wanita lain di dalam mobil Gilbert.


Zela kemudian masuk kedalam mobil yang dikemudikan dengan penuh amarah. Bahkan Zela sendiri sudah pasrah jika ini adalah malam terakhir untuk bernapas.


Tak ada sepatah kata yang terucap dari bibir keduanya. Mereka sama-sama membisu dan sibuk dengan pemikiran sendiri. Hingga mobil itu telah terparkir di halaman rumah milik Gilbert.


Tanpa kata, Gilbert segera menggendong paksa Zela. "Gil lepaskan! Kau kenapa?" Zela memberontak, berharap Gilbert segera menurunkan dirinya. Namun, Gilbert tetap diam.


Para pelayan merasa sangat terkejut. Mereka sudah bisa menebak jika saat ini tuan mereka sedang marah.


Sesampainya di dalam kamar, Gilbert membuang tubuh Zela ke sebuah ranjang yang berukuran besar. Dengan mata yang menyala-nyala, Gilbert melepaskan pakaian satu persatu hingga menyisahkan celananya saja.


Zela yang ada diatas tempat tidur merasa sangat ketakutan. Apakah Gilbert akan melakukan untuk yang kedua kalinya.

__ADS_1


"Bukankah sudah ku katakan jika aku tidak suka kebohongan?" Gilbert segera menindih tubuh Zela dengan mengunci kedua tangannya.


"Maksudmu apa?" Zela berusaha untuk memberontak.


"Kenapa kau berbohong? Kau bilang ingin makan malam bersama dengan Rena, tetapi kau malah pergi ketempat terkutuk itu untuk bertemu dengan pria lain. Jika aku tidak datang, apakah kau ingin menghabiskan malam bersama dengan pria itu?"


"Gil lepaskan. Sakit!"


"Bukankah ini yang kau inginkan. Jika hanya untuk memberikan kepuasan, tak perlu kau sampai pergi ke tempat terkutuk itu! Aku bisa memuaskanmu dengan hebat."


"Gil, tolong tenangkan dirimu. Kita bicara baik-baik, oke."


Gilbert menatap bola mata Zela yang penuh kesungguhan. Seketika dia menyadari apa yang telah dia lakukan. Beruntung saja kali ini Gilbert tidak lepas kendali.


Zela bernapas lega saat Gilbert mau mendengarkan permintaan. Dengan sisa ketakutan, Zela duduk ditepian ranjang sejajar dengan Gilbert.


"Aku tau aku salah sudah membohongimu. Tapi jika aku jujur, apakah kau akan memberikan ijin? pasti tidak kan?"


"Sudah tahu jawabnya, masih nekad pergi," sambung Gilbert ketus.


"Gil, bukanlah dalam poin ada pasal yang mengatakan jika kita tidak boleh ikut campur dalam urusan pribadi masing-maisng?"


"Tapi aku tidak suka jika kau menemui pria lain secara sembunyi-sembunyi," ujar Gilbert.


Dengan alis yang menaut Zela berkata, "Jadi aku boleh menemuiku pria lain jika ijin terlebih dahulu?"


"Tidak!" jawab Gilbert cepat.


"Gil, ingat. Jikalau kita menikah itu hanya sebatas kontrak, tidak lebih. Jika kau tak mengizinkan ku untuk dekat dengan pria lain, bagaimana nasibku kelak setelah kau buang? Aku butuh hidup normal dan bahagia bersama dengan pasanganku kelak. Namun, jika kau terus melarang ku, kelak aku akan menjadi janda abadi."

__ADS_1


"Kalau seperti itu aku tidak akan membuang mu," sahut Gilbert cepat.


"Apa kau bilang?" Berharap Zela sedang tidak salah dengar.


__ADS_2