Ranjang Big Bos

Ranjang Big Bos
RBB 32 | Kerbau Rakus


__ADS_3

Alunan sebuah biola terdengar sangat syahdu. Para tamu undangan hanyut dalam nuansa romantis malam ini. Sebuah jamuan mewah diatas kapal pesiar. Bibir Oma tak hentinya mengembangkan senyumnya, dia tahu jika memilih Zela sebagai pendamping Gilbert adalah pilihan yang tepat. Meskipun saat ini belum tumbuh rasa cinta, tetapi seiring berjalannya waktu cinta itu akan datang dengan sendirinya. Apalagi saat ini ada darah daging Gilbert yang sedang berkembang di rahim Zela.


Mata Zela tak hentinya merasa takjub atas apa yang ada di depannya saat ini. Berada didalam kapal pesiar tak pernah terbayangkan dalam hidupnya, tetapi malam hari ini dia berdiri di atas kapal pesiar dengan sebagai pusat perhatian.


"Apakah kau puas?" bisik Gilbert pelan.


Bohong jika tidak merasa senang puas. Zela hanya mengangguk pelan dan tetap melangkah kedepan.


"Tuhan jika saat ini aku sedang terbang tinggi, tolong jangan kau jatuhkan aku begitu saja. Aku tidak ingin jatuh. Aku ingin mempunyai sayap yang kekal. Bisakah Kau selalu menyertai langkahku?"


Gilbert yang duduk didepan Zela tak hentinya untuk menatap wanita yang saat ini telah resmi menjadi istrinya. Garis bibirnya juga tak hentinya untuk terus tersenyum.


"Ada yang salah?" Zela ikut memperhatikan tubuhnya. Gaun hitam tanpa lengan yang menurutnya memang sedikit terbuka. "Apakah gaun ini terlalu terbuka?"


"Tidak. Kamu sangat cocok mengenakkan guan itu. Dadamu yang besar membuat mataku tak ingin berpaling melihat yang lain."


Tangan Zela segera menyilang kedepan dada. Wajahnya sudah memerah akibat merasa malu dengan ucapan Gilbert. "Kau jangan kurang ajar! Meskipun kita sudah menikah, tapi kau juga harus ingat ini hanya pernikahan palsu!"


"Sudahlah, malam penuh bahagia ini jangan membahas yang lainya. Mari kita berdansa." Tangan Gilbert terulur untuk mendapatkan sambutan dari tangan Zela. Tanpa disadari oleh Zela, semua mata menatapnya dan bersorak untuk menerimanya. Karen Zela tak ingin mempermalukan Gilbert, akhirnya Zela mengulurkan tangannya untuk digenggam oleh Gilbert. Sebelum maju, Gilbert menyempatkan untuk mencium tangan Zela yang di ikuti dengan tepuk tangan yang meriah.


Irama melodi mengiringi gerakan keduanya untuk berdansa, tetapi Gilbert merasa ada yang janggal.

__ADS_1


"Apakah kau tak bisa berdansa?" bisik Gilbert tepat ditelinga Zela. Dengan anggukan kecil Zela mengiyakan pertanyaan Gilbert.


"Ya Tuhan ... kau ini manusia zaman apa? Berdansa saja kau tidak bisa. Asalkan kau tahu, semua wanita di Negara ini para wanita rata-rata pandai berdandan, karena mereka sangat ingin menjadi istri para kaisar dan kau ....?"


"Aku tidak berniat untuk menjadi istri seorang Kaisar, karena pada kenyataannya mereka akan memiliki istri lebih dari satu dan aku menyukai hal itu."


"Baguslah jika kau tidak tertarik dengan para bangsawan dan kaisar. Jika kau sampai berani memikirkan para bangsawan dan kaisar itu, maka aku akan segera mencuci otakmu menggunakan pemutih pakaian. Selamanya kau harus memikirkan aku!"


Meskipun Zela taj bisa berdansa, tetapi dia tetap berusaha untuk maju mundur. Lama kelamaan irama biola semakin syahdu dan memancing para tamu untuk ikut melakukan dansa. Menyadari jika bukan hanya mereka berdua saja yang melakukan dansa, Gilbert segera menarik tangan Zela untuk keluar dari para tamu yang sedang beransa.


"Kita mau kemana?" tanya Zela saat Gilbert terus menuntutnya untuk turun.


"Munafik! Bukankah di club malam itu juga ramai?" cibir Zela.


Sesaat kemudian langkah Gilbert terhenti dangan hembusan napas panjangnya.


"Bukankah sudah ku katakan jangan membahas masalah lainnya di malam ini? Jika kau masih saja membahas masalah lain, maka aku tidak akan segan-segan untuk membuatmu tak berdaya. Kau mengerti?"


****


Tidak ada yang spesial dari malam pertama pernikahan Gilbert dan Zela. Gilbert hanya mengajak Zela kabur untuk menikmati salad yang telah dia pesan kepada seorang koki beberapa jam sebelum acara dimulai. Berhubung Gilbert tidak ingin mengecewakan para tamu yang hadir, Gilbert melakukan dansa sebagai rasa penghormatannya kepada para tamu. Namun, saat Gilbert menyadari semua orang telah hanyut, disitulah kesempatan Gilbert untuk kabur.

__ADS_1


Sudah hampir tengah malam Gilbert belum juga selesai untuk menghabiskan saladnya, padahal mata Zela sudah lengket. Gilbert kayaknya seorang gelandang yang sangat kelaparan. Dia terlihat rakus saat menyantap saladnya, hingga membuat Zela bergidik negeri.


"Apakah masih lama?" tanya Zela dengan mata yang hampir memejam.


"Tidak. Hanya tinggal dua piring lagi," jelas Gilbert. "Awas saja jika kau sampai tidur duluan! Jika itu terjadi jangan salahkan aku jika aku akan menyentuhmu berkali-kali!" ancam Gilbert.


"Tapi aku sudah tak tahan, Gil. Tolong izinkan wku tidur. Sebentar saja," pinta Zela.


"Aku katakan tidak berarti tidak!"


Zela harus membuang kasar napasnya. Entah sampai kapan Gilbert akan selesai untuk menghabiskan saladnya.


"Ya Tuhan kenapa kau ciptakan kerbau yang begitu rakus seperti ini?" gerutu Zela dengan kesal.


Mata Gilbert langsung melotot saat mendengarkan ucapan Zela. "Kau bilang apa? Kau bilang aku kerbau rakus?" Alis Gilbert menaut.


"Lalu apa? Bukankah benar adanya?"


"Kau!" Tunjuk Gilbert pada Zela. Gilbert tidak terima jika dia dikatakan kerbau rakus. Gilbert pun juga tidak tahu mengapa akhir-akhir ini selera makannya bertambah banyak. Bahkan perutnya yang kotak-kotak hampir saja tertutup rata oleh lemak.


"Baiklah berhubungan kerbau rakus ini masih lapar, jangan salahkan jika kerbau rakus ini juga akan memakanmu malam ini." Gilbert tersenyum smirk sambil memikirkan rencananya.

__ADS_1


__ADS_2